
Raja
Fir'aun yang memerintah Mesir sekitar kelahirannya Nabi Musa, adalah
seorang raja yang zalim, kejam dan tidak berperikemanusiaan. Ia
memerintah negaranya dengan kekerasan, penindasan dan melakukan sesuatu
dengan sewenang-wenangnya. Rakyatnya hidup dalam ketakutan dan rasa
tidak aman tentang jiwa dan harta benda mereka, terutama Bani Isra'il
yang menjadi hamba kekejaman, kezaliman dan bertindak
sewenang-wenangnya dari raja dan orang-orangnya. Mereka merasa tidak
tenteram dan selalu dalam keadaan gelisah, walau pun berada dalam rumah
mereka sendiri. Mereka tidak berani mengangkat kepala bila berhadapan
dengan seorang hamba raja dan berdebar hati mereka karena ketakutan
bila kedengaran suara pegawai-pegawai kerajaan lalu di sekitar rumah
mrk, apalagi bunyi kasut mrk sudah terdengar di depan pintu.
Raja Fir'aun yang sedang mabuk kuasa yang tidak terbatas itu,
bergelimpangan dalam kenikmatan dan kesenangan duniawi yang tiada
taranya, bahkan mengumumkan dirinya sebagai tuhan yang harus disembah
oleh rakyatnya. Pd suatu hari beliau telah terkejut oleh ramalan oleh
seorang ahli nujum kerajaan yang dengan tiba-tiba dtg menghadap raja
dan memberitahu bahwa menurut firasatnya falaknya, seorang bayi lelaki
akan dilahirkan dari kalangan Bani Isra'il yang kelak akan menjadi
musuh kerajaan dan bahkan akan membinasakannya.
Raja Fir'aun segera mengeluarkan perintah agar semua bayi lelaki yang
dilahirkan di dalam lingkungan kerajaan Mesir dibunuh dan agar
diadakan pengusutan yang teliti sehingga tiada seorang pun dari bayi
lelaki, tanpa terkecuali, terhindar dari tindakan itu. Maka
dilaksanakanlah perintah raja oleh para pengawal dan tenteranya.
Setiap rumah dimasuki dan diselidiki dan setiap perempuan hamil
menjadi perhatian mereka pada saat melahirkan bayinya.
Raja Fir'aun menjadi tenang kembali dan merasa aman tentang kekebalan
kerajaannya setelah mendengar para anggota kerajaannya, bahwa wilayah
kerajaannya telah menjadi bersih dan tidak seorang pun dari bayi
laki-laki yang masih hidup. Ia tidak mengetahui bahwa kehendak Allah
tidak dpt dibendung dan bahwa takdirnya bila sudah difirman "Kun"
pasti akan wujud dan menjadi kenyataan "Fayakun". Tidak sesuatu
kekuasaan bagaimana pun besarnya dan kekuatan bagaimana hebatnya dapat
menghalangi atau mengagalkannya.
Raja Fir'aun sesekali tidak terlintas dalam fikirannya yang kejam dan
zalim itu bahwa kerajaannya yang megah, menurut apa yang telah
tersirat dalam Lauhul Mahfudz, akan ditumbangkan oleh seorang bayi
yang justeru diasuh dan dibesarkan di dalam istananya sendiri akan
diwarisi kelak oleh umat Bani Isra'il yang dimusuhi, dihina, ditindas
dan disekat kebebasannya. Bayi asuhnya itu ialah laksana bunga mawar
yang tumbuh di antara duri-duri yang tajam atau laksana fajar yang
timbul menyingsing dari tengah kegelapan yang mencekam.
Yukabad, isteri Imron bin Qahat bin Lawi bin Ya'qub sedang duduk
seorang diri di salah satu sudut rumahnya menanti dtgnya seorang bidan
yang akan memberi pertolongan kepadanya melahirkan bayi dari dalam
kandungannya itu.
Bidan dtg dan lahirlah bayi yang telah dikandungnya selama sembilan
bulan dalam keadaan selamat, segar dan sihat afiat. Dengan lahirnya
bayi itu, maka hilanglah rasa sakit yang luar biasa dirasai oleh setiap
perempuan yang melahirkan namun setelah diketahui oleh Yukabad bahwa
bayinya adalah lelaki maka ia merasa takut kembali. Ia merasa sedih
dan khuatir bahwa bayinya yang sgt disayangi itu akan dibunuh oleh
orang-orang Fir'aun. Ia mengharapkan agar bidan itu merahsiakan
kelahiran bayi itu dari sesiapa pun. Bidan yang merasa simpati
terhadap bayi yang lucu dan bagus itu serta merasa betapa sedih hati
seorang ibu yang akan kehilangan bayi yang baru dilahirkan memberi
kesanggupan dan berjanji akan merahsiakan kelahiran bayi itu.
Setelah bayi mencapai tiga bulan, Yukabad tidak merasa tenang dan
selalu berada dalam keadaan cemas dan khuatir terhadap keselamatan
bayinya. Allah memberi ilham kepadanya agar menyembunyikan bayinya di
dalam sebuah peti yang tertutup rapat, kemudian membiarkan peti yang
berisi bayinya itu terapung di atas sungai Nil. Yukabad tidak boleh
bersedih dan cemas ke atas keselamatan bayinya karena Allah menjamin
akan mengembalikan bayi itu kepadanya bahkan akan mengutuskannya
sebagai salah seorang rasul.
Dengan bertawakkal kepada Allah dan kepercayaan penuh terhadap jaminan
Illahi, mak dilepaskannya peti bayi oleh Yukabad, setelah ditutup
rapat dan dicat dengan warna hitam, terapung dipermukaan air sungai
Nil. Kakak Musa diperintahkan oleh ibunya untuk mengawasi dan
mengikuti peti rahsia itu agar diketahui di mana ia berlabuh dan
ditangan siapa akan jatuh peti yang mengandungi erti yang sgt besar
bagi perjalanan sejarah umat manusia.
Alangkah cemasnya hati kakak Musa, ketika melihat dari jauh bahwa peti
yang diawasi itu, dijumpai oleh puteri raja yang kebetulan berada di
tepi sungai Nil bersantai bersama beberapa dayangnya dan dibawanya
masuk ke dalam istana dan diserahkan kepada ibunya, isteri Fir'aun.
Yukabad yang segera diberitahu oleh anak perempuannya tentang nasib
peti itu, menjadi kosonglah hatinya karena sedih dan cepat serta
hampir saja membuka rahsia peti itu, andai kata Allah tidak meneguhkan
hatinya dan menguatkan hanya kepada jaminan Allah yang telah
dinerikan kepadanya.
Raja Fir'aun ketika diberitahu oleh Aisah, isterinya, tentang bayi
laki-laki yang ditemui di dalam peti yang terapung di atas permukaan
sungai Nil, segera memerintahkan membunuh bayi itu seraya berkata
kepada isterinya: "Aku khuatir bahwa inilah bayi yang diramalkan, yang
akan menjadi musuh dan penyebab kesedihan kami dan akan membinasakan
kerajaan kami y besar ini." Akan tetapi isteri Fir'aun yang sudah
terlanjur menaruh simpati dan sayang terhadap bayi yang lucu dan manis
itu, berkata kepada suaminya: "Janganlah bayi yang tidak berdosa ini
dibunuh. Aku sayang kepadanya dan lebih baik kami ambil dia sebagai
anak, kalau-kalau kelak ia akan berguna dan bermanfaat bagi kami.
Hatiku sgt tertarik kepadanya dan ia akan menjadi kesayanganku dan
kesayangmu". Demikianlah jika Allah Yang Maha Kuasa menghendaki
sesuatu maka dilincinkanlah jalan bagi terlaksananya takdir itu. Dan
selamatlah nyawa putera Yukabad yang telah ditakdirkan oleh Allah untuk
menjadi rasul-Nya, menyampaikan amanat wahyu-Nya kepada
hamba-hamba-Nya yang sudah sesat.
Nama Musa yang telah diberikan kepada bayi itu oleh keluarga Fir'aun,
bererti air dan pohon {Mu=air , Sa=pohon} sesuai dengan tempat
ditemukannya peti bayi itu. Didatangkanlah kemudian ke istana beberapa
inang untuk menjadi ibu susuan Musa. Akan tetapi setiap inang yang
mencuba dan memberi air susunya ditolak oleh bayi yang enggan menyedut
dari setiap tetk yang diletakkan ke bibirnya. Dalam keadaan isteri
Fir'aun lagi bingung memikirkan bayi pungutnya yang enggan menetek dari
sekian banyak inang yang didatangkan ke istana, datanglah kakak Musa
menawarkan seorang inang lain yang mungkin diterima oleh bayi itu.
Atas pertanyaan keluarga Fir'aun, kalau-kalau ia mengenal keluarga
bayi itu, berkatalah kakak Musa: "Aku tidak mengenal siapakah keluarga
dan ibu bayi ini. Hanya aku ingin menunjukkan satu keluarga yang baik
dan selalu rajin mengasuh anak, kalau-kalau bayi itu dpt menerima air
susu ibu keluarga itu".
Anjuran kakak Musa diterima oleh isteri Fir'aun dan seketika itu
jugalah dijemput ibu kandung Musa sebagai inang bayaran. Maka begitu
bibir sang bayi menyentuh tetek ibunya, disedutlah air susu ibu
kandungnya itu dengan sgt lahapnya. Kemudian diserahkan Musa kepada
Yukabad ibunya, untuk diasuh selama masa menetek dengan imbalan upah
yang besar. Maka dengan demikian terlaksanalah janji Allah kepada
Yukabad bahwa ia akan menerima kembali puteranya itu.
Setelah selesai masa meneteknya, dikembalikan Musa oleh ibunya ke
istana, di mana ia di asuh, dibesar dan dididik sebagaimana anak-anak
raja yang lain. Ia mengenderai kenderaan Fir'aun dan berpakaian sesuai
dengan cara-cara Fir'aun berpakaian sehingga ia dikenal orang sebagai
Musa bin Fir'aun.
Bacalah tentang isi cerita di atas di dalam Al-Quran dari ayat 4 - 13 dalam surah "Al-Qashash" sebagai berikut :~
"4.~ Sesungguhnya Fir'aun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi
dan menjadikan penduduknya berpecah belah dengan menindas segolongan
dari mrk, menyembelih anak lelaki mrk dan membiarkan hidup anak-anak
perempuan mereka. Sesungguhnya Fir'aun termasuk orang-orang yang
berbuat kerusakan.5.~ Dan Kami hendak memberi kurnia kepada orang-orang
yang tertindas di bumi {Mesir} itu dan hendak menjadi mrk pemimpin
dan menjadikan mrk orang-orang yang mewarisi {bumi}.6.~ Dan Kami akan
teguhkan kedudukan mrk di muka bumi dan akan Kami perlihatkan kepada
Fir'aun dan Haman berserta tenteranya apa yang selalu mereka khuatirkan
dari mereka itu.7.~ Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa,"susukanlah
dia, dan apabila kamu khuatir terhadapnya, maka jatuhkan dia ke dalam
sungai {Nil}. Dan janganlah kamu khuatir dan janganlah pula bersedih
hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan
menjadikannya {salah seorang} dari para rasul.8.~ Maka pungutlah ia
oleh keluarga Fir'aun yang akibatnya ia menjadi musuh dan kesedihan
bagi mereka. Sesungguhnya Fir'aun dan Haman berserta tenteranya adalah
orang-orang yang bersalah.9.~ Dan berkatalah isteri Fir'aun: "Ia
{Musa} biji mata bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya,
mudah-mudahan ia bermanfaat kepada kita atau kita ambil ia menjadi
anak," sedang mrk tiada menyedari.10.~ Dan menjadi kekosongan hait ibu
Musa, seandainya Kami tidak teguhkan hatinya, spy ia termasuk
orang-orang yang percaya {kepada janji Allah}.11.~ Dan berkatalah ibu
Musa kepada saudara Musa yang perempuan: "Ikutilah dia". Maka
kelihatan olehnya Musa dari jauh, sedang mereka tidak
mengetahuinya.12.~ Dan Kami cegah Musa dari menyusu kepada
perempuan-perempuan yang nahu menyusukannya sebelum itu, maka
berkatalah saudara Musa: "Mahukah kamu aku tunjukkan kepada kamu
ahlul-bait yang akan memeliharakannya utkmu dan mrk dpt berlaku baik
kepadanya?"13.~ Maka Kami kembalikan Musa kepada ibunya supaya senang
hatinya dan tidak berduka cita dan supaya ia mengetahui bahwa janji
Allah itu adalah benar, tetapi manusia kebanyakan tidak mengetahuinya."
{ Al-Qashash : 4 ~ 13 }
Musa keluar dari Mesir
Sejak
ia dikembali ke istana oleh ibunya setelah disusui, Musa hidup
sebagai slah seorang drp keluarga kerajaan hingga mencapai usia
dewasanya, dimana ia memperolehi asuhan dan pendidikan sesuai dengan
tradisi istana. Allah mengurniakannya hikmah dan pengetahuan sebagai
persiapan tugas kenabian dan risalah yang diwahyukan kepadanya. Di
samping kesempurnaan dan kekuatan rohani, ia dikurniai oleh Allah
kesempurnaan tubuh dan kekuatan jasmani.
Musa mengetahui dan sedar bahwa ia hanya seorang anak pungut di istana
dan tidak setitik darah Fir'aun pun mengalir di dalam tubuhnya dan
bahwa ia adalah keturunan Bani Isra'il tg ditindas dan diperlakukan
sewenang-wenangnya oleh kaum Fir'aun. Karenanya ia berjanji kepada
dirinya akan menjadi pembela kepada kamunya yang tertindas dan menjadi
pelindung bagi golongan yang lemah yang menjadi sasaran kezaliman dan
keganasan para penguasa. Demikianlah maka terdorong oleh rasa setia
kawannya kepada orang-orang yang madhlum dan teraniaya, terjadilah
suatu peristiwa yang menyebabkan ia terpaksa meninggalkan istana dan
keluar dari Mesir.
Peristiwa itu terjadi ketika Musa sedang berjalan-jalan di sebuah
lorong di waktu tengahari di mana keadaan kota sunyi sepi ketika
penduduknya sedang tidur siang, Ia melihat kedua berkelahi seorang
dari golongan Bani Isra'il bernama Samiri dan seorang lagi dari kaum
Fir'aun bernama Fa'tun. Musa yang mendengar teriakan Samiri
mengharapkan akan pertolongannya terhadap musuhnya yang lebih kuat dan
lenih besar itu, segera melontarkan pukulan dan tumbukannya kepada
Fatun yang seketika itu jatuh rebah an menghembuskan nafasnya yang
terakhir.
Musa terkejut melihat Fatun, orang Fir'aun itu mati karena tumbukannya
yang tidak disengajakan dn tidak akan mengharapkan membunuhnya. Ia
merasa berdoa dan beristighfar kepada Allah memohon ampun diatas
perbuatannya yang tidak sengaja, telah melayang nyawa salah seorang
drp hamba-hamba-Nya.
Peristiwa matinya Fatun menjadi perbualan ramai dan menarik para
penguasa kerajaan yang menduga bahwa pasti orang-orang Isra'illah yang
melakukan perbunuhan itu. Mereka menuntut agar pelakunya diberi
hukuman yang berat , bila ia tertangkap.
Anggota dan pasukan keamanan negara di hantarkan ke seluruh pelusuk
kota mencari jejak orang yang telah membunuh Fatun, yang sebenarnya
hanya diketahui oleh Samiri dan Musa shj. akan tetapi, walaupun tidak
orang ketiga yang menyaksikan peristiwa itu, Musa merasa cemas dan
takut dan berada dalam keadaan bersedia menghadapi akibat perbuatannya
itu bila sampai tercium oleh pihak penguasa.
Alangkah malangnya nasib Musa yang sudah cukup berhati-hati
menghindari kemungkinan terbongkarnya rahsia pembunuhan yang ia
lakukan tatkala ia terjebat lagi tanpa disengajakan dalam suatu
perbuatan yang menyebabkan namanya disebut-sebut sebagai pembunuh yang
dicari. Musa bertemu lagi dengan Samiri yang telah ditolongnya melawan
Fatun, juga dalam keadaan berkelahi untuk kali keduanya dengan salah
seorang dari kaum Fir'aun. Melihat Musa berteriaklah Samiri meminta
pertolongannya. Musa menghampiri mereka yang sedang berkelahi seraya
berkata menegur Samiri: " Sesungguhnya engkau adalah seorang yang
telah sesat."
Samiri menyangkal bahwa Musa akan membunuhnya ketika ia mendekatinya,
lalu berteriaklah Samiri berkata: "Apakah engkau hendak membunuhku
sebagaimana engkau telah membunuh seorang kelmarin? Rupanya engkau
hendak menjadi seorang yang sewenang-wenang di negeri ini dan bukan
orang yang mengadilkan kedamaian".
Kata-kata Samiri itu segera tertangkap orang-orang Fir'aun, yang
dengan cepat memberitahukannya kepada para penguasa yang memang sedang
mencari jejaknya. Maka berundinglah para pembesar dan penguasa Mesir,
yang akhirnya memutuskan untuk menangkap Musa dan membunuhnya sebagai
balasan terhadap matinya seorang dari kalangan kaum Fir'aun.
Selagi orang-orang Fir'aun mengatur rancangan penangkapan Musa,
seorang lelaki slah satu daripada sahabatnya datang dari hujung kota
memberitahukan kepadanya dan menasihatkan agar segera meninggalkan
Mesir, karena para penguasa Mesir telah memutuskan untuk membunuhnya
apabila ia ditangkap. lalu keluarlah Musa terburu-buru meninggalkan
Mesir, ssebelum anggota polis sempat menutup serta menyekat pintu-pintu
gerbangnya.
Tentang
isi cerita ini, terdapat dalam al-Quran yang dapat di baca di dalam
surah "Al-Qashshas" ayat 14 - 21 sebagaimana berikut :~
"14.~ Dan setelah Musa cukup umur dan sempurna akalnya, Kami
berikannya hikmah dan pengetahuan. Dan demikianlah Kami memberi
balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.15.~ Dan Musa masuk ke
kota {Memphis} ketika penduduknya sedang tidur, maka didapatinya di
dalam kota itu dua orang lelaki sedang bergaduh, yang seorangnya dari
golongannya {Bani Isra'il} dan seorang lagi dari musuhnya {Kaum
Fir'aun}. Maka orang dari golongannya meminta pertolongan kepadanya
untuk mengalahkan orang dari musuhnya, lalu Musa menumbuknya dan
matilah musuhnya itu. Musa berkta; "Ini adalah perbuatan syaitan,
sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang menyesatkan lagi nyata
{permusuhannya}.16.~ Musa berdoa: "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah
menganiaya diriku sendiri, karena itu ampunilah aku". Maka Allah
mengampuninya, sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Pengampun dan Maha
Penyayang.17.~ Musa berkata : "Ya Tuhanku demi nikmat Engkau
anugerahkan kepadaku, aku sesekali tiada akan menjadi penolong bagi
orang-orang yang berdosa".18.~ Karena itu jadilah Musa di kota itu
merasa takut menunggu dengan khuatir {akibat perbuatannya} maka
tiba-tiba orang yang meminta pertolongannya kelmarin berteriak meminta
pertolongan kepadanya. Musa berkata kepadanya: "Sesungguhnya kamu
benar-benar orang yang sesat, yang nyata {kesesatannya}.19.~ Maka
tatkala Musa hendak memegang dengan kuat orang yang menjadi musuh
keduanya, berkata {seorang drp mereka}: "Hai Musa apakah engkau
bermaksud hendak membunuhku, sebagaimana kamu kelmarin telah membunuh
seorang manusia? Kamu tidak bermaksud melainkan hendak menjadi orang
yang berbuat sewenang-wenang di negeri {ini}, dan tiadalah kamu
bermaksud menjadi salah seorang dari orang yang mengadakan
perdamaian".20.~ Dan datanglah seorang laki-laki dari hujung kota
bergegas-gegas, seraya berkata: "Hai Musa, sesungguhnya pembesar negeri
sedang berunding tentangmu, untuk membunuhmu oleh itu keluarlah {dari
kota ini}. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang memberi nasihat
kepadamu.21.~ Mak keluarlah Musa dari kota ini dengan rasa takut
menunggu-nunggu dengan khuatir. Dia berdoa: "Ya Tuhanku selamatkanlah
dari orang-orang yang zalim itu." { Al-Qashash : 14 ~ 21 }
Musa bertemu Jodoh di kota Madyan
Dengan
berdoa kepada Allah: "Ya Tuhanku selamatkanlah aku dari segala tipu
daya orang-orang yang zalim" keluarlah Nabi Musa dari kota Mesir
seorang diri, tiada pembantu selain inayahnya Allah tiada kawan selain
cahaya Allah dan tiada bekal kecuali bekal iman dan takwa kepada
Allah. Penghibur satu-satunya bagi hatinya yang sedih karena
meninggalkan tanahi airnya ialah bahwa ia telah diselamatkan oleh Allah
dari buruan kaum fir'aun yang ganas dan kejam itu.
Setelah menjalani perjalanan selama lapan hari lapan malam dengan
berkaki ayam {tidak berkasut} sampai terkupas kedua kulit tapak
kakinya, tibalah Musa di kota Madyan yaitu kota Nabi Syu'aib yang
terletak di timur jazirah Sinai dan teluk Aqabah di selatan Palestin.
Nabi Musa beristirehat di bawah sebuah pokok yang rendang bagi
menghilangkan rasa letihnya karena perjalanan yang jauh, berdiam
seorang diri karena nasibnya sebagai salah seorang bekas anggota
istana kerajaan yang menjadi seorang pelarian dan buruan. Ia tidak
tahu ke mana ia harus pergi dan kepada siapa ia harus bertamu, di
tempat di mana ia tidak mengenal dan dikenal orang, tiada sahabat dan
saudara. Dalam keadaan demikian terlihatlah olehnya sekumpulan
penggembala berdesak-desak mengelilingi sebuah sumber air bagi memberi
minum ternakannya masing-masing, sedang tidak jauh dari tempat sumber
air itu berdiri dua orang gadis yang menantikan giliran untuk memberi
minuman kepada ternakannya, jika para penggembala lelaki itu sudah
selesai dengan tugasnya.
Musa merasa kasihan melihat kepada dua orang gadis itu yang sedang
menanti lalu dihampirinya dan ditanya : "Gerangan apakah yang kamu
tunggu di sini?" Kedua gadis itu menjawab: "Kami hendak mengambil air
dan memberi minum ternakan kami namun kami tidak dapat berdesak dengan
lelaki yang masih berada di situ. Kami menunggu sehingga mereka
selesai memberi minum ternakan mereka. Kami harus lakukan sendiri
pekerjaan ini karena ayah kami sudah lanjut usianya dan tidak dapat
berdiri, jangan lagi datang ke mari". Lalu tanpa mengucapkan sepatah
kata dua pun diambilkannyalah timba kedua gadis itu oleh Musa dan
sejurus kemudian dikembalikannya kepada mrk setelah terisi air penuh
sedang sekeliling sumber air itu masih padat di keliling para
pengembala.
Setibanya kedua gadis itu di rumah berceritalah keduanya kepada ayah
mrk tentang pengalamannya dengan Nabi Musa yang karena pertolongannya
yangbtidak diminta itu mrk dapat lebih cepat kembali ke rumah drp
biasa. Ayah kedua gadis yang bernama Syu'aib itu tertarik dengan
cerita kedua puterinya. Ia ingin berkenalan dengan orang yang baik
hati itu yang telah memberi pertolongan tanpa diminta kepada kedua
puterinya dan sekaligus menytakan terimakasih kepadanya. Ia menyuruh
salah seorang dari puterinya itu pergi memanggilkan Musa dan
mengundangnya datang ke rumah.
Dengan malu-malu pergilah puteri Syu'aib menemui Musa yang masih
berada di bawah pohon yang masih melamun. Dalam keadaan letih dan lapar
Musa berdoa: "Ya Tuhanku aku sangat memerlukan belas kasihmu dan
memerlukan kebaikan sedikit brg makanan yang Engkau turunkan
kepadaku."
Berkatalah gadis itu kepada Musa memotong lamunannya: "Ayahku
mengharapkan kedatanganmu ke rumah untuk berkenalan dengan engkau
serta memberi engkau sekadar upah atas jasamu menolong kami
mendapatkan air bagi kami dan ternakan kami."
Musa sebagai perantau yang masih asing di negeri itu, tiada mengenal
dan dikenali orang tanpa berfikir panjang menerima undangan gadis itu
dengan senang hati. Ia lalu mengikuti gadis itu dari belakang menuju
ke rumah ayahnya yang bersedia menerimanya dengan penuh ramah-tamah,
hormat dan mengucapkan terimakasihnya.
Dalam berbincang-bincang dab bercakap-cakap dengan Syu'aib ayah kedua
gadis yang sudah lanjut usianya itu Musa mengisahkan kepadanya
peristiwa yang terjadi pd dirinya di Mesri sehingga terpaksa ia
melarikan diri dan keluar meninggalkan tanah airnya bagi mengelakkan
hukuman penyembelihan yang telah direncanakan oleh kaum Fir'aun
terhadap dirinya.
Berkata Syu'aib setelah mendengar kisah tamunya: "Engkau telah lepas
dari pengejaran dari orang-orang yang zalim dan ganas itu adalah
berkat rahmat Tuhan dan pertolongan-Nya. Dan engkau sudah berada di
sebuah tempat yang aman di rumah kami ini, di man engkau akan
tinggallah dengan tenang dan tenteram selama engkau suka."
Dalam pergaulan sehari-hari selama ia tinggal di rumah Syu'aib sebagai
tamu yang dihormati dan disegani Musa telah dapat menawan hati
keluarga tuan rumah yang merasa kagum akan keberaniannya,
kecerdasannya, kekuatan jasmaninya, perilakunya yang lemah lembut,
budi perkertinya yang halus serta akhlaknya yang luhur. Hal mana telah
menimbulkan idea di dalam hati salah seorang dari kedua puteri
Syu'aib untuk mempekerjakan Musa sebagai pembantu mereka. Berkatalah
gadis itu kepada ayahnya: "wahai ayah! Ajaklah Musa sebagai pembantu
kami menguruskan urusan rumahtangga dan penternakan kami. Ia adalah
seorang yang kuat badannya, luhur budi perkertinya, baik hatinya dan
boleh dipercayai."
Saranan gadis itu disepakati dan diterima baik oleh ayahnya yang
memang sudah menjadi pemikirannya sejak Musa tinggal bersamanya di
rumah, menunjukkan sikap bergaul yang manis perilaku yang hormat dab
sopan serta tangan yang ringan suka bekerja, suka menolong tanpa
diminta.
Diajaklah Musa berunding oleh Syu'aib dan berkatalah kepadanya: "Wahai
Musa! Tertarik oleh sikapmu yang manis dan cara pergaulanmu yang
sopan serta akhlak dan budi perkertimu yang luhur, selama engkau
berada di rumah ini kami dan mengingat akan usiaku yang makin hari
makin lanjut, maka aku ingin sekali mengambilmu sebagai menantu,
mengahwinkan engkau dengan salah seorang dari kedua gadisku ini. Jika
engkau dengan senang hati menerima tawaranku ini, maka sebagai
maskahwinnya, aku minta engkau bekerja sebagai pembantu kami selama
lapan tahun menguruskan penternakan kami dan soal-soal rumahtangga
yang memerlukan tenagamu. Dan aku sangat berterima kasih kepada mu
bila engkau secara suka rela mahu menambah dua tahun di atas lapan
tahun yang menjadi syarat mutlak itu."
Nabi Musa sebagai buruan yang lari dari tanah tumpah darahnya dan
berada di negeri orang sebagai perantau, tada sanak saudara, tiada
sahabat telah menerima tawaran Syu'aib iut sebagai kurniaan dari Tuhan
yang akan mengisi kekosongan hidupnya selaku seorang bujang yang
memerlukan teman hidup untuk menyekutunya menanggung beban penghidupan
dengan segala duka dan dukanya. Ia segera tanpa berfikir panjang
berkata kepada Syu'aib: "Aku merasa sgt bahagia, bahwa pakcik berkenan
menerimaku sebagai menantu, semuga aku tidak menghampakan harapan
pakcik yang telah berjasa kepada diriku sebagai tamu yang diterima
dengan penuh hormat dan ramah tamah, kemudian dijadikannya sebagai
menantu, suami kepada anak puterinya. Syarat kerja yang pakcik
kemukakan sebagai maskahwin, aku setujui dengan penuh tanggungjawab
dab dengan senang hati."
Setelah masa lapan tahun bekerja sebagai pembantu Syu'aib ditambah
dengan suka rela dilampaui oleh Musa, dikahwinkanlah ia dengan
puterinya yang bernama Shafura. Dan sebagai hadiah perkahwinan
diberinyalah pasangan penganti baru itu oleh Syu'aib beberapa ekor
kambing untuk dijadikan modal pertama bagi hidupnya yang baru sebagai
suami-isteri. Pemberian beberpa ekor kambing itu juga merupakan tanda
terimaksih Syu'aib kepada Musa yang selama ini di bawah pengurusannya,
penternakan Syu'aib menjadi berkembang biak dengan cepatnya dan
memberi hasil serta keuntungan yang berlipat ganda.
Bacalah
tentang isi cerita yang terurai ini di dalam ayat 22 sampai ayat 28,
surah "Al-Qashash" juz 20 yang berbunyi sebagai berikut :~
"22.~ Dan tatkala ia menghadap ke negeri Madyan, ia berdoa {lagi}:
"Mudah-mudahan Tuhanku menimpaiku ke jalan yang benar."23.~ Dan tatkala
ia sampai di sumber air di negeri Madyan, ia menjumpai di sana
sekumpulan orang yang sedang memberi minum {ternakannya} dan ia
menjumpai di belakang orang ramai itu, dua orang wanita yang sedang
menghambat ternakannya. Musa berkata: "Apakah maksudmu {dengan berbuat
begitu}?" Kedua wanita itu menjawab: "Kami tidak dapat meminumkan
{ternakan kami} sebelum pengembala-pengembala itu memulangkan
{ternakkannya} sedang bapa kami orang tua yang telah lanjut
umurnya."24.~ Maka Musa memberi minum ternakan itu {utk menolong}
keduanya, kemudian kembali ke tempat yang teduh, lalu berdoa: " Ya
Tuhanku! Sesungguhnya aku memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau
turunkan kepadaku."25.~ Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang
daripada kedua wanita itu dengan malu-malu ia berkata: "Sesungguhnya
bapaku memanggilmu agar ia memberi pembalasan {kebaikanmu} memberi
minum {ternakan} kami." Maka tatkala Musa mendatangi bapanya {Syu'aib}
dan menceritakan kepadanya cerita {mengenai dirinya}. Syu'aib berkata:
"Janganlah kamu takut, kamu telah selamat dari orang-orang yang zalim
itu."26.~ Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: "Ya bapaku,
ambil ia sebagai orang yang bekerja {dengan kita}. karena sesungguhnya
orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja {dengan kita}
ialah orang yang kuat lagi dpt dipercayai."27.~ Berkatalah dia
{Syu'aib}: " Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah
seorang dari kedua anakku ini, atas dasar bahwa kamu bekerja denganku
lapan tahun dan jika kamu cukupkan sepuluh tahun itu adalah dari
kemahuanmu, maka aku tidak mahu memberati kamu. Dan kamu insya-Allah
kelak akan mendapatiku termasuk orang-orang yang baik."28.~ Dia
berkata: "Itulah {perjanjian} antara aku dan kamu, mana saja dari kedua
waktu yang ditentukan itu aku sempurnakan, maka tidak ada tuntutan
tambahan atas diriku {lagi}. Dan Allah adalah saksi atas apa yang kita
ucapkan." { Al-Qashash : 22 ~ 28 }
Musa A.S. pulang ke Mesir dan menerima Wahyu
Sepuluh
tahun lebih Musa meninggalkan Mesir tanah airnya, sejak ia melarikan
diri dari buruan kaum Fir'aun. Suatu waktu yang cukup lama bagi
seseorang dpt bertahan menyimpan rasa rindunya kepada tanah air, tempat
tumpah darahnya , walaupun ia tidak pernah merasakan kebahagiaan
hidup di dalam tanah airnya sendiri. Apa lagi seorang seperti Musa
yang mempunyai kenang-kenangan hidup yang seronok dan indah selama ia
berada di tanah airnya sendiri selaku seorang dari keluarga kerajaan
yang megah dan mewah, maka wajarlah bila ia merindukan Mesir tanah
tumpah darahnya dan ingin pulang kembali setelah ia beristerikan
Shafura, puteri Syu'aib.
Bergegas-gegaslah Musa berserta isterinya mengemaskan barang dan
menyediakan kenderaan lalu meminta diri dari orang tuanya dan
bertolaklah menuju ke selatan menghindari jalan umum supaya tidak
diketahui oleh orang-orang Fir'aun yang masih mencarinya.
Setibanya di "Thur Sina" tersesatlah Musa kehilangan pedoman dan
bingung manakah yang harus ia tempuh. Dalam keadaan demikian
terlihatlah oleh dia sinar api yang nyala-nyala di atas lereng sebuah
bukit. Ia berhenti lalu lari ke jurusan api itu seraya berkata kepada
isterinya: "Tinggallah kamu disini menantiku. Aku pergi melihat api
yang menyala di atas bukit itu dan segera aku kembali. Mudah-mudahan
aku dapat membawa satu berita kepadamu dari tempat api itu atau
setidak-tidaknya membawa sesuluh api bagi menghangatkan badanmu yang
sedang menggigil kesejukan."
Tatkala Musa sampai ke tempat api itu terdengar oleh dia suara seruan
kepadanya datang dari sebatang pohon kayu di pinggir lembah yang
sebelah kanannya pada tempat yang diberkahi Allah. Suara seruan yang
didengar oleh Musa itu ialah: "Wahai Musa! Aku ini adalah Tuhanmu,
maka tanggalkanlah kedua terompahmu. Sesungguhnya kamu berada di
lembah yang suci Thuwa. Dan aku telah memilih kamu, maka dengarkanlah
apa yang akan diwahyukan kepadamu. Sesungguhnya aku ini adalah Allah
tiada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah solat untuk
mengingat akan Aku."
Itulah wahyu
yang pertama yang diterima langsung oleh Nabi Musa sebagai tanda
kenabiannya, di mana ia telah dinyatakan oleh Allah sebagai rasul dan
nabi-Nya yang dipilih Nabi Musa dalam kesempatan bercakap langsung
dengan allah di atas bukit Thur Sina itu telah diberi bekal oleh Allah
yang Maha Kuasa dua jenis mukjizat sebagai persiapan untuk menghadap
kaum Fir'aun yang sombong dan zalim itu.
Bertanyalah Allah kepada Musa: "Apakah itu yang engkau pegang dengan
tangan kananmu hai Musa!" Suatu pertanyaan yang mengadungi erti yang
lebih dalam dari apa yang sepintas lalu dapat ditangkap oleh Nabi Musa
dengan jawapannya yang sederhana. "Ini adalah tongkatku, aku
bertelekan pdnya dan aku pukul daun dengannya untuk makanan kambingku.
Selain itu aku dapat pula menggunakan tongkatku untuk
keperluan-keperluan lain yang penting bagiku."
Maksud dan erti dari pertanyaan Allah yang nampak sederhana itu baru
dimegertikan dan diselami oleh Musa setelah Allah memerintahkan
kepadanya agar meletakkan tongkat itu di atas tanah, lalu menjelmalah
menjadi seekor ular besar yang merayap dengan cepat sehingga
menjadikan Musa lari ketakutan. Allah berseru kepadanya: "Peganglah
ular itu dan jangan takut. Kami akan mengembalikannya kepada keadaan
asal."
Maka begitu ular yang sedang merayap itu ditangkap dan dipegang oleh
Musa, ia segera kembali menjadi tongkat yang ia terima dari Syu'aib,
mertuanya ketika ia bertolak dari Madyan.
Sebagai mukjizat yang kedua, Allah memerintahkan kepada Musa agar
mengepitkan tangannya ke ketiaknya yang nyata setelah dilakukannya
perintah itu, tangannya menjadi putih cemerlang tanpa cacat atau
penyakit.
Bacalah tentang isi cerita di atas dalam surah "Thaahaa" ayat 9 sehingga 23 juz 16 sebagai berikut :~
"9.~ Apakah telah sampai kepadamu kisah Musa? 10.~ Ketika itu melihat
api, lalu berkatalah ia kepada keluarganya: "Tinggallah kamu {di sini}
sesungguhnya aku melihat api, mudah-mudahan aku dapat membawa sedikit
daripadanya kepadamu atau aku akan mendapat petunjuk di tempat api
itu." 11.~ Mak ketika ia datang ke tempat api itu, ia dipanggil: "Hai
Musa, 12.~ Sesungguhnya Aku ini adalah Tuhanmu, maka tanggalkanlah
kedua terompahmu, sesungguhnya kamu berada di lembah yang suci Thuwa.
13.~ Dan aku telah memilih kamu, maka dengarkanlah apa yang akan
diwahyukan {kepadamu}. 14.~ Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak
ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah solat untuk
mengingati Aku. 15.~ Sesungguhnya hari kiamat itu akan datang. Aku
merahsiakan {waktunya} agar supaya tiap-tiap diri itu dibalas dengan
apa yang diusahakannya. 16.~ Maka sesekali janagnlah kamu dipalingkan
daripadanya oleh orang yang tidak beriman kepadanya dan oleh orang yang
mengikuti hawa nafsunya, yang menyebabkan kamu menjadi binasa." 17.~
Apakah itu yang ditangan kananmu, hai Musa?" 18.~ Berkata Musa: "Ini
adalah tongkatku, aku bertelekan padanya dan aku memukul {daun}
dengannya untuk kambingku dan bagiku ada lagi keperluan yang lain
padanya." 19.~ Allah berfirman: "Lemparkanlah ia, hai Musa!" 20.~ Lalu
dilemparkanlah tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang
merayap dengan cepat. 21.~ Allah berfirman: "Peganglah ia dan jangan
takut. Kami akan mengembalikannya kepada keadaan asalnya." 22.~ Dan
kepitkanlah tanganmu di ketiakmu, nescaya ia keluar menjadi putih
cemerlang tanpa cacat, sebagai mukjizat yang lain {pula}. 23.~ untuk
Kami perlihatkan kepadamu sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Kami
yang sangat besar." {Thaahaa : 9 ~ 23 }
Musa diperintahkan berdakwah kepada Fir'aun
Raja
Fir'aun yang telah berkuasa di Mesir telah lama menjalankan
pemerintahan yang zalim, kejam dan ganas. Rakyatnya yang terdiri dari
bangsa Egypt yang merupakan penduduk peribumi dan bangsa Isra'il yang
merupakan golongan pendatang, hidup dalam suasana penindasan, tidak
merasa aman bagi nyawa dan harta bendanya.
Tindakan sewenang-wenang dan pihak penguasa pemerintahan terutamanya
ditujukan kepada Bani Isra'il yang tidak diberinya kesempatan hidup
tenang dan tenteram. Mereka dikenakan kerja paksa dan diharuskan
membayar berbagai pungutan yang tidak dikenakan terhadap penduduk
bangsa Egypt, bangsa Fir'aun sendiri.
Selain kezaliman, kekejaman, penindasan dan pemerasan yang ditimpakan
oleh Fir'aun atas rakyatnya, terutama kaum Bani Isra'il. ia menyatakan
dirinya sebagai tuhan yang harus disembah dan dipuja. Dan dengan
demikian ia makin jauh membawa rakyatnya ke jalan yang sesat tanpa
pendoman tauhid dan iman, sehingga makin dalamlah mereka terjerumus ke
lembah kemaksiatan dan kerusakan moral dan akhlak.
Maka dalam kesempatan bercakap-cakap langsung di bukit Thur Sina itu
diperintahkanlah Musa oleh Allah untuk pergi ke Fir'aun sebagai
Rasul-Nya, mengajakkan beriman kepada Allah, menyedarkan dirinya bahwa
ia adalah makhluk Allah sebagaimana lain-lain rakyatnya, yang tidak
sepatutnya menuntut orang menyembahnya sebagi tuhan dan bahawa Tuhan
yang wajib disembah olehnya dan oleh semua manusia adalah Tuhan Yang
Maha Esa yang telah menciptakan alam semesta ini.
Nabi Musa dalam perjalanannya menuju kota Mesir setelah meninggalkan
Madyan, selalu dibayang oleh ketakutan kalau-kalua peristiwa
pembunuhan yang telah dilakukan sepuluh tahun yang lalu itu, belum
terlupakan dan masih belum hilang dari ingatan para pembesar kerajaan
Fir'aun. Ia tidak mengabaikan kemungkinan bahwa mrk akan melakukan
pembalasan terhadap perbuatan yang ia tidak sengaja itu dengan hukuman
pembunuhan atas dirinya bila ia sudah berada di tengah-tengah mereka.
Ia hanya terdorong rasa rindunya yang sangat kepada tanah tumpah
darahnya dengan memberanikan diri kembali ke Mesir tanpa memperdulikan
akibat yang mungkin akan dihadapi.
Jika pada waktu bertolak dari Madyan dan selama perjalannya ke Thur
Sina. Nabi Musa dibayangi dengan rasa takut akan pembalasan Fir'aun,
Maka dengan perintah Allah yang berfirman maksudnya :~
"Pergilah engkau ke Fir'aun, sesungguhnya ia telah melampaui batas,
segala bayangan itu dilempar jauh-jauh dari fikirannya dan bertekad
akan melaksanakan perintah Allah menghadapi Fir'aun apa pun akan
terjadi pada dirinya. Hanya untuk menenterankan hatinya berucaplah
Musa kepada Allah: "Aku telah membunuh seorang drp mereka , maka aku
khuatir mereka akan membalas membunuhku, berikanlah seorang pembantu
dari keluargaku sendiri, yaitu saudaraku Harun untuk menyertaiku dalam
melakukan tugasku meneguhkan hatiku dan menguatkan tekadku menghadapi
orang-orang kafir itu apalagi Harun saudaraku itu lebih petah
{lancar} lidahnya dan lebih cekap daripada diriku untuk berdebat dan
bermujadalah."
Allah berkenan mengabulkan permohonan Musa, maka digerakkanlah hati
Harun yang ketika itu masih berada di Mesir untuk pergi menemui Musa
mendampinginya dan bersama-sama pergilah mereka ke istana Fir'aun
dengan diiringi firman Allah: "Janganlah kamu berdua takut dan khuatir
akan disiksa oleh Fir'aun. Aku menyertai kamu berdua dan Aku mendengar
serta melihat dan mengetaui apa yang akan terjadi antara kamu dan
Fir'aun. Berdakwahlah kamu kepadanya dengan kata-kata yang lemah
lembut sedarkanlah ia dengan kesesatannya dan ajaklah ia beriman dan
bertauhid, meninggalkan kezalimannya dan kecongkakannya kalau-kalau
dengan sikap yang lemah lembut daripada kamu berdua ia akan ingat pada
kesesatan dirinya dan takut akan akibat kesombongan dan
kebonmgkakannya."
Bacalah
tentang isi cerita di atas di dalam ayat 33 sehingga ayat 35 surah
"Al-Qashash" dan ayat 42 sehingga ayat 47 surah "Thaha" sebagai berikut
:~
"33.~ Musa berkata: "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah membunuh
seseorang manusia dari golongan mereka, maka aku takut mereka akan
membunuhku, 34.~ dan saudaraku Harun dia lebih petah lidahnya drpku,
maka utuslah dia bersamaku sebagai pembantu untuk membenarkan
{perkataan} ku sesungguhnya aku khuatir mereka akan mendustakan aku."
35.~ Allah berfirman: "Kami akan membantumu dengan saudaramu dan Kami
berikan kepadamu kekuasaan yang besar, maka mereka tidak dapat
mencapaimu {berangkat kami berdua} dengan membawa mukjizat Kami, kamu
berdua dan orang yang mengikuti kamulah yang akan menang." {
Al-Qashash : 33 ~ 35 }
"42.~ Pergilah kamu berserta saudara kamu dengan membawa ayat-ayat-Ku
dan janganlah kamu berdua lalai dalam memngingat-Ku. 43.~ Pergilah kamu
berdua kepada Fir'aun, sesungguhnya dia telah melewati batas. 44.~
maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah
lembut, mudah-mudahan ia akan ingat atau takut" 45.~ Berkatalah mereka
berdua: "Ya Tuhan kami sesungguhnya kami khuatir bahwa ia segera
menyeksa kami atau akan bertambah melewati batas 46.~ allah berfirman:
"Janganlah kamu berdua khuatir, sesungguhnya Aku berserta kamu
berdua, Aku mendengar dan melihat". 47.~ Maka datanglah kamu berdua
kepadanya {Fir'aun} dan katakanlah: "Sesungguhnya kami berdua adalah
utusan Tuhanmu, maka lepaskanlah Bani Isra'il bersama kami dan
janganlah kamu menyeksa mereka. Sesungguhnya kami telah datang
kepadamu dengan membawa bukti {atas kerasulan kami} dari Tuhanmu. Dan
keselamatan itu dilimpahkan kepada orang yang mengikuti petunjuk." {
Thaha : 42 ~ 47 }
Mujadalah (dialog) antara Musa dengan Fir'aun
Diperolehi
kesempatan oleh Musa dan Harun, menemui raja Fir'aun yang menyatakan
dirinya sebagai tuhan itu, setelah menempuh beberapa rintangan yang
lazim dilampaui oleh orang yang ingin bertemu dengan raja pd waktu itu.
Pertemuan Musa dan Harun dengan Fir'aun dihadiri pula oleh beberapa
anggota pemerintahan dan para penasihatnya.
Bertanya Fir'aun kepada mereka berdua:: "Siapakah kamu berdua ini?"
Musa menjawab: "Kami, Musa dan Harun adalah pesuruh Allah kepadamu agar
engkau membebaskan Bani Isra'il dari perhambaan dan penindasanmu dan
menyerahkan meeka kepada kami agar menyebah kepada Allah dengan
leluasa dan menghindari seksaanmu."
Fir'aun yang segera mengenal Musa berkata kepadanya: "Bukankah engkau
adalah Musa yang telah kami mengasuhmu sejak masa bayimu dan tinggal
bersama kami dalam istana sampai mencapai usia remajamu, mendapat
pendidikan dan pengajaran yang menjadikan engkau pandai? Dan bukankah
engkau yang melakukan pembunuhan terhadap diriseorang drp golongan
kami? Sudahkah engkau lupa itu semuanya dan tidak ingat akan kebaikan
dan jasa kami kepada kamu?"
Musa menjawab: "Bahwasanya engkau telah memeliharakan aku sejak masa
bayiku, itu bukanlah suatu jasa yang dapat engkau banggakan. Karena
jatuhnya aku ke dalam tangan mu adalah akibat kekejaman dan kezalimanmu
tatkala engkau memerintah agar orang-orangmu menyembelih setiap
bayi-bayi laki yang lahir, sehingga ibu terpaksa membiarkan aku
terapung di permukaan sungai Nil di dalamsebuah peti yang kemudian
dipungut oleh isterimu dan selamatlah aku dari penyembelihan yang
engkau perintahkan. Sedang mengenai pembunuhan yang telah aku lakukan
itu adalah akibat godaan syaitan yang menyesatkan, namun peristiwa itu
akhirnya merupakan suatu rahmat dan barakah yang terselubung bagiku.
Sebab dalam perantauanku setelah aku melarikan diri dari negerimu,
Allah mengurniakan aku dengan hikmah dan ilmu serta mengutuskan aku
sebagai Rasul dan pesuruh-Nya. Maka dalam rangka tugasku sebagai Rasul
datanglah aku kepadamu atas perintah Allah untuk mengajak engkau dan
kaummu menyembah Allah dan meninggalkan kezaliman dan penindasanmu
terhadap Bani Isra'il."
Fir'aun bertanya: "Siapakah Tuhan yang engkau sebut-sebut itu, hai
Musa? Adakah tuhan di atas bumi ini selain aku yang patut di sembah
dan dipuja?"
Musa menjawab: "Ya, yaitu Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu serta Tuhan seru sekalian alam."
Tanya Fir'aun: "Siapakah Tuhan seru sekali alam itu?"
Musa menjawab: "Ialah Tuhan langit dan bumi dan segala apa yang ada antara langit dan bumi."
Berkata Fir'aun kepada para penasihatnya dan pembesar-pembesar
kerajaan yang berada disekitarnya. Sesungguhnya Rasul yang diutuskan
kepada kamu ini adalah seorang yang gila kemudia ia balik bertanya
kepada Musa dan Harun: "Siapakah Tuhan kamu berdua?"
Musa menjawab: "Tuhan kami ialah Tuhan yang telah memberikan kepada
tiap-tiap makhluk sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberi petunjuk
kepadanya."
Fir'aun bertanya: "Maka bagaimanakah keadaan umat-umat yang dahulu
yang tidak mempercayai apa yang engkau ajarkan ini dan malahan
menyembah berhala dan patung-patung?"
Musa menjawab: "Pengetahuan tentang itu ada di sisi Tuhanku. Jika Dia
telah menurunkan azab dan seksanya di atas mereka maka itu adalah
karena kecongkakan dan kesombongan serta keengganan mereka kembali ke
jalan yang benar. Jika Dia menunda azab dan seksa mereka hingga hari
kiamat, maka itu adalah kehendak-Nya yang hikmahnya kami belum
mengetahuinya. Allah telah mewahyukan kepada kami bahwa azab dan
seksanya adalah jalan yang benar."
Rif'aun yang sudah tidak berdaya menolak dalil-dalil Nabi Musa yang
diucapkan secara tegas dan berani merasa tersinggung kehormatannya
sebagai raja yang telah mempertuhankan dirinya lalu menujukan
amarahnya dan berkata kepada Musa secara mengancam: "Hai Musa! jika
engkau mengakui tuhan selain aku, maka pasti engkau akan kumasukkan ke
dalam penjara."
Musa menjawab: "Apakah engkau akan memenjarakan aku walaupun aku dapat
memberikan kepadamu tanda-tanda yang membuktikan kebenaran dakwahku?"
Fir'aun menentang dengan berkata: "Datanglah tanda-tanda dan
bukti-bukti yang nyata yang dapat membuktikan kebenaran kata-katamu
jika engkau benar-benar tiak berdusta."
Dialog
{mujadalah} antara Musa dan Fir'aun sebagaimana dihuraikan di atas dpt
dibaca dalam surah "Asy-Syu'ara" ayat 18 hingga ayat 31 juz 19
sebagimana berikut :~
"18.~ Fir'aun berkata: "Bukankah kami telah mengasuhmu diantara
{keluarga} kami diwaktu kamu masih kanak-kanak dan kamu tinggal
diantara {keluarga} kami beberapa tahun dari umurmu. 19.~ dan kamu
telah berbuat sesuatu perbuatan yang telah kamu lakukan itu dan kamu
termasuk golongan orang-orang yang tidak membalas jasa." 20.~ Berkata
Musa: "Aku telah melakukannya sedang aku diwaktu itu termasuk
orang-orang yang khilaf. 21.~ Lalu aku lari meninggalkan kamu ketika
aku takut kepada kamu, kemudian Tuhanku memberikan kepadaku ilmu serta
Dia menjadikan aku salah seorang diantara rasul-rasul. 22.~ Budi yang
kamu limpahkan kepada ku ini adalah {disebabkan} perhambaan darimu
terhadap Bani Isra'il." 23.~ Fir'aun bertanya: "Apa Tuhan semesta alam
itu?"24.~ Musa menjawab: "Tuhan pencipta langit dan bumi dan apa yang
diantara keduanya {itulah Tuhanmu} jika kamu sekalian {orang-orang}
mempercayainya". 25.~ Berkata Fir'aun kepada orang-orang sekelilingnya:
"Apakah kamu tidak mendengarkan?". 26.~ Musa berkata: "Tuhan kamu dan
Tuhan nenek-nenek moyang kamu yang dahulu" 27.~ Fir'aun berkata:
"Sesungguhnya Rasulmu yang diutuskan kepada kamu sekalian benar-benar
orang gila". 28.~ Musa berkata: "Tuhan yang menguasai timur dan barat
dan apa yang ada di antara keduanya {itulah Tuhanmu} jika kamu
mempergunakan akal". 29.~ Fir'aun berkata: "Sungguh jika kamu menyenbah
Tuhan selain aku benar-benar aku akan menjadikan kamu salah seorang
yang dipenjarakan". 30.~ Musa berkata: "Dan apakah kamu {akan melakukan
itu} walaupun aku tunjukkan kepadamu sesuatu {keterangan} yang nyata
jika kamu adlah termasuk orang-orang yang benar." { Asy-Syura : 18 ~
31 }
Musa memperlihatkan dua mukjizat kepada Fir'aun
Menjawab
tentangan Fir'aun yang menuntut bukti atas kebenarannya Musa dengan
serta-merta meletakkan tongkat mukjizatnya di atas yang segera menjelma
menjadi seekor ular besar yang melata menghala ke Fir'aun. Karena
ketakutan melompat lari dari singgahsananya melarikan diri seraya
berseru kepada Musa: " Hai Musa demi asuhanku kepadamu selama delapan
belas tahun panggillah kembali ularmu itu." Kemudian dipeganglah ular
itu oleh Musa dan kembali menjadi tongkat biasa.
Berkata Fir'aun kepada Musa setelah hilang dari rasa heran dan takutnya: "Adakah bukti yang dapat engkau tunjukkan kepadaku?"
"Ya, lihatlah." Musa menjawab serta memasukkan tangannya ke dalam saku
bajunya. Kemudian tatkala tangannya dikeluarkan dari sakunya,
bersinarlah tangan Musa itu menyilaukan mata Fir'aun itu dan
orang-orang yang sedang berada disekelilingnya.
Fir'aun sebagai raja yang menyatakan dirinya sebagai tuhan tentu tidak
akan mudah begitu saja menyerah kepada Musa bekas anak pungutnya
walaupun kepadanya telah diperlihatkan dun mukjizat. Ia bahkan berkata
kepada kaumnya yang ia khuatir akan terpengaruh oleh kedua mukjizat
Musa itu bahwa itu semuanya adalah perbuatan sihir dan bahwa Musa dan
Harun adalah ahli sihir yang mahir yang datang dengan maksud menguasai
Mesir dan para penduduknya akan kekuatan dengan sihirnya itu.
Fir'aun dianjurkan oleh penasihatnya yang dikepalai oleh Haman agar
mematahkan sihir Musa dan Harun itu dengan mengumpulkan ahli-ahli
sihir yang terkenal dari seluruh daerah kerajaan untuk bertanding
melawan Musa dan Harun. Anjuran mana disetujui oleh Fir'aun yang
merasa itu adalah fikiran yang tepat dan jalan yang terbaik untuk
melumpuhkan kedua mukjizat Allah yang oleh mereka dianggapnya sebagai
sihir. Anjuran itu lalu ditawarkan kepada Musa yang seketika tanpa
ragu-ragu sedikit pun menerima tentangan Fir'aun untuk beradu dan
bertanding melawan ahli-ahli sihir. Musa berkeyakinan penuh bahwa
dengan perlindung Allah ia akan keluar sebagai pemenang dalam
pertarungan itu, pertandingan antara perbuatan sihir yang diilham oleh
syaitan melawan mukjizat yang dikurniakan oleh Allah.
Pada suatu hari raya kerajaan telah bersetuju untuk mengadakan hari
pertandingan sihir maka berduyun-duyunlah penduduk kota menuju ke
tempat yang telah ditentukan untuk menyaksikan perlumbaan kepandaian
menyihir yang buat pertama kalinya diadakan di kota Mesir. Juga sudah
berada di tempat ahli-ahli sihhir yang terpandai yang telah
dikumpulkan dari seluruh wilayah kerajaan masing-masing membawa
tongkat , tali dan lain-lain alat sihirnya. Mrk cukup bersemangat dan
akan berusaha sepenuh kepandaian mrk untuk memenangi pertandingan. Mrk
telah memperolhi janji dari Fir'aun akan diberi hadiah dan wang dalam
jumlah yang besar bila berhasil mengalahkan Musa dengan mematahkan
daya sihirnya.
Setelah segala sesuatu selesai disiapkan dan masing-masing pembesar
negeri sudah mengambil tempatnya mengelilingi raja Fir'aun yang telah
duduk di atas kursi singgahsananya maka dinyatakanlah pertandingan
dimulai. Kemudian atas persetujuan Musa dipersilakan para lawannya
beraksi lebih dahulu mempertujukan kepandai sihirnya.
Segeralah ahli-ahli sihir Fir'aun menujukan aksinya melemparkan
tongkat dan tali-temali mrk ke tengah-tengah lapangan . Musa merasa
takut ketika terbayang kepadanya bahwa tongkat-tongkat dan tali-tali
itu seakan-akan ular-ular yang merayap cepat. Namun Allah tidak
mebiarkan hamba utusan-Nya berkecil hati menghadapi tipu-daya
orang-orang kafir itu. Allah berfirman kepada Musa disaat ia merasa
cemas itu: "Janganlah engkau merasa takut dan cemas hai Musa! engkau
adalah yang lebih unggul dan akan menang dalam pertandingan ini.
Lemparkanlah yang ada ditanganmu segera."
Para ahli-ahli sihir yang pandai dalam bidangnya itu tercengang ketika
melihat ular besar yang menjelma dari tongkat Nabi Musa dan menelan
ular-ular dan segala apa yang terbayangsebagai hasil tipu sihir mrk.
Mrk segera menyerah kalah bertunduk dan bersujud {kepada Allah}
dihadapan Musa seraya berkata: "Itu bukanlah perbuatan sihir yang kami
kenal yang diilhamkan oleh syaitan tetapi sesuatu yang digerakkan oleh
kekuatan ghaib yang mengatakan kebenaran kata-kata Musa dan Harun
maka tidak ada alasan bagi kami untuk tidak mempercayai risalah mereka
dn beriman kepada Tuhan mereka sesudah apa yang kami lihat dan
saksikan dengan mata kepala kami sendiri."
Fir'aun raja yang congkak dan sombong yang menuntut persembahan dari
rakyatnya sebagai tuhan segera membelalakkan matanya tanda marah dan
jengkel melihat ahli-ahli sihirnya begitu cepat menyerah kalah kepada
Musa bahkan menyatakan beriman kepada Tuhannya dan kepada kenabiannya
serta menjadi pengikut-pengikutnya. Tindakan mereka itu dianggapnya
sebagai pelanggaran terhadap kekuasaannya, penentangan terhadap
ketuhanannya dan merupakan suatu tamparan bagi kewibawaan serta
prestasinya. Ia berkata kepada mrk: "Adakah kamu berani beriman kepada
Musa dan menyerah kepada keputusannya sebelum aku izinkan kepada
kamu?" Bukankah ini suatu persekongkolan drp kamu terhadapku? Musa dpt
mengalah kamu sebab ia mungkin guru dan pembesar yang telah
mengajarkan seni sihir kepadamu dan kamu telah mengatur bersama-samanya
tindakan yang kamu sandiwarakan di depanku hari ini. Aku tidak akan
tinggal diam menghadapi tindakan khianatmu ini. Akanku potong
tangan-tangan dan kaki-kakimu serta akanku salibkan kamu semua pada
pangkal pohon kurma sebagai hukuman dan balasan bagi tindakan
khianatmu ini."
Ancaman Fir'aun itu disambut mrk dengan sikap dingin dan acuh tak
acuh. Karena Allah telah membuka mata hati mereka dengan cahaya iman
sehingga tidak akan terpengaruh dengan kata-kata kebathilan yang
menyesatkan atau ancaman Fir'aun yang menakutkan. Mrk
sebagai-orang-orang yang ahli dalam ilmu dan seni sihir dpt membedakan
yang mana satu sihir dan yang mana bukan. Maka sekali mrk diyakinkan
dengan mukjizat Nabi Musa yang membuktikan kebenaran kenabiannya
tidaklah keyakinan itu akan dpt digoyahkan oleh ancaman apa pun.
Berkata mereka kepada Fir'aun menanggapi ancamannya: "Kami telah
memdpat bukti-bukti yang nyata dan kami tidak akan mengabaikan
kenyataan itu sekadar memenuhi kehendak dan keinginanmu. Kami akan
berjalan terus megikut jejak dan tuntutan Musa dan Harun sebagai
pesuruh oleh yang benar. Maka terserah kepadamu untuk memutuskan apa
yang engkau hendak putuskan terhadap diri kami. Keputusan kamu hanya
berlaku di dunia ini sedang kami mengharapkan pahala Allah di akhirat
yang kekal dan abadi."
Bacalah tentang isi cerita di atas dalam surah "Asy-Syu'ara" ayat 32 sehingga ayat 51 juz 19 sebagai berikut :~
"32~ Maka Musa melemparkan tongkatnya, lalu tiba-tiba tongkat itu
{menjadi ular}. 33~ Dan ia menarik tangannya {dr dalam saku bajunya}
maka tiba-tiba tangan itu menjadi putih {bersinar} bagi orang-orang
yang melihatnya. 34~ Fir'aun berkata pembesar-pembesar yang berada di
sekelilingnya: "Sesungguhnya Musa itu benar-benar seorang ahli sihir
yang pandai, 35~ ia hendak mengusir kamu dari negeri kamu sendiri
dengan sihirnya maka karena itu apakah yang kamu anjurkan?" 36~ Mrk
menjawab: "Tundalah {urusan} dia dan saudaranya dan kirimlah ke seluruh
negeri orang-orang yang akan mengumpulkan {ahli sihir}, 37~ nescaya
mereka akan mendatangkan semua ahli sihir yang pandai kepadamu". 38~
Lalu dikumpulkanlah ahli-ahli sihir pada waktu yang ditetapkan di hari
yang maklum, 39~ dan dikatakan kepada orang ramai: "Berkumpullah kamu
sekalian, 40~ semoga kita mengikuti ahli-ahli sihir, jika mereka adalah
orang-orang yang menang". 41~ Maka tatkala ahli-ahli sihir dtg , mrk
pun bertanya kepada Fir'aun: "Apakah kami sungguh-sungguh mendpt upah
yang besar jika kami adalah orang-orang yang menang?" 42~ Fir'aun
menjawab: "Ya, kalu demikian, sesungguhnya kamu sekalian benar-benar
akan menjadi orang yang didekatkan {kepadaku}". 43~ Berkatalah Musa
kepada mrk: "Jatuhkalah apa yang kamu hendak jatuhkan". 44~ Lalu mrk
menjatuhkan tali-temali dan tongkat-tongkat mereka lalu berkata: " Demi
kekuasaan Fir'aun, sesungguhnya kami akan benar-benar akan menang".
45~ kemudian Musa menjatuhkan tongkatnya, maka tiba-tiba ia menelan
benda-benda palsu yang mereka ada-adakan itu. 46~ Maka tersungkurlah
ahli-ahli sihir sambil bersujud {kepada Allah}, 47~ mereka berkata:
"Kami beriman kepada Tuhan semesta alam , 48~ yaitu Tuhan Musa dan
Harun". 49~ Fir'aun berkata: "Apakah kamu sekalian beriman kepada Musa
sebelumaku memberi izin kepadamu? Sesungguhnya dia benar-benar
pemimpinmu yang mengajar sihir kepadamu, maka kamu nanti pasti
benar-benar akan mengetahui {akibat perbuatanmu}, sesungguhnya aku akan
memotong tanganmu dan kakimu dengan bersilangan dan aku akan
menyalibmu semuanya". 50~ Mereka berkata: "Tidak ada kemudharatan
{kepada kami}, sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami, 51~
sesungguhnya kami amat menginginkan bahwa Tuhan kami akan mengampuni
kesalahan kami, karena kami adalah orang-orang yang pertama sekali
beriman." {Asy-Syu'ara : 32 ~ 51 }
Fir'aun tetap keras kepala dan semakin bingung
Nabi
Musa yang telah mengalahkan ahli-ahli sihir dengan kedua mukjizatnya
makin meluas pengaruhnya, sedan Fir'aun dengan kekalahan ahli sihirnya
merasa kewibawaannya merosot dan kehormatannya menurun. ia khuatir
jika gerakan Musa tidak segera dipatahkan akan mengancam keselamatan
kerajaannya serta kekekalan mahkotanya. Para penasihat dan
pembantu-pembantu terdekatnya tidak berusaha menghilangkan rasa
kecemasan dan kekhuatirannya, tetapi mereka sebaliknya makin membakar
dadanya dan makin menakutu-nakutinya. Mrk berkata kepadanya: "Apakah
engkau akan terus membiarkan Musa dan kaumnya bergerak secara bebas dan
meracuni rakyat dengan amcam-macam kepercayaan dan ajaran-ajaran yang
menyimpang dari apa yang telah kita warisi dari nenek-moyang kita?
Tidakkah engkau sedar bahwa rakyat kita makin lama makin terpengaruh
oleh hasutan-hasutan Musa. sehingga lama-kelamaan nescaya kita dan
tuhan-tuhan kita akan ditinggalkan oleh rakyat kita dan pada akhirnya
akan hancur binasalah negara dan kerajaanmu yang megah ini."
Fir'aun menjawab: "Apa yang kamu huraikan itu sudah menjadi perhatiku
sejak dikalahkannya ahli-ahli sihir kita oleh Musa. Dan memang kalau
kita membiarkan Musa terus melebarkan sayapnya dan meluaskan
pengaruhnya di kalangan pengikut-pengikutnya yang makin lama makin
bertambah jumlahnya, pasti pada akhirnya akan merusakkan adab hidup
masyarakat negara kita serta membawa kehancuran dan kebinasaan bagi
kerajaan kita yang megah ini. karenanya aku telah merancang akan
bertindak terhadap Bani Isra'il dengan membunuh setiap orang lelaki
dan hanya wanita sahaja akanku biarkan hidup."
Rancangan jahat fir'aun diterapkan oleh pegawai dan kaki tangan
kerajaannya. Aneka ragam gangguan dan macam-macam tindakan kejam
ditimpakan atas Bani Isra'il yang memang menurut anggapan masyarakat,
mereka itu adalah rakyat kelas kambing dalam kerajaan Fir'aun yang
zalim itu. Dengan makin meningkatnya kezaliman dan penindasan yang
mereka terima dari alat-alat kerajaan Fir'aun, datanglah Bani Isra'il
kepada Nabi Musa, mengharapkan pertolongan dan perlindungannya. Nabi
Musa tidak dpt berbuat byk pada masa itu bagi Bani Isra'il yang
tertindas dan teraniaya. Ia hanya menenteramkan hati mereka, bahwa
akan tiba saatnya kelak,di mana mrk akan dibebaskan oleh Allah dari
segala penderitaan yang mrk alami. Dianjurkan oleh Nabi Musa agar
mereka bersabar dan bertawakkal seraya memohon kepada Allah agar Allah
memberikan pertolongan dan perlindungan-Nya karena Allah telah
menjanjikan akan mewariskan bumi-Nya kepada hamba-hamba-Nya yang
soleh, sabar dan bertakwa!
Fir'aun bertujuan melemahkan kedudukan Nabi Musa dengan tindakan
kejamnya terhadap Bani Isra'il yang merupakan kaumnya, bahkan tulang
belakang Nabi Nusa. Akan tetapi gerak dakwah Nabi Musa tidak sedikit
pun terhambat oleh tindakan Fir'aun itu. Demikian pula tidak seorang
pun drp pengikut-pengikutnya yang terpengaruh dengan tindakan Fir'aun
itu. Sehingga tidak menjadi luntur iman dan keyakinan mrk yang sudah
bulat terhadap risalah Musa.
Karena sasaran yang dituju dengan tindakan kekejaman yang tidak
berperikamanusiaan itu tidak tercapai dan tidak dpt menerima dakwah
Nabi Musa dan para pengikutnya, yang dilhatnya bahkan semakin
bersemangat menyiarkan ajaran iman dan tauhid, maka Fir'aun tidak
mempunyai pilihan selain harus menyingkirkan orang yang menjadi
pengikutnya, yaitu dengan membunuh Nabi Musa.
Fir'aun memanggil para penasihat dan pembesar-pembesar kerajaannya
untuk bermesyuarat dan merancang pembunuhan Musa. Di antara mereka yang
di undang itu terdapat seorang mukmin dari Keluarga Fir'aun yang
merahsiakan imannya.
Di tengah-tengah perdebatan dan perundingan yang berlangsung dalam
pertemuan yang diadakan oleh Fir'aun untuk membincangkan cara
pembunuhan Nabi Musa itu, bangkitlah berdiri mukmin itu mengucapkan
pembelaannya terhadap Nabi Musa dan nasihat serta tuntunan bagi mereka
yang hadir. Ia berkata: "Apakah kamu akan membunuh seseorang lelaki
yang tidak berdosa, hanya berkata bahwa Allah adalah Tuhannya? Padahal
ia menyatakan iman dan kepercayaannya itu kepada kamu bukan tanpa
dalil dan hujjah. Ia telah mempertunjukkan kepada kamu bukti-bukti
yang nyata untuk menyakinkan kamu akan kebenaran ajarannya. Jika
andainya dia seorang pendusta, maka dia sendirilah yang akan
menanggung dosa akibat dustanya. Namun jika ia adalah benar dalam
kata-katanya, maka nescaya akan menimpa kepada kamu bencana azab yang
telah dijanjikan olehnya. Dan dalam keadaan yang demikian siapakah yang
akan menolong kamu dari azab Allah yang telah dijanjikan itu?"
Fir'aun memotong pidato orang mukmin itu dengan berkata: "Rancanganku
harus terlaksana dan Musa harus dibunuh. Aku tidak mengemukan kepadamu
melainkan apa yang aku pandang baik dan aku tidak menunjukkan kepadamu
melainkan jalan yang benar, jalan yang akan menyelamatkan kerajaan
dan negara."
Berucap orang mukmin dari keluarga Fir'aun itu melanjutkan:
"Sesungguhnya aku khuatir, jika kamu tetap berkeras kepala dan enggan
menempuh jalan yang benar yang dibawa oleh para nabi-nabi, bahwa kamu
akan ditimpa azab dan seksa yang membinasakan , sebagaimana telah
dialami oleh kaum Nuh, kaum Aad, kaum Tsamud dan umat-umat yang datang
sesudah mereka. Apa yang telah dialami oleh kaum-kaum itu adalah
akibat kecongkakan dan kesombongan mereka karena Allah tidak
menghendaki berbuat kezaliman terhadap hamba-hamba-Nya".
Mukmin itu meneruskan nasihatnya:"Wahai kaumku! Sesungguhnya aku
khuatir kamu akan menerima seksa dan azab Tuhan di hari qiamat kelak,
di mana kamu akan berpaling kebelakang, tidak seorang pun akan dapat
menyelamatkan kamu itu dari seksa Allah. Hai kaum ikutilah nasihatku,
aku hanya ingin kebaikan bagimu dan mengajak kamu ke jalan yang benar.
Ketahuilah bahwa kehidupan di dunia ini hanya merupakan kesenangan
sementara, sedangkan kesenangan dan kebahagiaan yang kekal adalah di
akhirat kelak."
Orang mukmin dari keluarga Fir'aun itu tidak dpt mengubah sikap
Fir'aun dan pengikut-pemgikutnya, walaupun ia telah berusaha dengan
menggunakan kecekapan berpidatonya dan susunan kata-katanya yang rapi,
lengkap dengan contoh-contoh dari sejarah umat-umat yang terdahulu
yang telah dibinasakan oleh Allah karena perbuatan dan pembangkangan
mereka sendiri.
Fir'aun dan pengikut-pengikutnya bahkan menganjurkan kepada orang
mukmin itu, agar meninggalkan sikapnya yang membela Musa dan menyetujui
rancangan jahat mereka. Ia dinasihat untuk melepaskan pendiriannya
yang pro Musa dan mengabungkan diri dalam barisan mereka menentang
Musa dan segala ajarannya. Ia diancam dengan dikenakan tindakan
kekerasan bila ia tidak mahu mengubah sikap pro kepada Musa secara
suka rela.
Berkata orang mukmin itu menanggapi anjuran Fir'aun: "Wahai kaumku,
sgt aneh sekali sikap dan pendirianmu, aku berseru kepada kamu untuk
kebaikan dan keselamatanmu, kamu berseru kepadaku untuk berkufur
kepada Allah dan mempersekutukan-Nya dengan apa yang aku tidak
ketahui, sedang aku berseru kepadamu untuk beriman kepada Allah, Tuhan
YAng Maha Esa, Maha Perkasa, lagi Maha Pengampun. Sudah pasti dan
tidak dapat diragukan lagi, bahwa apa yang kamu serukan kepadaku itu
tidak akan menolongku dari murka dan seksa Allah di dunia mahupun di
akhirat. Dan sesungguhnya kamu sekalian akan kembali kepada Allah yang
akan memberi pahala syurga bagi orang-orang yang soleh, bertakwa dan
beriman, sedang orang-orang kafir yang telah melampaui batas akan
diberi ganjaran dengan api neraka. Hai kaumku perhatikanlah nasihat dan
peringatanku ini. Kamu akan menyedari kebenaran kata-kataku ini kelak
bila sudah tidak berguna lagi orang menyesal atau merasa susah karena
perbuatan yang telah dilakukan. Aku hanya menyerahkan urusan ku dan
nasibku kepada Allah. Dialah Yang Maha Mengetahui dan Maha Melihat
perbuatan dan kelakuan hamba-hamba-Nya."
Bacalah tentang isi cerita di atas dalam surah "Al-A'raaf" ayat 127
sehingga ayat 129 juz 9 dan surah "Al-Mukmin" ayat 28 sehingga ayat 33
dan ayat 38 sehingga ayat 45 juz 24 sebagai berikut :~
"127~ Berkata pembesar-pembesar dari kaum Fir'aun {kepada Fir'aun}:
"Apakah kamu akan membiarkan Musa dan kaumnya untuk membuat kerusakkan
di negeri ini {Mesir} dan meninggalkan kamu serta tuhan-tuhanmu?"
Fir'aun menjawab: "Akan kita bunuh anak-anak lelaki mereka dan kita
biarkan hidup perempuan-perempuan mereka dan sesungguhnya kita
berkuasa penuh ke atas mereka". 128~ Musa berkata kepada kaumnya:
"Mohonlah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah sesungguhnya bumi
{ini} kepunyaan Allah dipusakakannya kepada siapa yang dikehendaki-Nya
dari hamba-hamba-Nya. Dan kesusahan yang baik adalah bagi orang-orang
yang bertakwa". 129~ Kaum Musa berkata: "Kami telah ditindas {oleh
Fir'aun} sebelum kamu datang kepada kami dan sesudah kamu datang."
Musa menjawab: "Mudah-mudahan Allah membinasakan musuh-musuh kamu dan
menjadikan kamu khalifah di bumi{-Nya} maka Allah akan melihat
bagaimana perbuatanmu." { Al-A'raaf : 127 ~ 129 }
"28~ Dan seorang laki-laki yang beriman di antara pengikut-pengikut
Fir'aun yang mneyembunyikan imannya berkata: "Apakah kamu akan
membunuh seorang laki-laki karena dia menyatakan "Tuhanku ialah Allah"
padahal dia telah datang kepadamu dengan membawa
keterangan-keterangan dari Tuhanmu. Dan jika dia seorang pendusta,
maka dialah yang menanggung {dosa} dustanya itu dan jika dia seorang
yang benar, nescaya sebahagia {bencana} yang diancamkannya kepadamu
akan menimpamu." Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang
melampaui batas lagi pendusta. 29~ Hai kaumku utkmulah kerajaan pada
hari ini dengan berkuasa di muka bumi. Siapakah yang akan menolong
kita dari azab Allah jika azab itu menimpa kita?" Fir'aun berkata:
"Aku tidak mengemukakan kepadamu melainkan apa yang aku pandang baik
dan aku tidak menunjukkan kepadamu selain jalan yang benar." 30~ Dan
orang yang beriman itu berkata: "Hai kaumku sesungguhnya aku khuatir
kamu akan ditimpa {bencana} seperti peristiwa {kehancuran} golongan
yang bersekutu, 31~ {yakni} seperti keadaan kaum Nuh, Aad, Tsamud dan
orang-orang yang datang sesudah mereka. Dan Allah tidak menghendaki
berbuat kezaliman terhadap hamba-hamba-Nya. 32~ HAi kaumku,
sesungguhnya aku khuatir terhadapmu akan seksaan hari
panggil-memanggil. 33~ {yaitu} hari {ketika} kamu {lari} berpaling
kebelakang, tidak ada bagimu seseorang pun yang menyelamatkan kamu dari
{azab} Allah dan siapa yang disesatkan Allah nescaya tidak ada baginya
seorang pun yang akan memberi petunjuk." { Al-Mukmin : 28 ~ 33 }
"38~ Orang yang beriman itu berkata: "Hai kaumku ikutilah aku akan
menunjukkan kepadamu jalan yang benar. 39~ Hai kaumku! Sesungguhnya
kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan {sementara} dan sesungguhnya
akhirat itulah negeri yang kekal. 40~ Barabg siapa mengerjakan
perbuatan jahat, maka dia tidak akan dibalas melainkan sebanding dengan
kejahatan itu. Dan barang siapa yang mengerja amal yang soleh baik
laki-laki mahupun perempuan sedang ia dalam keadaan beriman, maka
mereka akan masuk syurga, mereka diberi rezeki didalamnya tanpa hisab.
41~ Hai kaumku! Bagaiman kamu ini, aku menyeru kamu kepada keselamatan
tetapi kamu menyeru aku ke neraka? 42~ {kenapa} kamu menyerukan supaya
kufur kepada Allah dan mempersekutukan-Nya dengan apa yang tidakku
ketahui padahal aku menyeru kamu {beriman} kepada Yang Maha Perkasa
lagi Maha Pengampun?" 43~ Sudah pasti bahwa apa yang kamu seru supaya
aku {beriman} kepadanya tidak dpt memperkenankan seruan apa pun, baik
di dunia mahu pun di akhirat. Dan sesungguhnya kembali kita adalah
kepada Allah dan sesungguhnya orang-orang yang melampaui batas, mrk
itulah penghuni neraka. 44~ Kelak kamu akan ingat kepada apa yang aku
katakan kepada kamu. Dan aku menyerahkan urusan aku kepada Allah.
Sesungguhnya Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya. 45~ Maka Allah
memeliharanya dari kejahatan tipu daya mereka dan Fir'aun berserta
kaumnya dikepung oleh azab yang amat buruk." { Al-Mukmin : 38 ~ 45 }
Fir'aun menghina dan mengejek Musa
Selain
tindakan kekerasan yang ditimpakan ke atas Bani Isra'il kaumnya Nabi
Musa, Fir'aun melontarkan penghinaan dan kata-kata ejekan terhadap
Nabi Musa dalam usahanya memerangi dan membendung pengaruh Nabi Musa
yang semakin beertambah semenjak ia keluar sebagai pemenang dalam
pertandingan melawan tukang-tukang sihir kaum Fir'aun.
Berkata Fir'aun kepada pembesar-pembesar kerajaannya: "Biarkanlah aku
membunuh Musa dan biarlah ia memohon dari Tuhannya untuk
melindunginya. Aku ingin tahu sampai sejauh mana ia dapat melepaskan
diri dari kekuasaanku dan biarlah ia membuktikan kebenaran kata-kata,
bahwa Tuhannya akan melindunginya dari segala tipu daya
musuh-musuhnya."
Dalam lain kesempatan Fir'aun berkata kepada rakyatnya yang sudah
diperhambakan jiwanya, terbiasa memuja-mujanya, mengiakan kata-katanya
dan mengaminkan segala perintahnya: "Hai rakyatku! Tidakkah kamu
melihat bahwa aku memiliki kerajaan Mesir yang megah dan besar ini di
mana sungai-sungai mengalir dibawah telapak kakiku, sungai-sungai yang
memberi kemakmuran hidup dan kebahagiaan hidup bagi rakyatku? Dan
tidakkah kamu melihat kekuasaanku yang luas dan ketaatan rakyatku yang
bulat kepadaku? Bukankah aku lebih baik dan lebih agung dari Musa yang
hina-dina itu yang tidak cekap menguraikan isi hatinya dan
menerangkan maksud tujuannya. Megapa Tuhannya tidak memakaikan gelang
emas, sebagaimana lazimnya orang-orang yang diangkat menjadi raja,
pemimpin atau pembesar? Atau mengapa ia tidak diiringi oleh
malaikat-malaikat sebagai tanda kebesarannya dan bukti kebenarannya
bahwa ia adalah pesuruh Tuhannya?"
Kelompok orang yang mendengar kata-kata Fir'aun itu dengan serta-merta
mengiyakan dan membenarkan kata-kata rajanya serta menyatakan
kepatuhan yang bulat kepada segala titah dan perintahnya sebagai warga
yang setia kepada rajanya, namun zalim dan fasiq terhadap Tuhannya.
Dalam pd itu kesabaran Nabi Musa sampai pd puncaknya, melihat Fir'aun
dan pembantu-pambantunya tetap berkeras kepala menentang dakwahnya,
mendustakan risalahnya dan makin memperhebatkan tindakan kejamnya
terhadap kaum Bani Isra'il terutama para pengikutnya yang
menyembunyikan imannya karena ketakutan daripada kejaran Fir'aun dan
pembalasannya yang kejam dan tidak berperikemanusiaan. Maka
disampaikan oleh Nabi Musa kepada mrk bahwa Allah tidak akan
membiarkan mereka terus-menerus melakukan kekejaman, kezaliman dan
penindasan terhamba-hamba-Nya dan berkufur kepada Allah dan Rasul-Nya.
Akan ditimpakan oleh Allah kepada mereka bila tetap tidak mahu sedar
dan beriman kepada-Nya, bermacam azb dan seksa di dunia semasa hidup
mereka sebagai pembalasan yang nyata!
Berdoalah Nabi Musa, memohon kepada Allah: "Ya Tuhan kami, engkau
telah memberi kepada Fir'aun dan kaum kerabatnya kemewahan hidup,
harta kekayaan yang meluap-luap dan kenikmatan duniawi, yang kesemua
itu mengakibatkan mereka menyesatkan manusia, hamba-hamba-Mu, dari
jalan yang Engkau redhai dan tuntunan yang Engkau berikan. Ya Tuhan
kami, binasakanlah harta-benda mereka dan kunci matilah hati mereka.
Mrk tidak akan beriman dan kembali kepada jalan yang benar sebelum
melihat seksaan-Mu yang pedih."
Berkat doa Nabi Musa dan permohonannya yang diperkenankan oleh Allah,
maka dilandakanlah kerajaan Fir'aun oleh krisis kewangan dan makanan,
yang disebabkan mengeringnya sungai Nil sehingga tidak dapat mengairi
sawah-sawah dan ladang-ladang disamping serangan hama yang ganas yang
telah menghabiskan padi dan gandum yang sudah menguning dan siap untuk
diketam.
Belumlagi krisis kewangan dan makanan teratasi datang menyusul bala
banjir yang besar disebabkan oleh hujan yang turun dengan derasnya,
sehingga menghanyutkan rumah-rumah, gedung-gedung dan membinasakan
binatang-binatang ternak. Dan sebagai akibat dari banjir itu
berjangkitlah bermacam-macam wabak dan penyakit yang merisaukan
masyarakat seperti hidung berdarah dan lain-lain. Kemudian datanglah
barisan kutu-kutu busuk dan katak-katak yang menyerbu ke dalam
rumah-rumah sehingga mengganggu ketenteraman hidup
mereka,menghilangkan kenikmatan makan, minum dan tidur, disebabkan
menyusupnya binatang-binatang itu ke dalam tempat-tempat tidur,
hidangan makanan dan di antara sela-sela pakaian mereka.
Pada waktu azab menimpa dan bencana-bencana itu sedang melanda
berdatanglah mereka kepada Nabi Musa minta pertolongannya demi
kenabiannya, agar memohonkan kepada Allah mengangkat bala itu dari
atas mereka dengan perjanjian bahwa mrk akan beriman dan menyerahkan
Bani Isra'il kepada Nabi Musa sekirannya mereka dpt ditolong dan
terhindar dari azab bala itu.
Akan tetapi begitu bala-bala itu tercabut dari atas mrk dan hilanglah
gangguan yang diakibatkan olehnya, mrk mengingkari janji mereka dan
kembali bersikap memusuhi dan menentang Nabi Musa, seolah-olah apa
yang terjadi bukanlah karena doa dan permohonan Musa kepada Allah
tetapi karena hasil usaha mrk sendiri.
Bacalah tentang isi cerita di atas ayat 26 dari surah "Al-Mukmin" ;
ayat 51 sehingga ayat 54 surah "Az-Zukhruf" ; ayat 88 dan 89 surah
"Yunus" dan ayat 130 sehingga ayat 135 surah "Al-A'raaf" sebagimana
berikut :~
"Dan berkata Fir'aun {kepada pembesar-pembesarnya} "Biarlah aku
membunuh Musa, dan hendaklah ia memohon kepada Tuhannya, karena
sesungguhnya aku khuatir dia akan menukar agama atau menimbulkan
kerusakan di muka bumi." { Al-Mukmin : 26 }
"Dan Fir'aun berseru kepada kaumnya {seraya} berkata: "Hai kaumku!
Bukankah kerajaan Mesir ini kepunyaanku dan {bukankah} sungai-sungai
ini mengalir dibawahku, maa apakah yang kamu tidak melihatnya? 52~
Bukankah aku lebih baik dari orang yang hina ini dan yang hampir tidak
dapat menjelaskan {perkataannya}? 53~ Mengapa tidak dipakaikan
kepadanya gelang emas, atau malaikat datang bersama-sama dia untuk
mengiringkannya." 54~ Mak Fir'aun mempergaruhi kaumnya {dengan
perkataan itu} lalu mereka patuh kepadanya kerana sesungguhnya mereka
itu adalah kaum yang fasiq." { Az-Zukhruf : 51 ~ 54 }
"88~ Musa berkata: "Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau telah memberi
kepada Fir'aun dan pemuka-pemuka kaumnya perhiasan dan harta kekayaan
dalam kehidupan dunia, Ya Tuhan kami, akibatnya mereka menyesatkan
{manusia} dari jalan Engkau. Ya Tuhan kami, binasakanlah harta benda
mereka dan kunci matilah hati mereka maka mereka tidak beriman hingga
mereka melihat seksaan yang pedih." 89~ Allah berfirman: "Sesungguhnya
telah diperkenankan permohonan kamu berdua sebab itu tetaplah kamu
berdua pada jalan yang lurus dan janganlah sesekali kamu mengikuti
jalan orang-orang yang tidak mengetahui." { Yunus : 88 sehingga 89 }
"130~ Dan sesungguhnya Kami telah menghukum {Fir'aun dan} kaumnya
dengan mendatangkan musim kemarau yang panjang dan kekurangan
buah-buahan, supaya mereka mengambil pengajaran 131~ Kemudian apabila
datang kepada mereka kemakmuran mereka berkata: "Ini adalah kerana
{usaha} kami." Dan jika mereka ditimpa kesusahan mrk lemparkan sebab
kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang berserta dengannya.
Ketahuilah sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari
Allah, akan tetapi kebanyakkan mereka tidak mengetahui. 132~ Mrk
berkata kepada Musa: Bagaiman kamu mendatangkan keterangan kepada kami
untuk menyihir kami dengan keterangan itu, maka sesekali kami tidak
akan beriman kepadamu." 133.~ Maka Kami {Allah} kirimkan kepada mereka
taufan, belalang, kutu, katak dan darah sebagai bukti yang jelas
tetapi mrk tetap menyombong diri dan mrk adalah kaum yang berdosa.
134~ Dan ketika mrk ditimpa azab {yang telah diterangkan itu} mereka
pun berkata: " Hai Musa, mohonkanlah untuk kami kepada Tuhanmu dengan
{perantaraan} kenabian yang diketahui oleh Allah ada pada sisimu.
Sesungguhnya jika kamu dapat menghilangkan azab itu drp kami pasti kami
akan beriman kepadamu dan akan kami biarkan Bani Isra'il pergi
bersamamu." 135~ Maka setelah Kami hilangkan azab itu dari mrk hingga
batas waktu yang mrk sampai kepadanya, tiba-tiba mrk mengingkarinya." {
Al-A'raaf : 130 ~ 135 }
Bani Isra'il keluar dari Mesir
Bani
Isra'il yang cukup menderita akibat tindasan Fir'aun dan kaumnya
cukup merasakan penganiayaan dan hidup dalam ketakutan di bawah
pemerintahan Fir'aun yang kejam dan bengis itu, pada akhirnya sedar
bahwa Musalah yang benar-benar dikirimkan oleh Allah untuk membebaskan
mereka dari cengkaman Fir'aun dan kaumnya. Maka berduyun-duyunlah
mereka datang kepada Nabi Musa memohon pertolongannya agar mengeluarkan
mereka dari Mesir.
Kemudian bertolaklah rombongan kaum Bani Isra'il di bawah pimpinan
Nabi Musa meninggalkan Mesir menuju Baitul Maqdis. Dengan berjalan kaki
dengan cepat karena takut tertangkap oleh Fir'aun dan bala tenteranya
yang mengejar mereka dari belakang akhirnya tibalah mereka pada waktu
fajar di tepi lautan merah setelah selama semalam suntuk dapat
melewati padang pasir yang luas.
Rasa cemas dan takut makin mencekam hati para pengikut Nabi Musa dan
Bani Isra'il ketika melihat laut terbentang di depan mereka sedang dari
belakang mrk dikejar oleh Fir'aun dan bala tenteranya yang akan
berusaha mengembalikan mereka ke Mesir. Mereka tidak meragukan lagi
bahwa bila mrk tertangkap, maka hukuman matilah yang akan mereka
terima dari Fir'aun yang zalim itu.
Berkatalah salah seorang dari sahabat Nabi Musa, bernama Yusha' bin
Nun: "Wahai Musa, ke mana kami harus pergi?" Musuh berada di belakang
kami sedang mengejar dan laut berada di depan kami yang tidak dapat
dilintasi tanpa sampan. Apa yang harus kami perbuat untuk
menyelamatkan diri dari kejaran Fir'aun dan kaumnya?"
Nabi Musa menjawab: "Janganlah kamu khuatir dan cemas, perjalanan kami
telah diperintahkan oleh Allah kepadaku, dan Dialah yang akan memberi
jalan keluar serta menyelamatkan kami dari cengkaman musuh yang zalim
itu."
Pada saat yang kritis itu, di mana para pengikut Nabi Musa
berdebar-debar ketakutan, seraya menanti tindakan Nabi Musa yang
kelihatan tenang sahaja, turunlah wahyu Allah kepada Nabi-Nya dengan
perintah agar memukulkan air laut dengan tongkatnya. Maka dengan izin
Allah terbelah laut itu, tiap-tiap belahan merupakan seperti gunung
yang besar. Di antara kedua belahan air laut itu terbentang dasar laut
yang sudah mengering yang segera di bawah pimpinan Nabi Musa
dilewatilah oleh kaum Bani Isra'il menuju ke tepi timurnya.
Setelah mrk sudah berada di bahagian tepi timur dalam keadaan selamat
terlihatlah oleh mereka Fir'aun dan bala tenteranya menyusuri jalan
yang sudah terbuka di antara dua belah gunung air itu. Kembali rasa
cemas dan takut mengganggu hati mereka seraya memandang kepada Nabi
Musa seolah-olah bertanya apa yang hendak dia lakukan selanjutnya.
Dalam pada itu Nabi Musa telah diilhamkan oleh Allah agar bertenang
menanti Fir'aun dan bala tenteranya turun semua ke dasar laut. Karena
takdir Allah tela mendahului bahwa mrk akan menjadi bala tentera yang
tenggelam.
Berkatalah Fir'aun kepada kaumnya tatkala melihat jalan terbuka bagi
mereka di antara dua belah gunung air itu: "Lihat bagaimana lautan
terbelah menjadi dua, memberi jalan kepada kami untuk mengejar
orang-orang yang melarikan diri itu. Mrk mengira bahwa mrk akan dpt
melepaskan dari kejaran dan hukumanku. Mrk tidak mengetahui bahwa
perintahku berlaku dan ditaati oleh laut, jgn lagi oleh manusia.
Tidakkah ini semuanya membuktikan bahwa aku adalah yang berkuasa yang
harus disembah olehmu?" Maka dengan rasa bangga dan sikap sombongnya
turunlah Fir'aun dan bala tenteranya ke dasar laut yang sudah mengering
itu melakukan gerak-cepatnya untuk menyusul Musa dan Bani Isra'il
yang sudah berada di tepi bahagian timur sambil menanti hukuman Allah
yang telah ditakdirkan terhamba-hamba-Nya yang kafir itu.
Demikianlah maka setelah Fir'aun dan bala tenteranya berada di
tengah-tengah lautan yang membelah itu, jauh dari ke dua tepinya,
tibalah perintah Allah dan kembalilah air yang menggunung itu menutupi
jalur jalan yang terbuka di mana Fir'aun dengan sombongnya sedang
memimpin barisan tenteranya mengejar Musa dan Bani Isra'il.
Terpendamlah mrk hidup-hidup di dalam perut laut dan berakhirlah
riwayat hidup Fir'aun dan kaumnya untuk menjadi kenangan sejarah dan
ibrah bagi generasi- akan datang.
Pada detik-detik akhir hayatnya, seraya berjuang untuk menyelamatkan
diri dari maut yang sudah berada di depan matanya, berkatalah Fir'aun:
"Aku percaya bahwa tiada tuhan selain Tuhan Musa dan Tuhan Bani
Isra'il. Aku beriman pada Tuhan mereka dan berserah diri kepada-Nya
sebagai salah seorang muslim."
Berfirmanlah Allah kepada Fir'aun yang sedang menghadapi
sakaratul-maut: "Baru sekarangkah engkau berkata beriman kepada Musa
dan berserah diri kepada-Ku? Tidakkah kekuasaan ketuhananmu dpt
menyelamatkan engkau dari maut? Baru sekarangkah engkau sedar dan
percaya setelah sepanjang hidupmu bermaksiat, melakukan penindasan dan
kezaliman terhadap hamba-hamba-Ku dan berbuat-sewenang-wenang, merusak
akhlak dan aqidah manusia-manusia yang berada di bawah kekuasaanmu.
Terimalah sekarang pembalasan-Ku yang akan menjadi pengajaran bagi
orang-orang yang akan datang sesudahmu. Akan Aku apungkan tubuh kasarmu
untuk menjadi peringatan bagi orang-orang yang meragukan akan
kekuasaan-Ku."
Bani Isra'il pengikut-pengikut Nabi Musa masih meragukan kematian
Fir'aun. Mrk masih terpengaruh dengan kenyataan yang ditanamkan oleh
Fir'aun semasa ia berkuasa sebagai raja bahwa dia adalah manusia luar
biasa lain drp yang lain dan bahwa dia akan hidup kekal sebagai tuhan
dan tidak akan mati. Khayalan yang masih melekat pd fikiran mrk
menjadikan mrk tidak mahu percaya bahwa dengan tenggelamnya, Fir'aun
sudah mati. Mrk menyatakan kepada Musa bahwa Fir'aun mungkin masih
hidup namun di alam lain.
Nabi Musa berusaha menyakinkan kaumnya bahwa apa yang terfikir oleh
mrk tentang Fir'aun adalah suatu khayalan belaka dan bahwa Fir'aun
sebagai orang biasa telah mati tenggelam akibat pembalasan Allah atas
perbuatannya, menentang kekuasaan Allah mendustakan Nabi Musa dan
menindaskan serta memperhambakan Bani Isra'il. Dan setelah melihat
dengan mata kepala sendiri, tubuh-tubuh Firaun dan orang-orangnya
terapung-apung di permukaan air, hilanglah segala tahayul mrk tentang
Fir'aun dan kesaktiannya.
Menurut catatan sejarah, bahwa mayat Fir'aun yang terdampar di pantai
diketemukan oleh orang-orang Mesir, lalu diawet hingga utuh sampai
sekarang, sebagai mana dpt dilihat di muzium Mesir.
Tentang
isi cerita yang terurai di atas dapat di baca dalam surah "Thaha" ayat
77 sehingga 79 ; surah "Asy-Syua'ra" ayat 60 sehingga 68 ; surah
"Yunus" ayat 90 sehingga 92 sebagaimana berikut :~
"77~ Dan sesungguhnya telah Kami wahyukan kepada Musa: "Pergilah kamu
dengan hamba-hamba-Ku {Bani Isra'il} di malam hari, maka buatklah
untuk mrk jalan yang kering di laut itu, kamu tidak usah khuatir akan
tersusul dan tidak usah takut {akan tenggelam}." 78~ Maka Fir'aun
dengan bala tenteranya mengejar mrk, lalu mrk ditutup oleh laut yang
menenggelamkan mrk. 79~ Dan Fir'aun telah menyesatkan kaumnya dan tidak
memberi peetunjuk." { Thaha : 77 ~ 79 }
"60~ Maka Fir'aun dan bala tenteranya dpt menyusuli mrk di waktu
matahari terbit. 61~ Maka setelah kedua golongan itu saling melihat,
berkatalah pengikut-pengikut Musa: "Sesungguhnya kita benar-benar akan
tersusul; sesungguhnya Tuhanku bersertaku, kelak Dia akan memberi
petunjuk kepadaku. 63~ Lalu Kami wahyukan kepada Musa: "Pukullah
lautan itu dengan tongkatmu." Maka terbelahlah lautan itu dan
tiap-tiap belahan itu adalah seperti golongan yang lain. 65~ Dan Kami
selamatkan Musa dan orang-orang yang bersertanya semuanya. 66~ Dan
Kami tenggelamkan golongan yang lain itu. 67~ Sesungguhnya pada yang
demikian itu benar-benar merupakan suatu tanda yang besar {mukjizat}
dan kebanyakkan mrk tidak beriman. 68~ Dan sesungguhnya Tuhanmu
benar-benar Dialah Yang Mulia Perkasa lai Maha Penyayang." {
Asy-Syu'ara : 60 ~ 68 }
"90~ Dan Kami memungkinkan Bani Isra'il melintasi lau, lalu mrk
diikiti oleh Fir'aun dan bala tenteranya, karena hendak menganiaya dan
menindas {mereka} hingga bila Fir'aun itu telah hampir tenggelam
berkatalah dia: "Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan
yang dipercayai oleh Bani Isra'il dan saya termasuk orang-orang yang
berserah diri {kepada Allah}." 91~ Apakah sekarang {baru kamu percaya}
padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu dan kamu
termasuk orang-orang yang berbuat kerusakkan. 92~ Maka pada hari ini
Kami akan selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pengajaran bagi
orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakkan dari
manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami." { Yunus : 90 ~ 92 }
Nabi Musa A.S. dan Bani Isra'il setelah keluar dari Mesir
Dalam
perjalanan menuju Thur Sina setelah melintasi lautan di bahagian
utara dari Laut Merah dan setelah mereka merasa aman dari kejaran
Fir'aun dan kaumnya. Bani Isra'il yang dipimpin oleh Nabi Musa itu
melihat sekelompok orang-orang yang sedang menyembah berhala dengan
tekunnya. Berkatalah mrk kepada Nabi Musa: "Wahai Musa, buatlah untuk
kamu sebuah tuhan berhala sebagaimana mrk mempunyai berhala-berhala
yang disembah sebagai tuhan." Musa menjawab: "Sesungguhnya kamu ini
adalah orang-orang yang bodoh dan tidak berfikiran sihat. Persembahan
mereka itu kepada berhala adalah perbuatan yang sesat dan bathil serta
pasti akan dihancurkan oleh Allah. Patutkah aku mencari tuhan untuk
kamu selain Allah yang telah memberikan kurnia kepada kamu, dengan
menyelamatkan kamu dari Fir'aun, melepaskan kamu dari perhambaannya dan
penindasannya serta memberikan kamu kelebihan di atas umat-umat yang
lain.Sesungguhnya suatu permintaan yang aneh drp kamu, bahwa kamu akan
mencari tuhan selain Allah yang demikian besar nikmatnya atas kamu,
Allah pencipta langit dan bumi serta alam semesta. Allah yang baru saja
kamu saksikan kekuasaan-Nya dengan ditenggelamkannya Fir'aun berserta
bala tenteranya untuk keselamatan dan kelangsungan hidupmu."
Perjalanan Nabi Musa dan Bani Isra'il dilanjutkan ke Gurun Sinai di
mana panas matahari sgt teriknya dan sunyi dari pohon-pohon atau
bangunan di mana orang dpt berteduh di bawahnya. Atas permohonan Nabi
Musa yang didesak oleh kaumnya yang sedang kepanasan diturunkan oleh
Allah di atas mereka awan yang tebal untuk mrk bernaung dan berteduh di
bawahnya dari panas teriknya matahari. Di samping itu tatkala bekalan
makanan dan minuman mereka sudah berkurangan dan tidak mencukupi
keperluan. Allah menurunkan hidangan makanan "manna" - sejenis makanan
yang manis sebagai madu dan "salwa" - burung sebangsa puyuh dengan
diiringi firman-Nya: "Makanlah Kami dari makanan-makanan yang baik
yang Kami telah turunkan bagimu."
Demikian pula tatkala pengikut-pengikut Nabi Musa mengeluh kehabisan
air untuk minum dan mandi di tempat yang tandus dan kering itu, Allah
mewahyukan kepada Musa agar memukul batu dengan tongkatnya. Lalu
memancarlah dari batu yang dipukul itu dua belas mata air, untuk dua
belas suku bangsa Isra'il yang mengikuti Nabi Musa, masing-masing suku
mengetahui sendiri dari mata air mana mereka mengambil keperluan
airnya.
Bani Isra'il pengikut Nabi Musa yang sangat manja itu, merasa masih
belum cukup atas apa yang telah Allah berikan kepada mrk yang telah
menyelamatkan mereka dari perhambaan dan penindasan Fir'aun, memberikan
mereka hidangan makanan dan minuman yang lazat dan segar di tempat
yang kering dan tandus mereka menuntut lagi dari Nabi Musa agar
memohon kepada Allah menurunkan bagi mereka apa yang ditumbuhkan oleh
bumi dari rupa-rupa sayur-mayur, seperti ketimun, bawang putih, kacang
adas dan bawang merah karena mereka tidak puas dengan satu macam
makanan.
Terhadap tuntutan mereka yang aneh-aneh itu berkatalah Nabi Musa:
"Mahukah kamu memperoleh sesuatu yang rendah nilai dan harganya
sebagai pengganti dari apa yang lebih baik yang telah Allah kurniakan
kepada kamu? Pergilah kamu ke suatu kota di mana pasti kamu akan dapat
apa yang telah kamu inginkan dan kamu minta."
Pokok
cerita tersebut di atas dikisahkan oleh Al-Quran dalam surah
"Al-A'raaf ayat 138 sehingga 140 dan 160 ; serta surah "Al-Baqarah"
ayat 61 yang berbunyi sebagai berikut :~
"138~ Dan Kami seberangkan Bani Isra'il ke seberang lautan itu, maka
setelah mereka sampai kepada suatu kaum yang tetap menyembah berhala,
mereka {Bani Isra'il} berkata: "Hai Musa, buatlah untuk kami sebuah
tuhan {berhala} sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan {berhala}".
Musa menjawab: "Sesungguhnya kamu ini adalah kaum yang tidak
mengetahui {sifat-sifat Tuhan}". 139~ Sesungguhnya mereka itu akan
dihancurkan kepercayaan yang dianutnya dan akan batal yang selalu
mereka kerjakan. 140~ Musa berkata: "Patutkah aku mencari tuhan untuk
kamu yang selain dari Allah, padahal Dialah yang telah melebihkan kamu
atas segala umat". { Al-A'raaf : 138 ~ 140 }
"160~ Dan mereka Kami bagi menjadi dua belas suku yang masing-masingnya
berjumlah besar dan Kami wahyukan kepada Musa ketika kaumnya meminta
air kepadanya: "Pukullah batu itu dengan tongkatmu". Maka memancarlah
drpnya dua belas mata air. Sesungguhnya tiap-tiap suku mengetahui
tempat minum masing-masing. Dan Kami naungkan Awan di atas mereka dan
Kami turunkan kepada mereka manna dan salwa. {Kami berfirman}:
"Makanlah baik-baik dari apa yang Kami telah rezekikan kepadamu."
Mereka tidak menganiaya Kami, tetapi merekalah yang selalu menganiaya
dirinya sendiri." { Al-A'raaf : 160 }
"61~ Dan ingatlah ketika kamu berkata: "Hai Musa, kami tidak boleh
sabar {tahan} dengan satu macam makanan saja. Sebab itu mohonkanlah
untuk kami kepada Tuhanmu, Agar Dia mengeluarkan bagi kami dari apa
yang ditumbuhkan oleh bumi, yaitu sayur-mayurnya, ketimunnya, bawang
putihnya, kacang adasnya dan bawah merahnya." Musa berkata: "Mahukah
kamu mengambil sesuatu yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik?
Pergilah kamu ke suatu kota, pasti kamu memperolehi apa yang kamu
minta." { Al-Baqarah : 61 }
Musa bermunajat dengan Allah
Menurut
riwayat sementara ahli tafsir, bahawasanya tatkala Nabi Musa berada
di Mesir, ia telah berjanji kepada kaumnya akan memberi mereka sebuah
kitab suci yang dapat digunakan sebagai pedoman hidup yang akan
memberi bimbingan dan sebagai tuntunan bagaimana cara mereka bergaul
dan bermuamalah dengan sesama manusia dan bagaimana mereka harus
melakukan persembahan dan ibadah mereka kepada Allah. Di dalam kitab
suci itu mereka akan dapat petunjuk akan hal-hal yang halal dan haram,
perbuatan yang baik yang diredhai oleh Allah di samping
perbuatan-perbuatan yang mungkar yang dapat mengakibatkan dosa dan
murkanya Tuhan.
Maka setelah perjuangan menghadapi Fir'aun dan kaumnya yang telah
tenggelam binasa di laut, selesai, Nabi Musa memohon kepada Allah agar
diberinya sebuah kitab suci untuk menjadi pedoman dakwah dan
risalahnya kepada kaumnya. Lalu Allah memerintahkan kepadanya agar
untuk itu ia berpuasa selama tiga puluh hari penuh, iaiut semasa bulan
Zulkaedah. Kemudian pergi ke Bukit Thur Sina di mana ia akan diberi
kesempatan bermunajat dengan Tuhan serta menerima kitab penuntun yang
diminta.
Setelah berpuasa selama tiga puluh hari penuh dan tiba saat ia harus
menghadap kepada Allah di atas bukit Thur Sina Nabi Musa merasa segan
akan bermunajat dengan Tuhannya dalam keadaan mulutnya berbau kurang
sedap akibat puasanya. Maka ia menggosokkan giginya dan mengunyah
daun-daunan dalam usahanya menghilangkan bau mulutnya. Ia ditegur oleh
malaikat yang datang kepadanya atas perintah Allah. Berkatalah
malaikat itu kepadanya: "Hai Musa, mengapakah engkau harus
menggosokkan gigimu untuk menghilangkan bau mulutmu yang menurut
anggapanmu kurang sedap, padahal bau mulutmu dan mulut orang-orang yang
berpuasa bagi kami adalah lebih sedap dan lebih wangi dari baunya
kasturi. Maka akibat tindakanmu itu, Allah memerintahkan kepadamu
berpuasa lagi selama sepuluh hari sehingga menjadi lengkaplah masa
puasamu sepanjang empat puluh hari."
Nabi Musa mengajak tujuh puluh orang yang telah dipilih diantara
pengikutnya untuk menyertainya ke bukit Thur Sina dan mengangkat Nabi
Harun sebagai wakilnya mengurus serta memimpin kaum yang ditinggalkan
selama kepergiannya ke tempat bermunajat itu.
Pada saat yang telah ditentukan tibalah Nabi Musa seorang diri di
bukit Thur Sina mendahului tujuh puluh orang yang diajaknya turut
serta. Dan ketika ia ditanya oleh Allah: "Mengapa engkau datang
seorang diri mendahului kaummu, hai Musa?" Ia menjawab: "Mereka sedang
menyusul di belakangku, wahai Tuhanku. Aku cepat-cepat datang lebih
dahulu untuk mencapai redha-Mu."
Berkatalah Musa dalam munajatnya dengan Allah: "Wahai Tuhamku, nampakkanlah zat-Mu kepadaku, agar aku dapat melihat-Mu"
Allah berfirman: "Engkau tidak akan sanggup melihat-Ku, tetapi cubalah
lihat bukit itu, jika ia tetap berdiri tegak di tempatnya sebagaimana
sedia kala, maka nescaya engkau akan dapat melihat-Ku." Lalu
menolehlah Nabi Musa mengarahkan pandangannya kejurusan bukit yang
dimaksudkan itu yang seketika itu juga dilihatnya hancur luluh masuk
ke dalam perut bumi tanpa menghilangkan bekas. Maka terperanjatlah
Nabi Musa, gementarlah seluruh tubuhnya dan jatuh pengsan.
Setelah ia sedar kembali dari pengsannya, bertasbih dan bertahmidlah
ia seraya memohon ampun kepada Allah atas kelancangannya itu dan
berkata: "Maha Besarlah Engkau wahai Tuhanku, ampunilah aku dan
terimalah taubatku dn aku akan menjadi orang yang pertama beriman
kepada-Mu."
Dalam kesempatan bermunajat itu, Allah menerimakan kepada Nabi Musa
kitab suci "Taurat" berupa kepingan-kepingan batu-batu atau kepingan
kayu menurut sementara ahli tafsir yang di dalamnya tertulis segala
sesuatu secara terperinci dan jelas mengenai pedoman hidup dan
penuntun kepada jalan yang diredhai oleh Allah.
Allah mengiring pemberian "Taurat" kepada Musa dengan firman-Nya:
"Wahai Musa, sesungguhnya Aku telah memilih engkau lebih dari
manusia-manusia yang lain di masamu, untuk membawa risalah-Ku dan
menyampaikan kepada hamba-hamba-Ku. Aku telah memberikan kepadamu
keistimewaan dengan dapat bercakap-cakap langsung dengan Aku, maka
bersyukurlah atas segala kurnia-Ku kepadamu dan berpegang teguhlah
pada apa yang Aku tuturkan kepadamu. Dalam kitab yang Aku berikan
kepadamu terhimpun tuntunan dan pengajaran yang akan membawa Bani
Isra'il ke jalan yang benar, ke jalan yang akan membawa kebahagiaan
dunia dan akhirat bagi mereka. Anjurkanlah kaummu Bani Isra'il agar
mematuhi perintah-perintah-Ku jika mereka tidak ingin Aku tempatkan
mereka di tempat-tempat orang-orang yang fasiq."
Bacalah
tentang kisah munajat Nabi Musa ini, surah "Thaha" ayat 83 dan 84 dan
surah "Al-a'raaf" ayat 142 sehingga ayat 145 sebagaimana berikut :~
"83~ Mengapa kamu datang lebih cepat daripada kaummu, hai Musa?" 84~
Berkata Musa: "Itulah mereka sedang menyusuli aku dan aku bersegera
kepadamu ya Tuhanku, agar supaya Engkau redha kepadaku." { Thaha : 83 ~
84 }
"142~ Dan Kami telah janjikan kepada Musa {memberikan Taurat} sesudah
berlalu waktu tiga puluh malam dan Kami sempurnakan jumlah malam itu
dengan sepuluh {malam lagi}, maka sempurnalah waktu yang telah
ditentukan Tuhannya empat puluh malam. Dan berkata Musa kepada
saudaranya, yaitu Harun: "Gantilah aku dalam {memimpin} kaumku dan
perbaikilah dan janganlah kamu mengikuti jalan orang-orang yang
membuat kerusakkan". 143~ Dan tatkala Musa datang untuk {munajat} dengan
{Kami} pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman
{langsung} kepadanya, berkatalah Musa: "Ya Tuhanku nampakkanlah {Zat
Engkau} kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau." Tuhan
berfirman: "Kamu sesekali tidak sanggup melihat-Ku, tetapi melihatlah
ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya {sebagai sediakala}
nescaya kamu dapat melihat-Ku." Tatkala Tuhannya nampak bagi gunung
itu, kejadian itu menjadikan gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh
pengsan. Maka setelah Musa sedar kembali, dia berkata: "Maha Suci
Engkau, aku bertaubat kepada-Mu dan aku orang yang pertama beriman."
144~ Allah berfirman: "Hai Musa sesungguhnya Aku memilih kamu lebih
dari manusia yang lain {di masamu} untuk membawa risalah-Ku dan untuk
berbicara langsung dengan-Ku sebab itu berpegang teguhlah kepada apa
yang Aku berikan kepadamu dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang
bersyukur." 145~ Dan Kami telah tuliskan untuk Musa luluh {Taurat}
segala sesuatu sebagai pengajaran bagi sesuatu. Maka Kami berfirman:
"Berpeganglah kepadanya dengan teguh dan suruhlah kaummu berpegang
kepada {perintah-perintahnya} yang sebaik-baiknya, nanti Aku akan
memperlihatkan kepadamu negeri orang-orang yang fasiq." { Al-A'raaf:
142 ~ 145 }
Bani Isra'il kembali menyembah patung anak lembu
Nabi
Musa berjanji kepada Bani Isra'il yang ditinggalkan di bawah pimpinan
Nabi Harun bahwa ia tidak akan meninggalkan mereka lebih lama dari
tiga puluh hari, dalam perjalananya ke Thur Sina untuk berminajat
dengan Tuhan. Akan tetapi berhubung dengan adanya perintah Allah
kepada Musa untuk melengkapi jumlah hari puasanya menjadi empat puluh
hari, maka janjinya itu tidak dapat ditepati dan kedatangannya kembali
ke tengah-tengah mereka tertunda menjadi sepuluh hari lebih lama drp
yang telah dijanjikan.
Bani Isra'il merasa kecewa dan menyesalkan kelambatan kedtgan Nabi
Musa kembali ke tengah-tengah mrk. Mrk menggerutu dan mengomel dengan
melontarkan kata-kata kepada Nabi Musa seolah-olah ia telah
meninggalkan mrk dalam kegelapan dan dalam keadaan yang tidak menentu.
Mrk merasa seakan-akan telah kehilangan pimpinan yang biasanya
memberi bimbingan dan petunjuk-petunjuk kepada mrk.
Keadaan yang tidak puas dan bingung yang sedang meliputi kelompok Bani
Isra'il itu, digunakan oleh seprg munafiq, bernama Samiri yang telah
berhasil menyusup ke tengah-tengah mrk, sebagai kesempatan yang baik
untuk menyebarkan benih syiriknya dan merusakkan akidah para pengikut
Nabi Musa yang baru saja menerima ajaran tauhid dan iman kepada Allah.
Samiri yang munafiq itu menghasut mrk dengan kata-kata bahwa Musa
telah tersesat dalam tugasnya mencari Tuhan bagi mereka dan bahawa dia
tidak dapat diharapkan kembali dan karena itu dianjurkan oleh Samiri
agar mereka mencari tuhan lain sebagai ganti dari Tuhan Musa.
Samiri melihat bahwa hasutan itu dapat menggoyahkan iman dan akidah
pengikut-pengikut Musa yang memang belum meresapi benar ajaran tauhidnya
segera membuat patung bagi mereka untuk disembah sebagai tuhan
pengganti Tuhannya Nabi Musa. PAtung itu berbentuk anak lembu yang
dibuatnya dari emas yang dikumpulkan dari perhiasan-perhiasan para
wanita. Dengan kepandaian tektiknya patung itu dibuat begitu rupa
sehingga dapat mengeluarkan suara menguap seakan-akan anak lembu sejati
yang hidup. Maka diterimalah anak patung lembu itu oleh Bani Isra'il
pengikut Nabi Musa yang masih lemah iman dan akidahnya itu sebagai
tuhan persembahan mereka.
Ditegurlah mereka oleh Nabi Harun yang berkata: "Alangkah bodohnya
kamu ini! Tidakkah kamu melihat anak lembu yang kamu sembah ini tidak
dapat bercakap-cakap dengan kamu dan tidak pula dapat menuntun kamu ke
jalan yang benar. Kamu telah menganiaya diri kamu sendiri dengan
menyembah pada sesuatu selain Allah."
Teguran Nabi Harun itu dijawab oleh mereka yang telah termakan hasutan
Samiri itu dengan kata-kata: "Kami akan tetap berpegang pada anak
lembu ini sebagai tuhan persembahan kami sampai Musa kembali ke
tengah-tengah kami."
Nabi Harun tidak dapat berbuat banyak menghadapi kaumnya yang telah
berbalik menjadi murtad itu, karena ia khuatir kalau mereka dihadapi
dengan sikap yang keras, akan terjadi perpecahan di antara mereka dan
akan menjadi keadaan yang lebih rumit dan gawat sehingga dapat
menyulitkan baginya dan bagi Nabi Musa kelak bila ia datang untuk
mencarikan jalan keluar dari krisis iman yang melanda kaumnya itu. Ia
hanya memberi peringatan dan nasihat kepada mereka sambil menanti
kedatangan Musa kembali dari Thur Sina.
Dalam pada itu, Nabi Musa setelah selesai bermunajat dengan Tuhan dan
dalam perjalanannya kembali ke tempat di mana kaumnya sedang menunggu
memperolehi isyarat tentang apa yang telah terjadi dan dialami oleh
Nabi Harun selama ketiadaannya. Nabi Musa sgt marah dan sedih hati
tatkala ia tiba di tempat dan melihat kaumnya sedang berpesta
mengelilingi anak patung lembu emas, menyembahnya dan memuji-mujinya.
Dan karena sgt marah dan sedihnya ia tidak dapat menguasai dirinya,
kepingan-kepingan Taurat dilemparkan berantakan. Harun saudaranya
dipegang rambut kepalanya ditarik kepadanya seraya berkata menegur:
"Apa yang engkau buat tatkala engkau melihat mereka tersesat dan
terkena oleh hasutan dan fitnahan Samiri? Tidakkah engkau mematuhi
perintahku dan pesanku ketika aku menyerahkan mereka kepadamu untuk
engkau pimpin? Tidakkah engkau berdaya melawan hasutan Samiri dengan
memberi petunjuk dan penerangan kepada mereka dan mengapa engkau tidak
cepat memadamkan api kemurtadan ini sebelum menjadi besar begini?"
Harun berkata menanggapi teguran Musa: "Hai anak ibuku, janganlah
engkau memegang jangut dan rambut kepalaku, menarik-narikku. Aku telah
berusaha memberi nasihat dan teguran kepada mereka, namun mereka tidak
mengindahkan kata-kataku. Mereka menganggapkan aku lemah dan
mengancam akan membunuhku. Aku khawatir jika aku menggunakan sikap dan
tindakan yang keras, akan terjadi perpecahan dan permusuhan di antara
sesama kita, hal mana akan menjadikan engkau lebih marah dan sedih.
Lepaskanlah aku dan janganlah membuatkan musuh-musuhku bergembira
melihat perlakuanmu terhadap diriku. Janganlah disamakan aku dengan
orang-orang yang zalim."
Setelah mereda rasa jengkel dan sedihnya dan memperoleh kembali
ketenangannya, berkatalah Nabi Musa kepada Samiri, orang munafiq yang
menjadi biang keladi dari kekacauan dan kesesatan itu: "Hai Samiri,
apakah yang mendorongmu menghasut dan menyesatkan kaumku, sehingga
mereka kembali menjadi murtad, menyembah patung yang engkau buatkan
dari emas itu?"
Samiri menjawab: "Aku telah melihat sesuatu yang mereka tidak
melihatnya. Aku telah melihat kuda malaikat Jibril. aku mengambil
segenggam tanah bekas jejak telapak kakinya itu, lalu aku lemparkannya
ke dalam emas yang mencair di atas api dan terjadilah patung anak
lembu yang dapat menguak, mengeluarkan suara sebagaimana anak lembu
biasa.Demikianlah hawa nafsuku membujukku untuk berbuat itu."
Berkata Nabi Musa kepada Samiri: "Pergilah engkau dan jauhilah
pergaulan manusia sebab karena perbuatan kamu itu engkau harus
dipencilkan dan menjadi tabu {sesuatu yang terlarang} jika disentuh
atau menyentuh seseorang ia akan menderita sakit demam panas. Ini
adalah ganjaranmu di dunia, sedang di akhirat nerakalah akan menjadi
tempatmu. Dan tuhanmu yang engkau buat dan sembah ini kami akan bakar
dan campakkannya ke dalam laut."
Kemudian berpalinglah Nabi Musa kepada kaumnya berkata: "Hai kaumku,
alangkah buruknya perbuatan yang kamu telah kerjakan setelah
kepergianku! Apakah engkau hendak mendahului janji Tuhanmu? Bukankah
Tuhanmu telah menjanjikan kepadamu janji yang baik, berupa kitab suci?
Ataukah engkau menghendaki kemurkaan Tuhan menimpa atas dirimu,
karena perbuatanmu yang buruk itu dan perlanggaranmu terhadap
perintah-perintah dan ajaran-ajaranku."
Kaum Musa menjawab: "Kami tidak sesekali melanggar perjanjianmu dengan
kemahuan kami sendiri, akan tetapi kami disuruh membawa beban-beban
perhiasan yang berat kepunyaan orang Mesir yang atas anjuran Samiri
kami lemparkan ke dalam api yang sedang menyala. Kemudian
perhiasan-perhiasan yang kami lemparkan itu menjelma menjadi patung
anak lembu yang bersuara, sehingga dapat menyilaukan mata kepala kami
dan menggoyahkan iman yang sudah tertanam di dalam dada kami."
Berkata Musa kepada mrk: "Sesungguhnya kamu telah berbuat dosa besar
dan menyia-nyiakan dirimu sendiri dengan menjadikan patung anak lembu
itu sebagai persembahanmu, maka bertaubatlah kamu kepada Tuhan,
Penciptamu dan Pencipta alam semesta dan mohonlah ampun drpnya agar Dia
menunjukkan kembali kepada jalan yang benar."
Akhirnya kaum Musa itu sedar atas kesalahannya dan mengakui bahwa
mereka telah disesatkan oleh syaitan dan memohon ampun dan rahmat
Allah agar selanjutnya melindungi mereka dari godaan syaitan dan iblis
yang akan merugikan mereka di dunia dan akhirat. Demikian pula Nabi
Musa beristighfar memohon ampun baginya dan bagi Harun saudaranya
setalah ternyata bahwa ia tidak melalaikan tugasnya sebagai wakil Musa
dalam menghadapi krisis iman yang dialami oleh kaumnya. Berdoa Musa
kepada Tuhannya: "Ya Tuhanku, ampunilah aku dan saudaraku dan
masukkanlah kami berdua ke dalam lingkaran rahmat-Mu sesungguhnya
Engkaulah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
Setelah suasana yang meliputi hubungan Musa dengan Harun di satu pihak
dan hubungan mereka berdua dengan kaumnya di lain pihak menjadi
tenang kembali, kepingan-kepingan Taurat yang bertaburan sudah dihimpun
dan disusun sebagaimana asalnya, maka Allah memerintahkan kepada Musa
agar membawa sekelompok dari kaumnya menghadap untuk meminta ampun
atas dosa mereka menyembah patung anak lembu.
Tujuh puluh orang dipilih oleh Nabi Musa di antara kaumnya untuk
diajak pergi bersama ke Thur Sina memenuhi perintah Allah meminta ampun
atas dosa kaumnya. Mereka diperintahkan untuk keperluan itu agar
berpuasa, mensucikan diri, pakaian mereka dan pada waktu yang telah
ditentukan berangkatlah Nabi Musa bersama tujuh puluh orang itu menuju
ke bukit Thur Sina.
Setiba mereka di Thur Sina turunlah awan yang tebal meliputi seluruh
bukit, kemudian masuklah Nabi Musa diikuti para pengikutnya ke dalam
awan gelap itu dan segera mereka bersujud. Dan sementara bersujud
terdengarlah oleh kelompok tujuh puluh itu percakapan Nabi Musa dengan
Tuhannya. Pada saat itu timbullah dalam hati mereka keinginan untuk
melihat Zat Allah dengan mata kepala mereka setelah mendengar
percakapan-Nya dengan telinga.Maka setelah selesai Nabi Musa
bercakap-cakap dengan Allah berkatalah mereka kepadanya: "Kami tidak
akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan terang." Dan
sebagai jawapan atas keinginan mereka yang menunjukkan keingkaran dan
ketakaburan itu, Allah seketika itu juga mengirimkan halilintar yang
menyambar dan merenggut nyawa mereka sekaligus.
Nabi Musa merasa sedih melihat nasib fatal yang menimpa kelompok tujuh
puluh orang yang merupakan orang-orang yang terbaik di antara
kaumnya. Ia berseru memohon kepada Allah agar diampuni dosa mereka
seraya berkata: "Wahai Tuhanku, aku telah pergi ke Thur Sina dengan
tujuh puluh orang yang terbaik di antara kaumku kemudian aku akan
kembali seorang diri, pasti kaumku tidak akan mempercayaiku. Ampunilah
dosa mereka, wahai Tuhanku dan kembalilah kepada mereka nikmat hidup
yang Engkau telah cabut sebagai pembalasan atas keinginan dan
permintaan mereka yang durhaka itu."
Alah memperkenankan doa Musa dan permohonannya dengan dihidupkan
kembali kelompok tujuh puluh orang itu, maka bangunlah mereka
seakan-akan orang yang baru sedar dari pengsannya. Kemudian pada
kesempatan itu Nai Musa mengambil janji dari mereka bahwa mereka akan
berpegangan teguh kepada kitab Taurat sebagai pedoman hidup mereka
melaksanakan perinta-perintahnya dan menjauhi segala apa yang
dilarangnya.
Pokok cerita
yang dihuraikan di atas, dikisahkan oleh Al-Quran dalam banyak
tempat, di antaranya surah "Thaha" ayat 85 sehingga 98, surah
"Al-A'raaf ayat 149, 151, 154, 155 dan surah "Al-Baqarah" ayat 55, 56,
63 dan 64 sebagai berikut :~
"85~ Allah berfirman: "Maka sesungguuhnya Kami telah menguji kaummu
sesudah kamu tinggalkan dan mereka telah disesatkan oleh Samiri." 86~
Kemudian Musa kembali kepada kaumnya, bukankah Tuhanmu telah
menjanjikan kepadamu suatu janji yang baik? Maka apakah terasa lama
masa yang berlalu itu bagimu atau kamu melanggar perjanjian dengan
aku?" 87~ Mereka berkata: "Kami sesekali tidak melanggar perjanjian
kamu dengan kemahuan kami sendiri, tetapi kami disuruh membawa
beban-beban dari perhiasan kaum itu, maka kami telah melemparkannya,
dan demikian pula Samiri melemparkannya." 88~ Kemudian Samiri
mengeluarkan untuk mrk anak lembu yang bertubuh dan bersuara, maka
mereka berkata: "Inilah tuhanmu dan tuhan Musa tetapi Musa telah
lupa." 89~ Maka apakah mereka tidak memperhatikan bahawapatung anak
lembu itu tidak dapat memberi jawapan kepada mereka dan tidak dapat
memberi kemudharatan kepada mereka dan tidak pula kemanfaatan? 90~ Dan
sesungguhnya Harun telah berkata kepada mereka sebelumnya: " Hai
kaumku, sesungguhnya kamu itu hanya diberi cubaan dengan anak lembu
itu dan sesungguhnya Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Pemurah maka
ikutilah aku dan taatilah perintahku." 91~ Mereka menjawab: "Kami akan
tetap menyambah patung anak lembu ini, hingga Musa kembali kepada
kami." 92~ Berkata Musa: "Hai Harun, apa yang menghalangi kamu ketika
kamu melihat telah tersesat, 93~ {sehingga} kamu tidak mengikuti aku?
Maka apakah kamu telah sengaja mendurhakai perintahku?" 94~ Harun
menjawab: "Hai putera ibuku, janganlah kamu pegang jangutku dan jangan
pula kepalaku; sesungguhnya aku khuatir bahawa kamu akan berkata
{kepadaku}: " Kamu telah memecah antara Bani Isra'il dan kamu tidak
memelihara amanatku." 95~ Berkatalah Musa: "Apakah yang mendorongmu
{berbuat demikian} hai Samiri?" 96~ Samiri menjawab: "Aku mengetahui
sesuatu yang mereka tidak mengetahuinya maka aku ambil segenggam aari
jejak rasul, lalu aku melemparkannya dan demikianlah nafsuku
membujukku." 97~ berkata Musa: "Pergilah kamu, maka sesungguhnya bagi
kamu di dalam kehidupan di dunia ini hanya dapat menyatakan : Janganlah
menyantuh {aku}." Dan sesungguuhnya bagimu hukuman {di akhirat} yang
kami sesekali tidak dapat menghindarinya dan lihatlah tuhanmu itu yang
kamu tetap menyembahnya. Sesungguhnya kami akan membakarnya kemudian
kami sesungguhnya akan menghamburkannya ke dalam laut {berupa abu yang
berserakan} 98~ Sesungguhnya Tuhanmu hanyalah Allah yang tidak ada
Tuhan selain Dia. Pengetahuan-Nya meliputi segala sesuatu." { Thaha :
85 ~ 98 }
"149~ Dan setelah mereka sgt menyesali perbuatanya dari mengetahui
bahwa mereka telah sesat, mereka pun berkata: "Sesungguhnya jika Tuhan
kami tidak memberi rahmat kepada kami dan tidak mengampuni kami
pastilah kami menjadi orang-orang yang rugi." { Al-A'raaf : 149 }
"151~ Musa berdoa: "Ya Tuhanku ampunilah aku dan saudaraku dan
masukkanlah kami ke dalam rahmat Engkau dan Engkau adalah Maha
Penyayang di antara para Penyayang." { Al-A'raaf : 151 }
"154~ Sesudah amarah Musa menjadi reda, lalu diambilnya kembali
luh-luh {Taurat} itu; dan dalam tulisannya terdpt petunjuk dan
rahmatbutk orang-orang yang takut kepada Tuhannya. 155~ Dan Musa
memilih tujuh puluh orang dari kaumnya untuk {memohonkan taubat kepada
Kami} pada waktu yang telah Kami tentukan. Mak ketika mereka digoncang
genpa bumi Musa berkata: "Ya Tuhanku! kalau Engkau kehendaki tentulah
Engkau telah membinasakan mereka dan aku sebelum ini. Apakah Engkau
akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang krg akal di
antara kami? Itu hanyalah cubaan dari Engkau, Engkau sesatkan dengan
cubaan itu siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau beri petunjuk kepada
siapa yang Engkau kehendaki. Engkaulah yang memimpin kami maka
ampunilah kami dan berikanlah kepada kami rahmat dan Engkaulah Pemberi
ampun sebaik-baiknya." { Al-A'raaf : 154 ~ 155 }
"55~ Dan {ingatlah} ketika kamu berkata: "Hai Musa, kami tidak akan
beriman kepadamu, sebelum kami melihat Allah dengan terang karena itu
kamu disambar halilintar, sedang kamu menyaksikannya" 56~ Setelah itu
Kami bangkitkan kamu sesudah kamu mati, supaya kamu bersyukur." {
Al-Baqarah : 55 ~ 56 }
"63~ Dan {ingatlah} ketika Kami mengambil janji dari kamu dan Kmai
angkatkan gunung { Thur Sina } di atas {seraya Kami berfirman} :
"Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan kepadamu dan ingatlah
selalu apa yang ada di dalamnya, agar kamu bertakwa. Kemudian kamu
berpaling setelah {adanya perjanjian} itu, maka kalau tidak ada kurnia
Allah dan rahmat-Nya atasmu, nescaya kamu tergolong orang yang rugi." {
Al-Baqarah : 63 ~ 64 }
Bani Isra'il mengembara tidak berketentuan tempat tinggalnya
Tidak
kurang-kurang kurniaan Allah yang diberikan kepada kaum Bani Isra'il.
Mereka telah dibebaskan dari kekuasaan Fir'aun yang kejam yang telah
menindas dan memperhambakan mereka berabad-abad lamanya. Telah
diperlihatkan kepada mereka bagaimana Allah telah membinasakan Fir'aun ,
musuh mereka tenggelam di laut. Kemudian tatkala mereka berada di
tengah-tengah padang pasir yang kering dan tandus, Allah telah
memancarkan air dari sebuah batu dan menurunkan hidangan makanan "Manna
dan Salwa" bagi keperluan mereka.
Di samping itu Allah mengutuskan beberapa orang rasul dan nabi dari
kalangan mererka sendiri untuk memberi petunjuk dan bimbingan kepada
mereka. Akan tetapi kurnia dan nikmat Allah yang susul-menyusul yang
diberikan kepada mereka, tidaklah mengubah sifat-sifat mereka yang
tidak mengenal syukur, berkeras kepala dan selalu membangkang terhadap
perintah Allah yang diwahyukan kepada rasul-Nya.
Demikianlah tatkala Allah mewahyukan perintah-Nya kepada Nabi Musa
untuk memimpin kaumnya pergi ke Palestin, tempat suci yang telah
dijanjikan oleh Allah kepada Nabi Ibrahim untuk menjadi tempat tinggal
anak cucunya, mereka membangkang dan enggan melaksanankan perintah
itu. Alasan penolakan mereka ialah karena mereka harus menghadapi suku
"Kana'aan" yang menurut anggapan mereka adalah orang-orang yang kuat
dan perkasa yang tidak dapat dikalahkan dan diusir dengan aduan
kekuatan. Mereka tidak mempercayai janji Allah melalui Musa, bahwa
dengan pertolongan-Nya mereka akan dapat mengusir suku Kan'aan dari
kota Ariha untuk dijadikan tempat pemukiman mereka selama-lamanya.
Berkata mereka tanpa malu, menunjuk sifat pengejutnya kepada Musa:
"Hai Musa, kami tidak akan memasuki Ariha sebelum orang-orang suku
Kan'aan itu keluar. KAmi tidak berdaya menghadapi mereka dengan
kekuatan fizikal kerana mereka telah terkenal sebagai orang-orang yang
kuat dan perkasa. Pergilah engkau berserta Tuhanmu memerangi dan
mengusir orang-orang suku Kan'aan itu dan tinggalkanlah kami di sini
sambil menanti hasil perjuanganmu."
Naik pitamlah Nabi Musa melihat sikap kaumnya yang pengecut itu yang
tidak mau berjuang dan memeras keringat untuk mendapat tempat
pemukiman tetapi ingin memperolehnya secara hadiah atau melalui
mukjizat sebagaimana mereka telah mengalaminya dan banyak peristiwa.
Dan yang menyedihkan hati Musa ialah kata-kata mengejek mereka yang
menandakan bahwa dada mereka masih belum bersih dari benih kufur dan
syirik kepada Allah.
Dalam keadaan marah setelah mengetahui bahawa tiada seorang drp
kaumnya yang akan mendampinginya melaksanakan perintah Allah itu,
berdoalah Nai Musa kepada Allah: "Ya Tuhanku, aku tidak menguasai
selain diriku dan diri saudaraku Harun, maka pisahkanlah kami dari
orang-orang yang fasiq yang mengingkari nikmat dan kurnia-Mu."
Sebagaimana hukuman bagi Bani Isra'il yang telah menolak perintah
Allah memasuki Palestin, Allah mengharamkan negeri itu atas mereka
selama empat puluh tahun dan selama itu mereka akan mengembara
berkeliaran di atas bumi Allah tanpa mempunyai tempat mukim yang tetap.
Mereka hidup dalam kebingungan sampai musnahlah mereka semuanya dan
datang menyusul generasi baru yang akan mewarisi negeri yang suci itu
sebagaimana yang telah disanggupkan oleh Allah kepada Nabi Ibrahim
a.s.
Pokok cerita tersebut di atas dikisahkan oleh Al-Quran dalam surah "Al-Maidah ayat 20 sehingga ayat 26 sebagaimana berikut :
"20~ Dan {ingatlah} ketika Musa berkata kepada kaumnya: "Hai kaumku,
ingatlah nikmat Allah atasmu ketika Dia mengangkat nabi-nabi di
antaramu, dan dijadikannya kamu orang-orang merdeka dan diberi-Nya
kepada mu apa yang belum pernah diberi-Nya kepada seorang pun di antara
umat-umat yang lain." 21~ HAi kaumku, masuklah ke tanah suci
{Palestin} yang telah ditentukan oleh Allah bagimu dan janganlah kamu
lari kebelakang {karena takut kepada musuh} maka kamu akan menjadi
orang-orang yang rugi. 22~ Mereka berkata: "Hai Musa, sesungguhnya
dalam negeri itu ada orang-orang yang gagah perkasa sesungguhnya kami
tidak sesekali akan memasukinya sebelum mereka keluar drpnya. Jika
mereka keluar drpnya, pasti kami akan memasukinya" 23~ Berkatalah dua
orang di antara orrg-orang yang takut {kepada Allah} yang Allah telah
memberi nikmat atas keduanya: " Serbulah mereka melalui pintu gerbang
{kota} itu, maka bila kamu memasukinya nescaya kamu akan menang. Dan
hanya kepada Allah hendaklah kamu bertawakkal, jika kamu orang-orang
yang beriman." 24~ Mereka berkata: "Hai Musa, kami sesekali tidak akan
memasuki selama-lamanya selagi mereka ada di dalamnya karena itu
pergilah kamu bersama Tuhanmu dan berperanglah kamu berdua,
sesungguhnya kami hanya duduk menanti disini saja." 25~ Berkata Musa:
"Ya Tuhanku, aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudaraku.
Sebab itu pisahkanlah antara kami dengan orang-orang yang fasiq itu."
26~ Allah berfirman : {Jika demikian} maka sesungguhnya negeri itu
diharamkan atas mereka selama empat puluh tahun {selama itu} mereka
akan berpusing-pusing kebingungan di bumi itu. Maka janagnlah kamu
bersedih hati {memikirkan nasib} orang-orang yang fasiq itu." {
Al-Maidah : 20 ~ 26 }
Kisah sapi Bani Isra'il
Salah
satu dari beberapa mukjizat yang telah dinerikan oleh Allah kepada
Nabi Musa ialah penyembelihan sapi yang terkenal dengan sebutan sapi
Bani ISra'il.
Dikisahkan bahwa ada seorang anak laki-laki putera tunggal dari
seorang kaya-raya memperolehi warisan harta peninggalan yang besar
dari ayahnya yang telah wafat tanpa meninggalkan seorang pewaris
selain putera tunggalnya itu.
Saudara-saudara sepupu dari putera tunggal itu iri hati dan ingin
menguasai harta peninggalan yang besar itu atau setidak-tidaknya
sebahagian daripadanya. Dan kerana menurut hukum yang berlaku pada
waktu itu yang tidak memberikan hak kepada mereka untuk memperoleh
walau sebahagian dari peninggalan bapa saudara mereka , mereka
bersekongkol untuk membunuh saudara sepupu pewaris itu, sehingga bila
ia sudah mati hak atau warisan yang besar itu akan jatuh kepada
mereka.
Pembunuh atas pewaris sah itu dilaksanakan menurut rencana yang
tersusun rapi kemudian datanglah mereka kepada Nabi Musa melaporkan,
bahwa mereka telah menemukan saudara sepupunya mati terbunuh oleh
seorang yang tidak dikenal identitinya mahupun tempat di mana
iamenyembunyikan diri. Mereka mengharapkan Nabi Musa dapat menyingkap
tabir yang menutupi peristiwa pembunuhan itu serta siapakah gerangan
pembunuhnya.
Utk keperluan itu, Nabi Musa memohon pertolongan Allah yang segera
menwahyukan perintah kepadanya agar ia menyembelih seekor sapi dan
dengan lidah sapi yang disembelih itu dipukullah mayat sang korban
yang dengan izin Allah akan bangun kembali memberitahukan siapakah
sebenarnya yang telah melakukan pembunuhan atas dirinya.
Tatkala Nabi Musa menyampaikan cara yang diwahyukan oleh Allah itu
kepada kaumnya ia ditertawakan dan diejek karena akal mereka tidak
dapat menerima bahwa hal yang sedemikian itu boleh terjadi. Mereka
lupa bahwa Allah telah berkali-kali menunjukkan kekuasaan-Nya melalui
mukjizat yang diberikan kepada Musa yang kadang kala bahkan lebih hebat
dan lebih sukar untuk diterima oleh akal manusia berbanding mukjizat
yang mereka hadapi dalam peristiwa pembunuhan pewaris itu.
Berkata mereka kepada Musa secara mengejek: "Apakah dengan cara yang
engkau usulkan itu, engkau bermaksud hendak menjadikan kami bahan
ejekan dan tertawaan orang? Akan tetapi kalau memang cara yang engkau
usulkan itu adalah wahyu, maka cubalah tanya kepada Tuhanmu, sapi
betina atau jantankah yang harus kami sembelih? Dan apakah
sifat-sifatnya serta warna kulitnya agar kami tidak dapat salah memilih
sapi yang harus kami sembelih?"
Musa menjawab: "Menurut petunjuk Allah, yang harus disembelih itu
ialah sapi betina berwarna kuning tua, belum pernah dipakai untuk
membajak tanah atau mengairi tanaman tidak cacat dan tidak pula ada
belangnya."
Kemudian dikirimkanlah orang ke pelosok desa dan kampung-kampung
mencari sapi yang dimaksudkan itu yang akhirnya diketemukannya pd
seorang anak yatim piatu yang memiliki sapi itu sebagai satu-satunya
harta peninggalan ayahnya serta menjadi satu-satunya sumber nafkah
hidupnya. Ayah anak yatim itu adalah seorang fakir miskin yang soleh,
ahli ibadah yang tekun yang pada saat mendekati waktu wafatnya,
berdoalah kepada Allah memohon perlindungan bagi putera tunggalnya
yang tidak dapat meninggalkan warisan apa-apa baginya selain seekor
sapi itu. Maka berkat doa ayah yang soleh itu terjuallah sapi si anak
yatim itu dengan harga yang berlipat ganda karena memenuhi syarat dan
sifat-sifat yang diisyaratkan oleh Musa untuk disembelih.
Setelah disembelih sapi yang dibeli dari anak yatim itu, diambillah
lidahnya oleh Nabi Musa, lalu dipukulkannya pada tubuh mayat, yang
seketika bangunlah ia hidup kembali dengan izin Allah, menceritakan
kepada Nabi Musa dan para pengikutnya bagaimana ia telah dibunuh oleh
saudara-saudara sepupunya sendiri.
Demikianlah mukjizat Allah yang kesekian kalinya diperlihatkan kepada
Bani Isra'il yang keras kepala dan keras hati itu namun belum juga
dapat menghilangkan sifat-sifat congkak dan membangkang mereka atau
mengikis-habis bibit-bibit syirik dan kufur yang masih melekat pada
dada dan hati mereka.
Ayat-ayat Al-Quran yang mengisahkan pokok cerita di atas, terdapat
dalam surah "Al-Baqarah ayat 67 sehingga 73 sebagaimana tersebut di
bawah ini :~
"67~ Dan {ingatlah} ketika Musa berkata kepada kaumnya: "Sesungguhnya
Allah menyuruh kamu menyembelih sapi betina." Mereka berkata: "Apakah
kamu hendak menjadikan kami buah ejekan." Musa menjawab: "Aku
berlindung kepada Allah drp menjadi salah seorang dari orang-orang
yang jahil." 68~ Mrk menjawab: "Mohonlah kepada Tuhanmu untuk kami,
agar Dia menerangkan kepada kami sapi betina apakah itu? Musa
menjawab: "Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah
sapi betina yang tidak tua dan tidak muda pertengahan antara itu maka
kerjakanlah apa yang telah diperintahkan kepadamu." 69~ Mereka berkata:
"Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menerangkan kepada
kami apakah warnanya. Musa menjawab: "Sesungguhnya Allah berfirman
bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang kuning tua warnanya,
lagi menyenangkan orang-orang yang memandangnya." 70~ Mrk berkata:
"Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami
bagaimana hakikat sapi betina itu, karena sesungguhnya sapi itu
{masih} samar bagi kami dan sesungguhnya kami insya-Allah akan dat
petunjuk." 71~ Musa berkata: "Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi
betina adalah sapi betina yang belum pernah dipakai untuk membajak
tanah dan tidak pula untuk mengairi tanaman, tidak cacat, tidak ada
belangnya." Mereka berkata: "Sekarang barulah kamu menerangkan hakikat
sapi betina yang sebenar." Kemudian mereka menyembelihnya dan hampir
saja mereka tidak melaksanakan perintah itu. 72~ Dan {ingatlah} ketika
kamu membunuh seorang manusia lalu kamu saling tuduh menuduh tentang
itu. Dan Allah hendak menyingkapkan apa yang selama ini kamu
sembunyikan. 73~ Lalu Kami berfirman: "Pukullah mayat itu dengan
sebahagian anggota sapi betina itu." Demikianlah Allah menghidupkan
kembali orang-orang yang telah mati dan memperlihatkan padamu
tanda-tanda kekuasaan-Nya agar kamu mengerti." { Al-Baqarah : 67 ~ 73 }
Nabi Musa A.S. dan Al-Khidir
Pada
suatu ketika berpidatolah Nabi Musa di depan kaumnya Bani Isra'il. Ia
berdakwah kepada mereka, memberi nasihat dengan mengingatkan kepada
mereka akan kurnia dan nikmat Allah yang telah dicurahkan kepada mereka
yang sepatutnya diimbangi dengan syukur dan pelaksanaan ibadah yang
tulus, melakukan segala perintah-Nya dan meninggalkan segala
larangan-Nya. Kepada mereka yang beriman, bertaat dan bertakwa, Nabi
Musa menjanjikan pahala syurga dan bagi mereka yang mengingkari nikmat
Allah diancam dengan seksa api neraka.
Begitu Nabi Musa mengakhiri pidatonya bangunlah di antara para hadiri
bertanya kepadanya: "Wahai Musa, siapakah di atas bumi Allah ini
paling pandai dan paling berpengetahuan?" "Aku", jawab Musa. Apakah
tidak ada kiranya orang yang lebih pandai dan lebih berpengetahuan
daripadamu?" Tanya lagi si penanya itu. "Tidak ada" , ujar Musa seraya
berkata dalam hati kecilnya: " Bukankah aku Nabi terbesar di antara
Bani Isra'il? Aku adalah penakluk Fir'aun, pemegang berbagai mukjizat,
yang telah dapat membelah laut dengan tongkatku dan akulah yang
memperoleh kesempatan bercakap-cakap langsung dengan Tuhan. Maka
kemuliaan apa lagi yang dapat melebihi kemuliaan serta kebesaran yang
aku capai itu, yang belum pernah dialami dan dicapai oleh sesiapa pun
sebelum aku."
Rasa sombong dan keunggulan diri yang tercermin dalam kata-kata Nabi
Musa, dicela oleh Allah yang memperingatkan kepadanya bahwa ilmu itu
adalah lebih luas untuk dimiliki oleh seseorang walaupun ia adalah
seorang rasul dan bahwa bagaimana luasnya ilmu dan pengetahuan
seseorang, nescaya akan terdapat orang lain yang lebih pandai dan
lebih alim daripadanya. Selanjutnya untuk melanjutkan kekurangan yang
ada pada diri Nabi Musa Allah memerintahkan kepadanya agar menemui
seorang hamba-Nya di suatu tempat di mana dua lautan bertemu. Hamba
yang soleh yang telah diberinya rahmat dan ilmu oleh Allah itu akan
memberi tambahan pengetahuan dan ilmu kepada Nabi Musa sehingga dapat
menjadikan sedar bahwa tiada manusia yang dapat membanggakan diri
dengan mengatakan bahwa akulah orang yang terpandai dan berpengetahuan
luas di atas bumi ini.
Berkata Musa kepada Tuhan: "Wahai Tuhanku, aku akan pergi mencari
hamba-Mu yang soleh itu, bagi memperolehi bunga api ilmunya dan
mendapat titisan air pengetahuan dan ilham yang Engkau telah berikan
kepadanya."
Allah berfirman kepada Musa: "Bawalah seekor ikan didalam sebuah
keranjang dalam perjalananmu mencari dia dan ketahuilah bahwa di tempat
di mana engkau akan kehilangan ikan di dalam keranjang itu, di situ
engkau akan menemui hamba-Ku yang soleh itu." Nabi Musa menyiapkan
diri untuk perjalanan yang jauh, didampingi oleh "Yusya' bin Nun"
seorang drp para pengikutnya yang setia. Ia membawa bekal makanan dan
minuman di antaranya sebuah keranjang yang terisi seekor ikan sesuai
dengan petunjuk Allah. Ia berkeras hati tidak akan kembali sebelum ia
dapat menemui hamba yang soleh itu walaupun ia harus melakukan
perjalanan yang berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun bila perlu. Ia
berpesan kepada teman sepejalanannya Yusya' bin Nun agar segera
memberitahu kepadanya bilamana ikan yang di dalam keranjang yang
dibawanya itu hilang.
Tatkala Nabi Musa nerserta Yusya' bin Nun sampai di mana dua lautan
bertemu yang telah diisyaratkan dalam firman Allah kepadanya,
tertidurlah ia di atas sebuah batu yang besar yang berada di tepi
lautan. Pada saat ia lagi tidur nyenyak, turunlah hujan rintik-rintik,
membasahi seekor di dalam keranjang itu dan tanpa mereka ketahui
melompatlah ikan tersebut itu masuk ke dalam laut.
Setelah Musa terjaga dari tidurnya, bangunlah mereka meneruskan
perjalanan yang tidak menentu arah mahupun tujuan. Dan dalam perjalanan
yang sudah agak jauh, berhentilah Musa beristirehat sekadar untuk
menghilangkan rasa penatnya seraya meminta dari Yusya bin Nun agar
menyiapkan santapannya karena ia sudah sgt lapar. Ketika Yusya bin Nun
membuka keranjang untuk mengambil makanan teringatlah olehnya akan
ikan yang hilang dan melompat ke dalam laut. Maka berkatalah Yusya'
kepada Nabi Musa: "Aku telah dilupakan oleh syaitan untuk memberitahu
kepadamu segera, bahwa tatkala engkau berada di atas batu karang
sedang tidur nyenyak, ikan kami yang berada di dalam keranjang
tiba-tiba hidup kembali setelah kejatuhan air hujan dan melompat masuk
ke dalam laut. Sepatutnya aku melapurkan kkepadamu segera, sesuai
dengan pesananmu, namun aku dilupakan oleh syaitan."
Wajah Nabi Musa berseri-seri menjadi kegirangan mendengar berita itu
dari Yusya' karena telah dapat mengetahui di mana ia akan dapat
bertemu dengan hamba Allah yang dicari itu. Berkata Musa kepada Yusya':
"Inilah tempat yang kami tuju dan disini kami akan menemui orang yang
kami cari. Marilah kami kembali ke tempat batu karang itu yang
menjadi tempat tujuan terakhir dari perjalanan kami yang jauh ini."
Setiba mereka kembali di tempat di mana mereka kehilangan ikan, mereka
melihat seorang bertubuh kurus langsing yang pada wajahnya tampak
cahaya dan iman serta tanda-tanda orang soleh. Ia sedang menutpi
tubuhnya dan pakaiannya sendiri, yang segera disingkapnya ketika
mendengar kata-kata salam Nabi Musa kepadanya.
"Siapakah engkau?" bertanya orang soleh itu. Musa menjawab: "Aku
adalah Musa." Bertanya kembali orang soleh itu: "Musa, nabi Bani
Isra'ilkah?"
"Betul", jawab Musa, seraya bertanya: "Dari manakah engkau mengetahui bahawa aku adalah Nabi Bani Isra'il?"
"Dari yang mengutusmu kepadaku", jawab orang soleh itu. "Inilah hamba
Allah yang aku cari", berkata Musa dalam hatinya, seraya mendekatinya
dan berkata kepadanya: "Dapatkah engkau memperkenankan aku mengikutimu
dan berjalan bersamamu ke mana saja engkau pergi sebagai bayanganmu
dan sebagai muridmu? Aku akan mematuhi segala petunjuk dan
perintahmu."
Hamba soleh atau menurut banyak pendapat ahli-ahli tafsir Nabi
Al-Khidhir itu menjawab: "Engkau tidak akan sabar dan tidak dapat
menahan diri bila engkau mengikutiku dan berjalan bersamaku. Engkau
akan mengalami dan melihat hal-hal yang ajaib yang sepintas lalu
nampak seakan-akan perbuatan yang salah dan mungkar namun pada
hakikatnya adalah perbuatan benar dan wajar dab engkau sebagai manusia
tidak akan berdiam diri melihatku melakukan perbuatan dan tingkah
laku yang ganjil menurut pandanganmu."
Musa menjawab dengan sikap seorang murid yang ingin belajar dan
menambah pengetahuan : "Insya-Allah engkau akan mendapati aku seorang
yang sabar yang tidak akan melanggar sesuatu perintah atau petunjuk
daripadamu."
Berkata Al-Khidhir kepada Musa: "JIka engkau benar-benar ingin
mengikutiku dan berjalan bersamaku maka engkau harus berjanji tidak
akan mendahului bertanya tentang sesuatu sebelum aku memberitahukan
kepadamu. Engkau harus berjanji bahwa engkau tidak akan menentang
segala perbuatan dan tindakan yang aku lakukan dihadapan mu walaupun
menurut pandanganmu itu salah dan mungkar. Aku dengan sendirinya
memberi alasan dan tafsiran bagi segala tindakan dan perbuatanmu
kepadamu kelak pada akhir perjalanan kami berdua."
Dengan diterimanya pesyaratan Nabi Al-Khidhir oleh Musa yang berjanji
akan mematuhinya bulat-bulat, maka diajaklah Nabi Musa mengikutinya
dalam perjalanan.
Pelanggaran pertama terhadap persyaratan Al-Khidhir terjadi tatkala
mereka sampai di tepi pantai, di mana terdapat sebuah perahu sedang
berlabuh. Nabi Al-Khidhir meminta pertolongan pemilik perahu itu, agar
menghantar mereka di suatu tempat yang di tuju. Dengan senang hati
diangkutlah mereka berdua secara percuma tanpa bayaran bahkan
dihormati dan diberi layanan yang baik kerana dilihatnya oleh pemilik
perahu bahwa kedua orang itu memiliki sifat-sifat dan ciri-ciri yang
tidak terdapat pada orang biasa.
Tatkala mereka berada dalam perut perahu yang sedang meluncur dengan
lajunya di antara gelombang-gelombang tiba-tiba Musa melihat
Al-Khidhir melubangi perahu itu dengan mengambil dua keping kayunya.
Perbuatan mana yang dianggap oleh Musa suatu gangguan dan pengrusakan
bagi milik seseorang yang telah berbuat baik terhadap mereka.
Musa lupa akan janjinya sendiri dan ditegulah Al-Khidhir dengan
berkata: "Engkau telah melakukan perbuatan mungkar dengan merusak dan
melubangi perahu ini. Apakah dengan perbuatan kamu ini engkau hendak
menenggelamkan perahu ini dengan semua penumpangnya? Tidakkah engkau
merasa kasihan kepada pemilik perahu ini yang telah berjasa kepada kami
dan menghantarkan kami ke tempat yang kami tuju tanpa membayar sesen
pun?"
Berkata Al-Khidhir menjawab teguran Musa: "Bukankah aku telah katakan
kepadamu bahawa engkau tidak akan sabar menahan diri melihat
tindak-tandukku di dalam perjalanan menyertaiku."
Musa berkata: "Maafkanlah daku. Aku telah lupa akan janjiku sendiri.
Janganlah aku dipersalahkan dan dimarahi akan kelupaanku."
Permintaan maaf Musa diterimalah oleh Al-Khidhir dan tibalah meeka
berdua di tempat yang dituju di sebuah pantai. Kemudian perjalanan
dilanjutkan di darat dan bertemulah mereka dengan seorang anak
laki-laki yang sedang bermain-main dengan kawan-kawannya. Tiba-tiba
dipanggillah anak itu oleh Al-Khidhir, dibawanya ke tempat yang agak
jauh, dibaringkannya dan dibunuhnya seketika itu. Alangkah
terperanjatnya Musa melihat tindakan Al-Khidhir yang dengan
sewenang-wenangnya telah membunuh seorang anak yang tidak berdosa,
seorang yang mungkin sekali dalam fikiran Musa adalah harapan
satu-satunya bagi kedua orang tuanya.
Musa sebagai Nabi yang diutus oleh Allah untuk memerangi kemungkaran
dan kejahatan tidak dapat berdiam diri melihat Al-Khidhir melakukan
pembunuhan yang tiada beralasan itu, maka ditegurlah ia seraya
berkata: "Mengapa engkau telah membunuh seorang anak yang tidak
berdosa? Sesungguhnya engkau telah melakukan perbuatan yang mungkar
dan keji."
Al-Khidhir menjawab dengan sikap dinginnya: "Bukankah aku telah
berkata kepadamu, bahwa engkau tidak akan sabar menahan diri berjalan
dengan aku?"
Dengan rasa malu mendengar teguran Al-Khidhir itu, berucaplah Musa:
"Maafkanlah aku untuk kedua kalinya dan perkenankanlah untuk aku
meneruskan perjalanan bersamamu dengan pergertian bahwa bila terjadi
lagi perlanggaran dari pihakku untuk kali ketiganya, maka janganlah aku
diperbolehkan menyertaimu seterusnya.Sesungguhnya telah cukup engkau
memberi uzur dan memberi maaf kepadaku."
Dengan janji terakhir yang diterima oleh Al-Khidhir dari Musa
diteruskanlah perjalanan mereka berdua sampai tiba di suatu desa di
mana mereka ingin beristirehat untuk menghilangkan lelah dan penat
mereka akibat perjalanan jauh yang telah ditempuh. Mereka berusaha
untuk mendapat tempat penginapan sementara dan sedikit bahan makanan
untuk sekadar mengisi perut kosong mereka, namun tidak seorang pun
dari penduduk desa yang memang terkenal bachil {pelit} itu yang mahu
menolong mereka memberi tempat beristirehat atau sesuap makanan
sehingga dengan rasa kecewa mereka segera meninggalkan desa itu.
Dalam perjalanan Musa dan Al-Khidhir hendak keluar dari desa itu
mereka melihat dinding salah satu rumah desa itu nyaris roboh. Segera
AL-Khidhir menghampiri dinding itu dan ditegakkannya kembali. Dan
secara spontan, tanpa disedar, berkata Musa kepada Al-Khidhir: "Hairan
bin ajaib, mengapa engkau berbuat kebaikan bagi orang0orang yang
jahat dan pelit ini. Mereka telah menolak untuk memberi kepada kami
tempat istirehat dan sesuap makanan untuk perut kami yang lapar.
Sepatutnya engkau menuntut upah bagi usahamu menegakkan dinding itu,
agar dengan upah yang engkau perolehi itu dapat kami menutupi
keperluan makan minum kami."
Al-Khidhir menjawab: "Wahai Musa, inilah saat untuk kami berpisah
sesuai dengan janjimu yang terakhir. Cukup sudah aku memberimu
kesempatan dan uzur. Akan tetapi sebelum kami berpisah , akan aku
berikan kepadamu tujuan serta alasan-alasan perbuatan-perbuatanku yang
engkau rasakan tidak wajar dan kurang patut."
"Ketahuilah hai Musa", Al-Khidhir melanjutkan huraiannya,"bahawa
pengrusakan bahtera yang kami tumpangi itu adalah dimaksudkan untuk
menyelamatkannya dari pengambil-alihan oleh seorang raja yang zalim
yang sedang mengejar di belakang bahtera itu. Sedang bahtera itu
adalah milik orang-orang fakir-miskin yang digunakan sebagai sarana
mencari nafkah bagi hidup mereka sehari-hari. Dengan melubangi yang
aku lakukan dalam bahtera itu, si raja yang zalim itu akan berfikir
dua kali untuk merampas bahtera itu yang dianggapnya rusak dan
berlubang itu. Maka perbuatanku yang pada lahirnya adalah pengrusakan
milik orang, namun tujuannya ialah menyelamatkannya dari tindakan
perampasan sewenang-wenangnya."
"Adapun tentang anak yang aku bunuh itu ialah bertujuan menyelamatkan
kedua orang tuanya dari gangguan anak yang durhaka itu. Kedua orang
tua anak itu adalah orang-orang yang mukmin, soleh dan bertakwa yang
aku khuatirkan akan menjadi tersesat dan melakukan hal-hal yang buruk
karena dorongan anaknya yang durhaka itu. Aku harapkan dengan matinya
anak itu Allah akan mengurniai anak pengganti yang soleh dan berbakti
kepada mereka berdua."
Sedang mengenai dinding rumah yang ku perbaiki dan ku tegakkan kembali
itu adalah karena dibawahnya terpendam harta peninggalan milik dua
orang anak yatim piatu. Ayah mereka adalah orang yang soleh ahli
ibadah dan Allah menghendaki bahwa warisan yang ditinggalkan untuk
kedua anaknya itusampai ketangan mereka selamat dan utuh bila mereka
sudah mencapai dewasanya, sebagai rahmat dari Tuhan serta ganjaran
bagi ayah mereka yang soleh dan bertakwa itu."
"Demikianlah wahai Musa, apa yang ingin engkau ketahui tentang tujuan
tindakan-tindakanku yang sepintas lalu engkau anggap buruk dan
melanggar hukum. Semuanya itu telah kulakukan bukan atas kehendakku
sendiri tetapi atas tuntunan wahyu Allah kepadaku."
Kisah Musa dan Al-Khidir ini dapat dibaca dalam surah "Al-Kahfi" ayat 60 sehingga ayat 82 yang bermaksud :~
"60~ Dan {ingatlah} ketika Musa berkata kepada muridnya: "Aku tidak
akan berhenti berjalan sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan
atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun." 61~ Maka tatkala mereka
sampai ke pertemuan dua laut itu, mereka lalai akan ikannya, lalu
ikan itu melompat mengambil jalannya ke laut itu. 62~ Maka tatkala
mereka berjalan lebih jauh berkatalah Musa kepada muridnya: "Bawalah
kemari makanan kita sesungguhnya kita telah merasa letih karena
perjalanan kita ini." 63~ Muridnya menjawab: "Tahukah kamu tatkala kita
mencari tempat berlindung di batu tadi, maka sesungguhnya aku lupa
menceritakan tentang ikan itu dan tidaklah yang melupakan aku untuk
menceritakannya kecuali syaitan dan ikan itu mengambil jalannya ke
laut dengan cara yang aneh sekali." 64~ Musa berkata: "Itulah tempat
yang kita cari." Lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka
sendiri. 65~ Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara
hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi
Kami dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami. 66~
Musa berkata Al-Khidhir: "Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu
mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah
diajarkan kepadamu?" 67~ Dia menjawab: "Sesungguhnya kamu sesekali
kamu tidak akan sanggup sabar bersamaku, 68~ dan bagaimana kamu dapat
sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup
tentang hal itu?" 69~ Musa berkata: "Insya-Allah kamu akan mendapati
aku sebagai seorang yang sabar dan aku tidak akan menentangmu dalam
sesuatu urusan pun." 70~ Dia berkata: "Jika kamu mengikutiku, maka
janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apa pun, sampai aku
sendiri menerangkannya kepadamu." 71~ Maka berjalanlah keduanya,
hingga keduanya menaiki perahu, lalu Al-Khidhir melubanginya. Musa
berkata: "Mengapa kamu melubangi perahu itu yang akibatnya kamu
menenggelamkan penumpamgnya?" Sesungguhnya kamu telah berbuat sesuatu
kesalahan yang besar. 72~ Dia {Al-Khidhir} berkata: "Bukankah aku telah
katakan: "Sesungguhnya kamu sesekali tidak akan sabar bersama dengan
aku." 73~ Musa berkata: "Janganlah kamu menghukum aku kerana
kelupaanku dan janganlah kamu membebani aku dengan sesuatu kesulitan
dalam urusanku," 74~ Maka berjalanlah keduanya hingga tatkala keduanya
berjumpa dengan seorang pemuda maka Al-Khidhir membunuhnya. Musa
berkata : "Mengapa kamu bunuh jiwa yang bersih, bukan kerana dia
membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang
mungkar." 75~ Al-Khidhir berkata: "Bukankah sudah kukatakan kepadamu
bahwa sesungguhnya kamu tidak akan dapat sabar bersamaku?" 76~ MUsa
berkata: "Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah {kali
ini} maka janganlah kamu memperbolehkan aku menyertaimu, sesungguhnya
kamu sudah cukup memberikan uzur padaku." 77~ Maka keduanya berjalan
hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk negeri itu tetapi
penduduk negeri itu tidak mahu menjamu mereka kemudian keduanya dapati
dalam negeri itu ada dinding rumah yang hampir roboh, maka Al-Khidhir
menegakkan dinding itu. Musa berkata: "Jikalau kamu mahu nescaya kamu
akan mengambil upah untuk itu." 78~ Al-Khidhir berkata : "Inilah
perpisahan antara aku dengan kamu kelak akan ku beritahukan kepadamu
tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya.
79~ Adapun bahter itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja
di laut dan aku bertujuan merusakkan bahtera itu kerana di hadapan
mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera. 80~ Dan ada
pun anak muda itu maka kedua orang tuanya adlah orang-orang mukmin dan
kami khuatir bhe dia akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada
kesesatan dan kekafiran. 81~ Dan kami menghendaki supaya Tuhan mereka
mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya dari
anaknya itu dan lebih dalam kasih sayangnya {kepada ibubapanya}. 82~
Adapun dinding rumah itu kepunyaan dua orang anak muda yang yatim di
kota itu sedang ayahnya adalah seorang yang soleh, maka Tuhanmu
menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan
mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu dan bukanlah
aku melakukannnya itu menurut kemahuanku sendiri. Demikianlah itu
adlah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar
terhadapnya." { Al-Kahfi : 60 ~ 82 }
Nabi Musa A.S. dan Qarun si kaya raya
Qarun
adalah nama seorang drp kaum Nabi Musa dan keluarganya yang dekat. Ia
dikurniai Allah kelapangan rezeki dan kekayaan harta benda yang besar
yang tidak ternilai bilangannya. IA hidup mewah, selalu mujur dalam
usahanya mengumpulkan kekayaan, sehingga menjadi padatlah khazanahnya
dengan harta benda dan benda-2 yang sgt berharga. Sampai-2 para juru
kuncinya tidak berdaya membawa atau memikul kunci-2 peti khazanahnya
karena sgt byk dan beratnya. Ia hidup secara mewah dan menonjol di
antara kaum dan penduduk kotanya. Segala-galanya adlah luar biasa dan
lain drp yang lain. Gedung-2 tempat tinggalnya ,pakaiannya sehari-hari
,pelayan-2nya dan hamba-2 sahayanya yang bilangannya melebihi
keperluan. Dan walaupun ia tenggelam dalam lautan kenikmatan duniawi
yang tiada taranya pada masa itu, ia merasa masih belum puas dengan
tingkat kekayaan yang ia miliki dan terus berusaha mengisi khazanahnya
yang sudah padat itu, sifat mausia yang serakah yang tidak akan pernah
puas dengan apa yang sudah dicapai. Jika ia sudah memiliki segantang
emas ia ingin memperolhi segantang yang kedua dan demikian seterusnya.
Sebagaimana halnya dengan kebykan orang-orang kaya yang telah
dimabukkan oleh harta bendanya maka Qarun tidak merasa sedikit pun
bahwa dia mempunyai kewajiban sosial dengan harta kekayaannya itu. Ia
dalam hidupnya hanya memikirkan kesenangan dan kesejahteraan
peribadinya, memikirkan bagaimana ia dapat menambahkan kekayaannya
yang sudah melimpah-limpah itu. Ia telah dinasihati oleh pemuka-2
kaumnya agar ia menyediakan sebahagian daripada kekayaannya bagi
menolong para fakir miskin, menolong orang-orang yang telanjang yang
tidak berpakaian dan lapar tidak dapat makanan. Ia diperingatkan bahwa
kekayaan yang ia perolehi itu adalah kurniaan dari Tuhan yang harus
disyukuri dengan beramal kebajikan terhadap sesama manusia dan
melakukan perbuatan-2 yang dapat meringankan penderitaan orang-orang
yang ditimpa musibah atau menderita cacat. Diperingatkan bahwa Allah
yang telah memberinya rezeki yang luas itu dapat sewaktu-waktu
mencabutnya bila ia melalaikan kewajiban sosialnya.
Nasihat yang baik dan peringatan yang jujur yang dikemukakan oleh
pemuka-pemuka kaumnya itu tidak diendahkan oleh Qarun dan tidak
mendapat tempat didalam hatinya.Ia bahkan merasa bahwa karena
kekayaannya ialah yang harus memberi nasihat dan bukan menerima
nasihat. Orang harus tunduk kepadanya, mematuhi perintahnya, mengiakan
kata-katanya dan membenarkan segala tindak tanduknya. IA menyombongkan
diri dengan mengatakan kepada orang-orang yang memberikan nasihat itu
bahwa kekayaan yang ia miliki adalah semata-mata hasil jerih payahnya
dan hasil kecekapan dan kepandaiannya berusaha dan bukan merupakan
kurnia atau pemberian dari sesiapa pun. Karenanya ia bebas menggunakan
harta kekayaannya menurut kehendak hatinya sendiri dan tidak merasa
terikat oleh kewajipan sosial berupa pertolongan dan bantuan kepada
para fakir miskin dan para penderita yang memerlukan bantuan dan
pertolongan.
Sebagai tentangan bagi para orang yang menasihatinya, Qarun makin
meningkatkan cara hidup mewahnya dan secara menyolok mempamerkan
kekayaannya dengan berlebih-lebihan. Bila ia keluar, Ia mengenakan
pakaian dan perhiasan yang bergemerlapan, membawa pengantar dan
pembantu lebih banyak daripada biasanya dan mengenderai kuda-kuda yang
dihiasi dengan indah dan cantik. Kemewahan yang ditonjolkan secara
menyolok itu ,merasakan iri-hati dikalangan penduduk terutama mereka
yang masih lemah imannya. Mereka berbisik-bisik diantara sesama mereka
mengeluh dengan berkata: "Mengapa kami tidak diberi rezeki dan
kenikmatan seperti yang telah diberikan kepada Qarun? Alangkah
mujurnya nasib Qarun dan alangkah bahagianya dia dalam hidupnya di
dunia ini! Dan mengapa Tuhan melimpahkan kekayaan yang besar itu
kepada Qarun yang tidak mempunyai rasa belas kasihan terhadap
orang-orang yang melarat dan sengsara, orang-orang yang fakir dan
miskin yang memerlukan pertolongan berupa pakaian mahupun
makanan.Dimanakah letak keadilan Allah yang Maha Pemurah lagi Maha
Pengasih itu?"
Qarun yang tidak mengabaikan anjuran orang, agar ia secara sukarela
menyediakan sebahagiaan harta kekayaannya untuk disedekahkan kepada
orang-orang yang memerlukannya, melarat dan miskin akhirinya didatangi
oleh Nabi Musa menyampaikan kepadanya bahwa Allah telah mewahyukan
perinyah berzakat bagi tiap-tiap orang yang kaya dan berada.
Diterangkan oleh Musa kepadanya bahwa dalam harta kekayaan tiap ada
bahagian yang telah ditentukan oleh Tuahn sebagai hak orang-orang yang
melarat dan fakir miskin yang wajib diserahkan kepada mereka.
Qarun merasa jengkel memerima perintah wajib berzakat itu dan
menyatakan keraguan dan kesangsian kepada Musa. Ia berkata: "Hai MUsa
kami telah membantumu dan menyokongmu dalam dakwahmu kepada agama
barumu. Kami telah menuruti segala perintahmu dan mendengarkan segala
kata-katamu. Sikap kami yang lunak itu terhadap dirimu telah
memberanikan engkau bertindak lebih jauh dari apa yang sepatutnya dan
mulailah engkau ingin meraih harta benda kami. Engkau rupanya ingin
juga menguasai harta kekayaan kami setelah kami serahkan kepadamu hati
dan fikiran kami sebulat-bulatnya. Dengan perintah wajib zakatmu ini
engkau telah membuka topengmu dan menunjukkan dustamu dan bahwa engkau
hanya seorang pendusta dan ahli sihir belaka."
Tuduhan Qarun yang ingin melepaskan dirinya dari wajib berzakat itu
ditolak oleh Nabi Musa yang menegaskan kembali bahwa kewajiban
berzakat iut tidak dapat ditawar-tawar dan harus dilaksanakan karena
ia adalah perintah Allah yang harus ditaati dan dilaksanakan dengan
semestinya.
Quran tidak dapat jalan untuk mengelakkan diri dan kewajiban zakat itu
setelah berbantah dan berdebat dengan Musa maka ia menyerah dan
ditentukan berapa besar yang harus ia keluarkan zakat harta
kekayaannya.
Setelah tiba di rumah dan menghitung-hitung bahagian yang harus
dizakatkan dari harta miliknya Qarun merasa terlampau besar yang harus
dizakatkan dan merasa sayang bahwa ia harus mengeluarkan dari
khazanahnya sejumlah wang tanpa meperolehi imbalan sesuatu keuntungan
dan laba. Fikir punya fikir dan timbang punya timbang akhirnya Qarun
mengambil keputusan untuk tidak akan mengeluarkan zakat walau apapun
yang akan terjadi akibat tindakannya itu.
Utk menguatkan aksi pemboikotannya terhadap kewajiban mengeluarkan
zakat, Qarun menyebarkan fitnah kepada Nabi Musa dengan maksud menarik
orang agar menjadikan penunjang aksinya dan mengikutinya menolak
menolak kewajiban mengeluarkan zakat sebagaimana diperintahkan oleh
Nabi Musa. Ia menyebarkan fitnah seolah-olah Nabi Musa dengan
dakwahnya dan penyiaran agama barunya bertujuan ingin memperkayakan
diri dan bahwa perintah zakatnya itu adalah merupakan cara perampasan
yang halus terhadap milik-milik para pengikutnya.
Lebih jahat lagi untuk menjatuhkan Nabi Musa dan kewibawaannya, Qaru
bersekongkol dengan seorang wanita yang diajarinya agar mengaku didepan
umum bahwa ia telah melakukan perbuatan zina dengan Musa. Akan tetapi
Allah tidak rela nama Rasul-Nya tercemar oleh tuduhan palsu yang
diaturkan oleh Qarun itu. Maka digerakkanlah hati wanita sewaannya itu
untuk mengatakan keadaan yang sebenarnya dan bahwa apa yang ia tuduhkan
kepada Nabi Musa adalah fitnahan dan ajaran Qarun semata-mata dan
bahawasannya Musa adalah bersih dari perbuatan yang dituduh itu.
Setelah ternyata bagi Nabi Musa bahwa Qarun tidak beriktikad baik dan
bahwa ia tidak dapat diharap menjadi pengikut yang soleh yang mematuhi
perintah-2 Allah terutama perintah wajib zakat bahkan ia dapat
merusakkan akhlak dan iman para pengikut Musa dengan sikap dan cara
hidupnya yang berlebih-lebihan mewahnya, ditambahkan pula usahanya yang
tidak henti-2 merusakkan kewibawaan Nabi Musa dengan melontarkan
fitnahan dan berbagai hasutan maka habislah kesabaran Nabi Musa ,lalu
berdoa ia kepada Allah agar menurunkan azab-Nya atas diri Qarun yang
sombong dan congkak itu, agar menjadi pengajaran dan ibrah bagi kaumnya
yang sudah mulai goyah imannya melihat kenikmatan yang
berlimpah-limpah yang telah Allah kurniakan kepada Qarun yang
membangkang itu.
Maka dengan izin Allah yang telah memperkenankan doa Nabi Musa
terjadilah tanah runtuh yang dahsyat di atas mana terletak bangunan
gedung-gedung yang mewah tempat tinggal Qarun dan tempat penimbunan
kekayaannya. Terbenamlah seketika itu Qarun hidup-hidup berserta semua
milik kekayaan yang menjadi kebaggaannya.
Peristiwa yang menimpa Qarun dan harta kekayaannya itu menjadi ibrah
bagi pengikut-2 Nabi Musa serta ubat rohani bagi mereka yang beriri
hati dan mendambakan kenikmatan dan kemewahan hidup sebagaimana yang
telah dialami oleh Qarun. Mereka berkata seraya bersyukur kepada Allah:
"Sekiranya Allah telah melimpahkan rahmat dan kurnia-Nya, nescaya
kami dibenamkan pula seperti Qarun yang selalu kami inginkan kedudukan
duniawinya. Sesungguhnya kami telah tersesat ketika kami beriri hati
dan mendambakan kekayaannya yang membawa binasa baginya. Aduhai
benar-2 tidaklah beruntung orang-orang yang mengingkari nikmat Allah."
Isi cerita tersebut di atas dapat dibaca dalam surah "Qashash" ayat 76
sehingga 82 dan surah "Al-Ahzaab" ayat 69 sebagaimana berikut :~
"76~Sesungguhnya Qarun adalah termasuk kaum Musa maka ia berlaku
aniaya terhadap mereka dan Kami telah menganugerahkan kepadanya
perbendaharaan harta yang kunci-nya sungguh berat dipikul oleh
sejumlah orang yang kuat-2. {Ingatlah{ ketika kaumnya berkata
kepadanya: "Janganlah kamu terlalu bangga sesungguhnya Allah tidak
menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri." 77~ Dan carilah
pada apa yang telah dianugerahkan kepada mu {kebahagiaan} negeri
akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari {kenikmatan}
duniawi dan berbuat baiklah {kepada orang lain} sebagaimana Allah
telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakkan di
{muka} bumi ini. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang
berbuat kerusakkan. 78~ Qarun berkata: "Sesungguhnya aku diberi harta
itu karena ilmu yang ada padaku." Dan apakah ia tidak mengetahui
bahwasannya Allah sungguh telah membinasakan umat-2 sebelumnya yang
lebih kuat daripadanya dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan
tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu tentang
dosa-dosa mereka. 79~ Mak keluarlah Qarun kepada kaumnya dengan
kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia:
" Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan
kepada Qarun , sesungguhnya ia benar-benar mempunyai peruntungan yang
besar." 80~ Berkatalah orang-orang yang telah dianugerahi ilmu:
"Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebihbaik bagi
orang-orang yang beriman dan beramal soleh dan tidak diperoleh pahala
itu kecuali oleh orang-orang yang sabar." 81~ Mak Kami benamkan Qarun
berserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golongan
pun yang menolongnya terhadap azab Allah. Dan tiadalah ia termasuk
orang-orang {yang dapat} membela {dirinya}. 82~ Dan jadilah
orang-orang yang kelmarin mencita-citakan kedudukan Qarun itu berkata:
"aduhai, benarlah Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang dia
kehendaki dari hamba-hamba-Nya dan menyempitkannya. Kalau Allah tidak
melimpahkan kurnia-Nya atas kita benar-benar Dia {Allah} telah
membenamkan kita {pula}. Aduhai benarlah, tidak beruntung orang-orang
yang mengingkari {nikmat} Allah." { Al-Qashash : 76 ~ 82 }
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadi seperti
orang-orang yang menyakiti Musa maka Allah membersihkannya dari
tuduhan-tuduhan yang mereka katakan. Dan adalah dia seorang yang
mempunyai kedudukan terhormat di sisi Allah." { Al-Ahzaab : 69 }
Thalout diangkat sebagai raja Bani Isra'il
Setelah
Bani Isra'il memasuki Palestin dan menguasainya di bawah pimpinan
Yusya bin Nun mereka selalu menjadi sasaran penyerbuan dan serangan
dari bangsa-2 sekelilingnya, seperti suku Amaliqah dari bangsa Arab,
bangsa Palestin sendiri dan bangsa Aramiyin. Kemenangan dan kekalahan
di antara meeka silih berganti.
Pada suatu waktu datanglah bangsa Palestin penduduk "Usydud" suatu
daerah dekat Gaza menyerbu dan menyerang mereka dan terjadilah
pertempuran yang berakhir dengan kemenangan bangsa Palestin yang
berhasil, mencerai-beraikan Bani Israil dan merampas benda keramat
mereka yang bernama "Tabout", yaitu sebuah peti tempat penyimpanan
kitab Taurat.
Peti yang disebut Tabout itu adlah merupakan salah satu dari banyak
kurnia yang telah diberikan oleh Allah kepada Bani Isra'il. Mereka
menganggap Tabout itu suatu benda keramat yang dapat menginspirasikan
kekuatan dan keberanian kepada mereka dikala menghadapi musuh. Maka
karenanya dalam tiap medan perang dibawanyalah Tabout itu untuk
memberi kekuatan batin dan semangat juang bagi mereka memberi rasa
berani bagi mereka dan rasa takut bagi musuh. Maka dengan dirampasnya
Tabout itu oleh bangsa Palestin hilanglah pegangan mereka dan
berantakanlah barisannya, retaklah kesatuannya sehingga menjadi
laksana binatang ternakan yang ditinggalkan gembalanya.
Dan memang sejak ditinggalkan oleh Nabi Mua, Bani Isra'il tidak
mempunyai seorang raja atau seorang pemimpin yang berwibawa yang dapat
mengikat mereka di bawah satu bendera dan menghimpun mereka di bawah
satu komando bila terjadi serangan dari luar dan penyerbuan oleh
musuh. Mereka hanya dipimpin oleh hakim-hakim penghulu yang memberi
tuntunan kepada mereka dalam bidang keagamaan dan kadangkala menjadi
juru damai jika timbul perselisihan dan sengketa di antara sesama
mereka. Di antara penghulu itu terdapat seorang penghulu yang paling
disegani dan di hormati bernama Somu'il. Kata-katanya selalu didengar
dan nasihat-2nya selalu diterima dan ditaati.
Kepada Somu'il datanglah beberapa pemuda Bani Isra'il yang merasa
sedih melihat keadaan kaumnya menjadi kacau bilau dan bercerai berai
setelah dikalahkan oleh bangsa Palestin dan dikeluarkan dari negeri
mereka serta dirampasnya Tabout yang merupakan peti wasiat dan benda
keramat bagi mereka. Mereka mengutarakan kepada Samu'il bahwa mereka
memerlukan seorang pemimpin yang kuat yang berwibawa dan mempunyai
kekuasaan sebagai seorang raja untuk menghimpun mereka dan seterusnya
menjadi panglima perang.
Samu'il yang mengenal baik watak mereka dan titik-titik kelemahan
serta sifat-2 licik dan pembangkang yang meletak pada diri mereka
berkata: "Aku khuatir bahwa kamu akan takut dan enggan bertempur
melawan musuh bila kepadamu diperintahkan untuk berperang menghalau
musuh dari negerimu."
Mereka menjawab: "Bagaimana kami menolak perintah semacam itu dan
enggan maju bertempur melawan musuh sedangkan kami telah dihina diusir
dari rumah-rumah kami dan dipisahkan dari sanak keluarga kami.
Bukankah suatu hal yang memalukan dan menurun darjat kami sebagai
bangsa, bila dalam keadaan yang sedang kami alami ini, kami masih juga
enggan berperang melawan musuh yang datang menyerang dan menyerbu
daerah kami. Kami akan maju dan tidak akan gentar masuk dalam medan
perang, asalkan saja kami akan dapat pimpinan dari seorang yang cekap,
berani serta berwibawa sehingga komandonya dan segala perintahnya akan
dipatuhi oleh kaum kami semuanya."
Somu'il berkata: "Jika demikian ketetapan hatimu dan demikian pula
keinginanmu untuk memperoleh seorang raja yang akan memimpin dan
membimbing kamu , maka berilah waktu kepadaku untuk beristikharah
memohon pertolongan Allah menunjukkan kepadaku seseorang yang patut
dan layak menjadi raja bagimu."
Di dalam istikharahnya, Somuil mendapat ilham dan petunjuk dari Allah,
agar ia memilih serta mengangkat seorang yang bernama "Thalout"
menjadi raja Bani Isra'il. Dan walaupun ia belum pernah mendengar nama
itu atau mengenalkan orangnya Allah akan memberinya jalan dan
tanda-tanda yang akan memungkinkan ia bertemu muka dengan orang itu
dan mengenalinya dengan segera.
Thalout adalah seorang berbadan gemuk dan jangkung, tegak, kuat dan
berparas tampan. Dari pancaran kedua matanya orang dapat mengetahui
bahwa ia adalah seorh yang cerdik, cekap dan bijaksana, memiliki hati
yang tabah dan berani. IA hidup dan bertempat tinggal di sebuah desa
yang agak terpencil sehingga tidak banyak dikenal orang Ia hidup
bersama ayahnya bercucuk tanam dan memelihara haiwan ternak.
Pada suatu hari di kala Thalout sedang sibuk bersama ayahnya
menguruskan tanah ladangnya terlepaslah dari kadang seekor keldai dari
haiwan-2 peliharaannya dan menghilang sesat. Pergilah Thalout bersama
seorang bujangnya mencari keldai yang hilang itu di celah-2 lembah dan
bukit-2 di sekitar desanya, namun tidak berhasil menemukan kembali
haiwan yang terlepas itu. Akhirnya ia mengajak bujangnya kembali
karena khuatir ayahnya akan menjadi gelisah bila ia lebih lama
meninggalkan rumahnya mencari keldai yang hilang itu.
Berkata sang bujang kepada Thalout: "Kami sekarang sudah berada di
daerah Shuf tempat dimana Somu'il berada. Alangkah baiknya kalau kami
pergi kepadanya menanyakan kalau-2 ia dapat memberikan keterangan dan
petunjuk kepada kami di mana kiranya kami dapat menemukan keldai kami
itu. Ia adalah seorang nabi yang menerima petinjuk dari Tuhannya
melalui para malaikat dan dia telah banyak kali mengungkapkan hal-hal
ghaib yang ditanyakan oleh orang kepadanya."
Thalout menerima baik cadangan bujangnya dan berangkatlah mereka
berdua menuju tempat tinggal Somu'il. Di tengah-2 perjalanan, mereka
bertanya kepada beberapa gadis yang ditemuinya sedang menimpa air dari
sebuah perigi: "Di manakah tempat tinggal Nabi Somu'il?" "Tidak usah
kamu cepat-2 meneruskan perjalananmu. Somu'il sebentar lagi akan
datang ke sini. Ia sedang ditunggu kedatangannya di atas bukit oleh
rakyat tempat itu." Para gadis itu menjawab.
Ternyata bahawa belum selesai para gadis itu memberikan keteranagnnya,
muncullah Somu'il dengan wajahnya yang berseri-seri memancarkan
cahaya kenabian dan kealiman yang mengesahkan.
Thalout segera mendekati Somu'il dan setelah saling pandang memandang,
berkatalah Thalout: "Wahai Nabi Allah, kami datang menemui bapak
untuk memohon pertolongan yaitu dapatkah kiranya kami diberi
keterangan dan petunjuk di manakah kami dapat menemukan kembali keldai
kami yang telah terlepas dari kandang dan menghilang tidak kami
temukan jejaknya walaupun sudah tiga hari kami berusaha mencarinya."
Somu'il setelah memandang wajah Thalout dengan teliti sedarlah ia
bahwa inilah orangnya yang oleh Allah ditunjuk untuk menjadi raja
pemimpin dan penguasa Bani Isra'il. Ia berkata kepada Thalout: "Keldai
yang engaku cari itu sedang berada dalam perjalanan kembali ke
kandangnya di tempat ayahmu. Janganlah engkau rungsingkan fikiranmu
dan ributkan dirimu dengan urusan keldai itu. Kerana aku memang
mencarimu dan ingin menemuimu untuk urusan yang lebih besar dan lebih
penting dari soal keldai. Engaku telah dipilih oleh Allah untuk
memimpin Bani Isra'il sebagai raja, mempersatukan barisan mereka yang
sudah kacau-balau serta membebaskan mereka dari musuh-musuh yang sedang
menyerbu dan menduduki negeri mereka. Dan insya-Allah Tuhan akan
menyertaimu memberi perlindungan kepadamu dan mengurniakan kemenangan
dan kemujuran dalam segala sepak terajangmu."
Thalout menjawab: "Bagaimana aku dapat menjadi seorang raja dan
pemimpin Bani Isra'il sedang aku ini seorang dusun anak cucu Benyamin
yang paling papa, terasing dari pengaulan orang ramai, seorang anak
tani dan penggembala haiwan yang tidak dikenal orang?"
Berkata Somu'il: "Itu adlah kehendak Allah dan perintah-Nya. Dan lebih
tahu pada siapa Ia meletakkan amanat dan tugas-tugas-Nya. Dialah yang
menugaskan dan Dia pulalah yang akan melengkapi segala kekuranganmu.
Bersyukurlah engkau atas nikmat dan kurniaan Allah ini. Terimalah
tugas suci ini dengan keteguhan hati dan kepercayaan penuh akan
pertolongan dan perlindungan Allah kepadamu." Kemudian dipeganglah
tangan Thalout, diangkatnya keatas seraya menghadap kepada kaumnya dan
berkata: " Wahai kaumku, inilah orangnya yang oleh Allah telah
dipilih untuk menjadi rajamu. Ia berkewajiban memimpin kamu dan
mengurus segala urusanmu dengan sebaik-baiknya dan setepat-tepatnya
dan kamu berkewajiban taat kepadanya, mematuhi segala perintahnya dan
berdiri tegak di belakang komandinya. Bersatu padulah kamu di bawah
bendera raja Thalout dan bersiap-siaplah untuk berjuang melawan
musuh-musuhmu."
Bani Isra'il yang sedang berkumpul mengerumuni somu'il mendengarkan
pidato pelantikannya mengangkat Thalout sebagai raja, tercengang dan
terkejut dan dengan mulut ternganga mereka melihat satu kepada yang
lain, berpindahan pandangan mereka dari wajah Somu'il ke wajah thalout
yang menandakan kehairanan dan ketidak-puasan dengan pengangkatan
itu. Selintas pun tidak terfikir oleh mereka bahwa seorang seperti
Thalout yang papa dan miskin dan tidak dikenal orang ialah yang akan
dipilih oleh Somu'il soal pemilihan dan pengangkatan seorang raja bagi
mereka.
Berkata mereka kepada Somu'il: "Bagaimana seorang seperti Thalout ini
akan dapat memimpin kami sebagai raja padahal ia seorang yang miskin
yang tidak dikenal orang dan pergaulan sehari-harinya hanya terbatas
didesanya. selain ituia bukannya dari keturunan "Lawi" yang menurunkan
para nabi Bani Israil, juga bukan dari keturunan "Yahuda" yang
menurunkan raja-raja Bani Isra'il sejak dahulu kala. Ia pun tidak
memiliki pengalaman dan kecekapan yang diperlukan oleh seorang raja
untuk mengurus serta mempertahankan kerajaannya. Mengapa tidak dipilih
sahaja seorang drp mereka yang berada di kota yang pandai-pandai,
berpengalaman dan berkeadaan cukup?"
berkata Somu'il menanggapi keberatan-2 yang dikemukakan oleh kaumnya:
"Pengurusan kerajaan dan pemimpin perang tidak memerlukan kebangsawanan
atau kekayaan. Ia memerlukan kecekapan, kebijaksanaan, kecerdasan
berfikir dan kecekatan bertindak. sifat-2 itu terdapat dalam dir
Thalout di samping ia memiliki tubuh yang kuat, perawakan tg tegap dan
kekar serta paras muka yang tampan yang memberi kesan baik bagi
orang-orang yang menghadapinya. Selain itu semuanya, ia adalah pilihan
dan tunjukan Allah Yang Maha Mengetahui dan Maha Mengenal
hamba-hamba-Nya. Maka tidak patutlah kami memilih orang lain setelah
Allah menjatuhkan pilihan-Nya."
"Baiklah", kata mereka, "Jika yang demikian itu pilihan dan kehendak
Allah, maka kami tidak dapat berbuat lain selain meneriam kenyataan
ini. Akan tetapi untuk menghilangkan keragu-raguan kami tentang diri
Thalout, berilah kepada kami suatu tanda yang dapat menyakinkan kami
bahwa Thalout benar-benar pilihan Allah."
Somu'il menjawab: "Sesungguhnya Allah telah mengetahui watak dan
tabiat kamu yang kaku dan keras kepala. Imanmu tidak berada di dalam
hati tetapi di kelopak mata. Kamu tidak mempercayai sesuatu tanpa
bukti yang dapat kamu rasa dengan pancaindera kamu. Maka sebagai bukti
bahwa Allah merestui pengangkatan Thalout menjadi raja kamu, ialah
bahawa kamu akan menemukan kembali peti keramatmu "Tabout" yang telah
hilang dan dirampas oleh bangsa Palestin. Kamu akan menemukan itu
datang kepadamu dibawa oleh malaikat. Pergilah kamu keluar kota
sekarang juga untuk menerimanya."
Setelah ternyata bagi mereka kebenaran kata-kata Somu'il dengan
ditemuinya kembali Tabout yang sudah tujuh bulan berada di tangan
orang-orang Palestin itu, maka diterimalah pengangkatan Thalout sebagai
raja mereka dengan memberikan bai'at kepadanya dan janji akan taat
serta mematuhi segala nasihat dan perintahnya.
Raja Thalout
Tugas
pertama yang dilakukan oleh thalout setelah dinobatkan sebagai raja
ialah menyusun kekuatan dengan menghimpunkan para pemuda dan
orang-orang yang masih kuat untuk menjadi tentera yang akan mengahdapi
bangsa Palestin yang terkenal kuat dan berani.
Ia menyusun bala tenteranya dari orang-orang yang masih kuat, tidak
mempunyai tanggungan keluarga, tidak mempunyai ikatan-2 dagang usaha
sehingga dapat membulatkan tekadnya untuk berjuang dan memusatkan
fikiran dan tenaga bagi mencapai kemenangan dna menghalaukan musuh
dari negeri mereka dengan semangat yang teguh yang tidak tergoyahkan.
Sebagai ujian untuk mengetahui sampai sejauh mana rakyatnya atau
barisan tenteranya yang disusun itu berdisiplin mengikuti komando dan
perintahnya, Thalout berkata mereka: "Kamu dalam perjalananmu di bawah
terik panasnya matahari akan melalui sebuah sungai. Maka barang siapa
di antara kamu minum dari air sungai itu, ia bukan pengikutku yang
setia yang dapat kupercayai kesungguhan hatinya dan kebulatan
tekadnya. Sebaliknya barangsiapa di antara kamu yang hanya menciduk
air sungai itu seciduk tangan untuk sekadar membasahi kerongkongannya,
maka ia ialah seorang pengikutku dan tentera yang benar-benar dapat
kuandalkan keberaniannya dan kedisiplinannya."
Ternyata apa yang dikhuatirkan oleh Thalout telah terjadi dan menjadi
kenyataan. Setiba barisan tentera Thalout di sungai yang dimaksudkan
itu, hanya sebahagian kecil sahajalah dari mereka yang berdisiplin
mengikuti petunjuk Thalout secara tepat. Sedang bahagian yang besar
tidak dapat bersabar menahan dahaganya dan minumlah mereka dari air
sungai itu sepuas-puas hatinya.
Walaupun telah terjadi pelanggaran disiplin oleh sebahagian besar dari
anggota tenteranya, thalout tetap berkeras hati melanjutkan
perjalanannya menuju ke medan perang dg pasukan yang tidak bersatu
padu dan berdisiplin sebagaimana ia menduga dan mengharapkannya. Ia
hanya bersandar dan mengandalkan kekuatan tenteranya kepada bahagian
kecil yang sudah ternyata setia dan patuh kepada perintah dan
petunjuknya. Sedang terhadap mereka yang sudah melanggar perintahnya
dan minum dari air sungai itu, Thalout bersikap sabar, lunak dan
bijaksana untuk menghindari keretakan di dalam barisan tenteranya
sebelum menghadapi musuh.
Tatkala mereka tiba di medan perang dan berhadapan dengan musuh,
sebahagian drp pasukan Thalout ialah mereka yang telah melanggar
disiplin dan minum dari air sungai, merasa kecil hati dan ketakutan
melihat pasukan musuh yang terdiri dari orang-orang kuat dan
besar-besar dengan peralatan yang lebih lengkap dan jumlah tentera yang
lebih besar di bawah pimpinan seorang komandan bernama "Jalout".
Jalout, panglima komandan pasukan musuh terkenal seorang panglima yang
berani, cekap dan terkenal tidak pernah kalah dalam peperangan. Tiap
orang yang berani bertarung dengan dia pasti jatuh terbunuh. Namanya
telah menimbulkan rasa takut dan kecil hati pada bahagian besar dari
pasukan Thalout. berkata mereka kepadanya: "Kami tidak berdaya dan
tidak akan sanggup menghadapi dan melawan Jalout berserta tenteranya
hari ini. Mereka lebih lengkap peralatannya dan lebih besar
bilangannya daripada pasukan kami."
Akan tetapi kelompok yang setia yang merupakan golongan yang kecil
dalam pasukan Thalout, tidak merasa takut dan gentar menghadapi Jalout
dan bala tenteranya, walaupun mereka lebih besar dan lebih lengkap
peralatannya karena mereka keluar ke medan perang mengikuti Thalout
dengan tekad yang bulat hendak membebaskan negerinya dari para
penyerbu dengan berbekal tawakkal dan iman kepada Allah. Sejak mereka
melangkahkan kaki keluar dari rumah mereka sudah berniat bulat
berjuang bermati-matian melawan musuh yang telah merampas rumah dan
tanah mereka dan bersedia mati untuk tugas suci itu. Berkata mereka
kepada kawan-2nya kelompok pengecut itu: "Majulah terus untuk
bertempur melawan musuh. Kami tidak akan kalah karena bilangan yang
sedikit atau kerana kelemahan fizikal. Kami akan menggondol kemenangan
bila iman di dalam dada kami tidak tergoyahkan dan kepercayaan kami
akan pertolongan Allah tidak menipis. Berapa banyak terjadi sudah,
bahwa kelompok yang kecil jumlahnya mengalahkan kelompok yang besar,
bila Allah mengizinkannya dan memberikan pertolongan-Nya. Dan Allah
selalu berada di sisi orang-orang yang beriman, sabar dan bertawakkal."
Dengan tidak menghiraukan kasak-kusuk dan bisikan kelompok pengecut
yang ingin mundur dan melarikan diri dari kewajiban berperang, Raja
Thalout terus maju memimpin pasukannya seraya bertawakkal kepada Allah
memohon pertolongan dan perlindungan-Nya.
Setelah kedua pasukan merapat berhadapan satu dengan yang lain dan
pertempuran dimulai, keluarlah dari tengah-2 barisan bangsa Palestin,
panglima besarnya yang bernama Jalout berteriak dengan sekuat suaranya
menentang pasukan Thalout mengajak bertarung seorang lawan seorang
Berulang-ulang ia berseru dengan suara yang lantang agar pihat Thalout
mengeluarkan seorang yang akan melawan dia bertanding dan bertarung
namun tidak seorang pun keluar adri tengah pasukan Bani Isra'il
menghadapinya. Kata-kata ejekan dan hinaan dilontarkan oleh Jalout
kepada pihak musuhnya, pasukan Bani Isra'il yang sedang dicekam oleh
rasa takut dan bimbang menghadapi Jalout yang sudah termasyur sebagai
jaguh yang tidak pernah terkalahkan itu.
Pada saat yang kritis dan tegang itu di mana rasa malu rendah diri
memenuhi dada dan hati para pemimpin pasukan Bani Isra'il yang sedang
memandang satu kepada yang lain, seray bertanya-tanya dalam hati
masing-2 gerangan siapakah di antara mereka yang dapat maju membungkam
,ulut si Jalout yang berteriak-teriak itu dan melawannya, datanglah
pada saat itu menghadap raja Thalout seorang lelaki remaja berparas
tampan, bertubuh kekar dan tegak, sinar matanya memancarkan keberanian
dan kecerdasan. Ia meminta izin dari sang raja untuk keluar menyambut
tentangan Jalout dan menandinginya.
Thalout merasa kagum akan keberanian pemuda yang telah menawarkan
dirinya untuk bertarung dengan Jalout, sementara orang-orang dari
pasukannya sendiri yang sudah berpengalaman berperang tidak ada yang
tergerak hatinya untuk menyahut cabaran Jalout yang berteriak-teriak
melontarkan ejekan dan hinaan. Thalout dengan cermat memperhatikan
perawakan sang pemuda itu merasa berat dan ragu-ragu untuk memberi
izin kepadanya turun ke gelanggang melawan Jalout. Ia tidak
membayangkan seorang dalam usia semuda itu, yang belum pernah turun ke
medan perang dan tiak berpengalaman bertarung akan selamat dan keluar
hidup dari pertarungan melawan Jalout. Ia benar-benar bukan
tandingannya, kata hati Thalout, bahkan merupakan suatu dosa bila ia
melepaskan pemuda itu bertarung dengan Jalout. Sayang bagi usianya
yang masih muda itu bila ia akan menjadi korban dan makanan pedang
Jalout yang tidak pernah memberi ampun kepada lawan-lawannya.
Sang pemuda dengan memperhatikan roman muka Thalout dapat menangkap
isi hatinya bahwa ia ragu-ragu dan bimbang untuk melepaskannya
bertarung dengan Jalout maka berkatalah ia kepadanya: "Janganlah
engkau terpengaruh oleh usia mudaku dan keadaan fizikalku yang
menjadikan engkau ragu-ragu dan khuatir melepaskan aku melawan Jalout
karena yang menentukan dalampertarungan bukanlah hanya kekuatan
fizikal dan kebesaran badan akan tetapi yang lebih penting dari itu
ialah keteguhan hati dan keuletan bertempur serta iman dan kepercayaan
kepada Allah yang menentukan hidup matinya seseorang hamba-Nya.
beberapa hari yang lalu aku telah berhasil menangkap seekor singa dan
membunuhnya tatkal ia hendak menyergap dombaku dan sebelum itu terjadi
pula aku menghadang seekor beruang yang ganas dan berhasil membunuhnya
setelah bergulat mati-matian. Maka bukanlah usia atau kekuatan badan
yang merupakan faktor yang menentukan dalam pertempuran tetapi
keberanian dan keteguhan hati serta kelincahan dan kecepatan bergerak
dengan disertai perhitungan yang tepat, itulah merupakan senjata yang
lebih ampuh dalam setiap pertarungan."
Mendengar kata-kata yang penuh semangat yang keluar dari hati yang
ikhlas dan jujur sedarlah Thalout bahawa pemuda itu berkemahuan keras
ingin melawan Jalout. Ia percaya kepada dirinya sendiri bahwa ia dapat
mengalahkannya maka diberinyalah izin dan restu oleh Thalout untuk
melaksanakan kehendaknya dengan diiringi doa semuga Allah melindunginya
dan mengurniainya dengan kemenangan yang diharap-harapkan oleh
seluruh anggota pasukan. Kemudian ia diberinya pedang, topi baja dan
zirah baju besi namun ia enggan mengenakan pakaian yang berat itu dan
pedang pun ia menolak untuk membawanya dengan alasan ia belum biasa
menggunakan senjata itu. Ia hanya membawa sebuah tongkat beberapa batu
kerikil dan sebuah bandul untuk melemparkan batu-batu itu.
Berkatalah Thalout kpanya: "Bagaimana engkau dapat bertarung dengan
hanya bersenjatakan tongkat, bandul dan batu-batu melawan Jalout yang
bersenjatakan pedang, panah dan berpakaian lengkap?"
Pemuda itu menjawab: "Tuhan yang telah melindungiku dan taring singa
dan kuku beruang akan melindungiku pula dari pedang dan panah Jalout
yang durhaka itu." Lalu dengan berbekalkan senjata yang sgt sedrhana
itu, keluarlah ia dari tengah-2 barisan Bani Isra'il menuju gelanggang
di mana Jalout sedang menari-nari mengelu-elukan pedangnya seraya
berteriak-teriak mengejek dan menyombangkan diri.
Tatkala Jalout melihat bahwa yang masuk gelanggang hendak bertanding
dengan dia adalah seorang pemuda remaja tidak bersenjatakan pedang
atau panah dan tidak pula mengenakan topi baja dan zirah, dihinalah ia
dan diejek dengan kata-kata: "Utk apakah tongkat yang engkau bawa
itu."Utk mengejar anjingkah atau untuk memukul anak-anak yang sebaya
dengan engkau? Di mana pedangmu dan zirahmu? Rupa-rupanya engkau sudah
bosan hidup dan ingin mati padahal engkau masih muda yang belum
merasakan suka-dukanya kehidupan dan yang masih harus banyak belajar
dari pengalaman. Majulah engkau ke sini akan aku habiskan nyawamudalam
sekelip mata dan akan kujadikan dagingmu makanan yang lazat bagi
binatang-2 di darat dan burung-2 di udara."
Sang pemuda menjawab: "Engkau boleh bangga dengan zirah dan topi
bajamu, boleh merasa kuat dan ampuh dengan pedang dan panahmu yang
tidak akan sanggup menyelamatkan nyawamu dan tanganku yang masih halus
dan bersih ini. Aku datang ke sini dengan nama Allah Tuhan Bani
Isra'il yang telah lama engkau hina, engkau jajah dan engkau
tundukkan. Engkau sebentar lagi akan mengetahui pedang dan panahkah
yang akan mengakhiri hayatku atau kehendak Allah dan kekuasaan-Nya
yang akan meranggut nyawamu dan mengirimkan engkau ke neraka
Jahannam?"
Melihat Jalout melangkah maju, maka sebelum ia sempat mendekatinya,
sang pemuda segera mengeluarkan batu dari sakunya, melemparkannya
dengan bandul tepat ke arah kepala Jalout yang seketika itu juga
mengalirkan darah dengan derasnya hingga menutupi kedua matanya, lalu
diikuti dengan lemparan batu kedua dan ketiga oleh sang pemuda hingga
terjatuhlah Jalout tertiarap di atas lantai menghembuskan nafas
terakhirnya.
Bergemuruhlah suara teriakan gembira dan sorak-sorai dari pihak
pasukan Bani Isra'il menyambut kemenangan pemuda gagah perkasa itu atas
Jalout jaguh dan kebanggaan bangsa Palestin. Dan dengan matinya
Jalout hilanglah semangat tempur pasukan Palestin dan mundurlah mereka
melarikan diri tunggang-langgang seraya dikejar dan diajar tanpa
ampun oleh pasukan Thalout yang telah memperoleh kembali semangat
juangnya dan harga diri serta kebanggaan nasionalnya.
Isi cerita di atas dikisahkan oleh Al-Quran dalam surah "Al-Baqarah" ayat 246 sehingga 251 yang bermaksud :~
"246~ Apakah kamu tidak memperhatikan pemuka-pemuka Bani Isra'il
sesudah Nabi Musa, yaitu ketika mereka berkata kepada seorang Nabi
mereka: "Angkatlah untuk kami seorang raja supaya kami dapat berperang
{di bawah pimpinannya} di jalan Allah." Nabi mereka berkata: "Mungkin
sekali jika kamu nanti diwajibkan berperang, kamu tidak akan
berperang`." Mereka menjawab : "Mengapa kami tidak mahu berperang di
jalan Allah, padahal sesungguhnya kami telah diusir dari kampung
halaman kami dan dari anak-anak kami?" Maka tatkala perang itu
diwajibkan atas mereka, mereka pun berpaling, kecuali beberapa orang
saja di antara mereka. Dan Allah Maha Mengetahui akan orang-orang yang
zalim. 247~ Nabi mereka mengatakan kepada mereka: "Sesungguhnya Allah
mengangkat Thalout menjadi rajamu." Mereka menjawab: "Bagaimana
Thalout memerintah kami padahal kami lebih berhak mengendalikan
pemerintahan daripadanya, sedang dia pun tidak diberi kekayaan yang
cukup banyak?" Nabi mereka berkata: "Sesungguhnya Allah telah
memilihnya menjadi rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan
tubuh yang perkasa." Allah memberi pemerintahan kepada siapa yang
dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha
Mengetahui. 248~ Dan Nabi mereka mengatakan kepada mereka:
"Sesungguhnya tanda ia akan menjadi raja ialah kembalinya tabout
kepadamu di dalamnya terdapat ketenangan dari Tuhanmu dan sisa dari
peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun tabout itu dibawa oleh
malaikat. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda bagimu
jika kamu orang yang beriman. 249~ Maka tatkala Thalout ke luar
membawa tenteranya ia berkata: "Sesungguhnya Allah akan menguji kamu
dengan satu sungai. Maka siapa di antara kamu meminum airnya, bukanlah
ia pengikutku. Dan barangsiapa tidak merasakan airnya kecuali orang
yang hanya menciduk seciduk tangan, maka ia adalah pengikutku."
Kemudian mereka meminumnnya terkecuali beberapa orang di antara
mereka. Maka tatkala Thalout dan orang-orang yang beriman bersama dia
telah menyeberangi sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata:
"Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalout dan
tenteranya." Orang-orang yang menyakini bahwa mereka akan menemui
jalan Allah berkata: "Berpa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat
mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah dan Allah berserta
orang-orang yang sabar. 250~ tatkala Jalout dan tenteranya telah nampak
oleh mereka, mereka pun berdoa: "Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran
atas diri kami dan kukuhkanlah pendirian kami dan tolonglah kami
terhadap orang-orang kafir." 251~ Mereka {tentera Thalout} mengalahkan
tentera Jalout dengan izin Allah dan {dalam peperangan itu} Daud
membunuh Jalout, kemudian Allah memberikan kepadanya {Daud}
pemerintahan dan hikmah {sesudah meninggalkan Thalout} serta Allah
mengajarkan kepadanya apa yang dikehendaki-Nya." { Al-Baqarah : 246 ~
251 }
